Budi Djarot Ajak Arek Surabaya Tolak Referendum

0
22

Surabaya, restorasihukum.com – Catatan dari sarasehan kebangsaan, menangkal radikalisme & intoleransi. PANCASILA RUMAH KITA BERSAMA. Tidak ada toleransi sedikitpun bagi yang menggangu Pancasila !

Menghadirkan narasumber tingkat nasional.

  1. Sukmawati Soekarnoputri, (budayawati, putri penggali Pancasila Bung Karno).
  2. Boedi Djarot, (Sekjen Presedium Nasional Gerakan Jaga Indonesia – GJI).
  3. Agus Edi Santoso, SH (Mantan Presedium GMNI-Tokoh PRODEM-Soekarnois, Aktifis 98).

Meskipun dua narasumber, Jend. TNI (Purn) Dr. H. Moeldoko, S.Ip (Staf Khusus Presiden) dan Prof.Dr. Akh. Muzakki (Sekretaris Pengurus Wilayah NU-PWNU Jatim), berhalangan hadir tetap tidak mengurangi semangat panitia dan peserta sarasehan.

Menurut Amirudin, ketua panitia sekaligus ketua Gerakan Benteng Kebangsaan (GBK), penyelenggara sarasehan ini bertujuan menterjemahkan sikap Presiden Republik Indonesia, H.Ir. Djoko Widoko dengan sikapnya yang tegas.

“Pancasila adalah rumah kita bersama, rumah bersama kita sebagai saudara sebangsa ! Tidak ada toleransi sedikitpun bagi yang mengganggu Pancasila ! Yang mempermasalahkan Pancasila ! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak mau ber-Bhinneka Tunggal Ika ! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak menghargai penganut agama lain, warga suku lain, dan etnis lain …. ”

“Dengan garis Presiden seperti tersebut di atas, kami sebagai kaum nasionalis merasa terpanggil menterjemahkan dalam bentuk sikap maupun tindakan. Maka terselenggara sarasehan ini yang dihadiri kaum nasionalis yang dulunya sama sama dalam pergerakan mahasiswa GMNI,” tutur Amirudin ketua panitia Sabtu, 31 Agustus 2019 di gedung pertemuan kampus STIEUS Jl. Urip Sumoharjo No. 5 – 7 Surabaya.

Bahkan semangat panitia untuk tetap menyelenggaran sarasehan ini, patut diacungi jempol. Niat awal acara ini digelar di hotel Elmi. Karena ada penyandang dana yang ingkar janji, seluruh pemesanan di hotel tersebut dibatalkan.

Akibatnya, seluruh panitia kalangkabut karena semua narasumber sudah siap hadir, paling sedikit 200 undangan sudah sudah beredar.

Menurut Amir, panggilan akrab Ketua panitia ini, acara bisa diselamatkan meskipun terpaksa harus menggeser tempat penyelenggaraan.
Bahkan penggeseran tempat penyelenggaraan ini tercatat hingga 3 kali. Dan Alhamdulillah terselenggara di gedung pertemuan kampus STIEUS.

Tolak Referendum
Boedi Djarot, tokoh nasionalis yang kini telah mencapai usia 60 tahun ini, mengaku akan menghibahkan sisa hidupnya untuk negara kesatuan Republik Indonesia dari ancaman dan rong rong yang ingin merubah indiologi kita Pancasila.

Menurut Boedi Djarot, tema sarasehan ini yang mempertegas menangkal radikalisme & intoleran sangat menarik.

Munculnya aksi radikal akhir akhir ini, setelah Indonesia memasuki era reformasi yang dilakukan oleh kelompok penganut agama merupakan sikap, menurut Boedi Djarot karena faktor genetik dan idiologi keliru.

Bahkan ada upaya merubah idiologi negara dengan kilafah. Meskipun HTI sudah dibubarkan, Pancasila hingga hari ini dalam ancaman.

“Perlu kita pahami Pancasila adalah sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai Ideologi bangsa,” tutur Boedi Djarot saat menjadi narasumber.

Lebih jauh dia menguraikan, Pancasila sebagai dasar negara berarti Pancasila sebagai sumber hukum. Maka untuk pengamanan negeri ini apabila terjadi kekisruhan adalah tanggungjawab TNI dan POLRI. Dicontohkan dengan petistiwa yang terjadi di Papua saat ini TNI dan POLRI harus turun mengaman negara dan melakukan tindakan hukum.

Pancasila sebagai indiologi bangsa , adalah wajib bagi bangsa ini untuk melaksanakan dalam kehidupan sehari hari. Berarti Pancasila dijadikan gaya hidup.

Boedi Djarot menyebutkan, dengan Djokowi menjadi Presiden dia telah mampu menterjemahkan gagasan Bung Karno. Karena Bung Karno mengajak bangsa bangsa luar yang sepaham denga Indonesia, tidak perlu ikut ikutan blok barat dan blok timur. Indonesia punya blok sendiri yang disebut blok maritim . Maka sejak orde baru hingga saat ini baru pemetintahan saat ini memiliki mentri Kemaritiman.

Bahkan setelah pil pres, ada pihak pihak yang sengaja mau Mengajukan referendum. Benar referendum ini dilakukