Aceh Negeri 1001 Cobaan

0
14

MENYIKAPI berbagai permasalahan dan musibah yang telah dialami masyarakat Aceh, sebenarnya sempat membuat saya bingung harus menggunakan istilah cobaan atau bencana. Namun akhirnya, saya lebih tertarik dan merasa lebih cocok menggunakan kata-kata cobaan dibandingkan dengan bencana. Bencana yang terlalu diidentikkan dengan malapetaka dan kecelakaan rasanya agak kurang tepat untuk ditempatkan di sini. Berbeda halnya dengan cobaan, di mana kita di Aceh memang telah ditimpa dan ditempa oleh 1001 cobaan itu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa defenisi dari cobaan adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah adalah semata-mata untuk menguji kekuatan iman, ketabahan dan ketaqwaan hamba-Nya (KBBI, 1999). Jadi, tidak salah kalau kita mengatakan bahwa semuanya adalah cobaan Allah. Dengan menimbang latar belakang keimanan rakyat Aceh yang dominan masih beriman kepada Allah. Baik cobaan dalam bentuk kemiskinan, alam yang tidak lagi bersahabat, cobaan kekusaan, bahkan cobaan politik menjelang pesta rakyat pemilu legislatif 9 April 2014 lalu.

Belum lekang ingatan kita terhadap terjadinya cobaan besar terhadap rakyat Aceh, tsunami pada 26 Desember 2004 yang telah menelan banyak korban serta menyebabkan anak menjadi yatim piatu, para istri yang kehilangan suami mereka. Bahkan tidak sedikit banyak rakyat Aceh yang harus kehilangan tempat tinggal mereka. Demikian juga halnya cobaan lain yang harus dilalui rakyat Aceh, gempa bumi, banjir bandang, dan kekeringan panjang, hampir seluruh rakyat Aceh merasakannya beberapa waktu yang lalu. Ini jelas-jelas cobaan besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.

Mengingat mayoritas rakyat Aceh merupakan orang-orang yang masih mempercayai adanya Allah, namun terkadang kita lupa dan lalai terhadap perintah Allah. Jadi wajar-wajar saja Allah mengirimkan cobaannya hanya untuk mengingatkan hamba-Nya agar kembali mengingat Allah. Namun, juga tidak dapat dipungkiri bahwa cobaan ini pula tidak terlepas dari ulah kita sendiri, sesuai dengan firman Allah Swt: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum:41).

 Kesalahan kita
Sesuai dengan ayat tersebut juga, kita diharuskan bersikap dengan benar dalam mengelola alam, walaupun dalam hal sekecil apa pun. Timbulnya opini yang pernah ditulis oleh Muhadzdzier M Salda tentang adanya “caleg pohon” tidak dapat dipungkiri sebagai satu kesalahan kita manusia dalam menjaga lingkungan. Kita harus tetap ingat bahwa di dunia ini bukan hanya manusia saja makhluk Allah. Kita semua juga tahu bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia dibandingkan makhluk lainnya.

Oleh karena itulah, sepatutnya kita sebagai pemimpin yang telah diberikan hak untuk memimpin bisa bijaksana dalam melakukan dan memutuskan sesuatu. Disebabkan kita tidak bisa lepas tangan dan harus bisa mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita. Cobaan selanjutnya bisa kita identifikasi dengan adanya perebutan “kursi panas” yang dilakukan oleh elite-elite politik kita, tidak jarang perpecahan, pertikaian, bahkan sampai pertumpahan darah terjadi akibat perhelatan politik ini. Sebagai satu contoh, kasus pembunuhan caleg Partai Amanat Nasional Aceh (PNA) dengan tembakan (Serambi, 4/3/2014).

Cobaan tersebut benar-benar dirasakan oleh para elite politik tersendiri, bahkan juga menimbulkan rasa trauma terhadap rakyat sipil, seolah kembali menjalani kehidupan kelam sembilan tahun yang lalu. Dari sini seolah-olah kita melihat fakta sekarang bagaikan hidup dalam hukum rimba. Inilah realitanya, padahal kalau dikaji lebih dalam, sebenarnya Allah telah memberikan wewenang bahkan kesempatan bagi kita untuk mencari pemimpin dengan cara yang baik. Namun lagi-lagi rasanya Allah memberikan kita cobaan, cobaan “kekuasaan” tentunya.

Sepatutnya kita sebagai orang yang “sedang” ataupun “akan” berkuasa memberikan teladan yang baik kepada masyarakat. Tidak diminta pun masyarakat akan tetap memilih kita jika kita bersikap sportif dan tanpa kekerasan dan pemaksaan tentunya. Tidak teringatkah kita kepada para khulafaur rasyidin yang tidak pernah berambisi memiliki kekuasaan, tapi malah sangat didukung oleh umat Islam untuk menjadi khalifah.

Jika kita tinjau lebih jauh, sebenarnya cobaan yang diberikan Allah sangatlah berkaitan. Semua yang dialami manusia adalah akibat perbuatannya sendiri. Menyikapi kondisi ini, seorang teman pernah curhat melalui satu pesan pendek (SMS) kepada saya: “Suhu panas dan kekeringan yang dirasakan oleh orang Aceh adalah salah satu akibat suhu politik di Aceh yang juga sedang memanas”. Ini merupakan satu isyarat dan teguran Allah sebagai Penguasa alam semesta, agar kita sadar dan kembali membenahi diri.

Sebenarnya bukan ingin bernostalgia dengan sejarah, hanya saja, dengan melihat Aceh sebelumya yang merupakan negeri yang latar belakang keimanannya sangat kuat walaupun dipenuhi dengan berbagai kemajuan. Sebagaimana digambarkan bahwa Aceh pada abad 16-17 sebagai negara yang termasuk dalam lima negara terkuat di dunia, kuat ekonominya, kuat politiknya, solid persatuannya. Padahal, Aceh pada saat itu semua ilmu-ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat baik sebagai sebuah keluarga maupun sebagai tokoh-tokoh yang akan memimpin negara telah ditawarkan oleh lembaga pendidikan ketika itu yang masih semua berbentuk dayah (M. Hasbi Amiruddin, 2013).

 Bagaimana sekarang?
Sejarah yang dialami bangsa Aceh sebelumnya patut diacungi jempol, berperadaban tinggi, struktur pemerintahannya yang teratur dan stabil. Mereka dengan segala kesederhanaannya mampu menemukan kedamaian dan ketenteraman dalam hidupnya. Bagaimana dengan sekarang? Aceh yang saat ini punya banyak sarjana dan ilmuwan, haruskah kita menyia-nyiakan ilmu yang telah kita miliki itu? Kita harus berani bangkit dari keterpurukan, berani mengubah sikap kita yang mungkin terlalu tamak dan serakah terhadap dunia. Akibatnya, tanpa kita sadari pada akhirnya hanya akan membawa akibat buruk terhadap kita, bahkan tak jarang imbasnya juga ikut dirasakan orang lain.

Terlepas dari uraian di atas, saya juga merasa tertarik sekali dengan ungkapan Al-Mukarram Syeikh Abu H Hasanoel Bashry (Abu Mudi), di sela-sela pengajiannya di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh beberapa waktu lalu: “Manusia yang hidup tanpa diberikan cobaan oleh Allah, adalah bagaikan seorang murid yang tidak pernah diperintahkan untuk mengikuti ujian oleh gurunya.” Bisa kita bayangkan, betapa hamparnya jika harus hidup seperti itu. Jadi, tetap bersabar menghadapi cobaan Allah tanpa melupakan untuk terus memperbaiki diri dan menemukan kesalahan dalam diri kita. Karena kecerdasan seseorang juga berarti kemampuan kita untuk belajar dari pengalaman.

Artinya, orang cerdas adalah orang yang selalu belajar dari kesalahan dan kegagalan yang dialaminya. Berbagai kesulitan, cobaan yang menerpa tidak mengharuskan kita untuk berputus asa, merasa terpuruk, apalagi menyerah dengan keadaan. Cobaan ini semestinya menjadi cambuk bagi kita untuk bangkit dan mengambil hikmah terhadap apa yangg telah Allah berikan. Marilah kita bercermin ke dalam diri masing-masing agar sama-sama kita menyadari bahwa semua penderitaan dan kebahagian sebenarnya berasal dari kita sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita mencari jalan keluar terhadap permasalahan dan cobaan yang telah kita rasakan selama ini dengan berkaca diri agar tidak lupa diri, selamat dari kehancuran karena aniaya diri sendiri. Dan terakhir, mari sama-sama kita jadikan Aceh ini sebagai ”Negeri 1001 Rahmat” , bukan malah sebaliknya. Wallahu a’lam bisshawab. Oleh Minarni Muniruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here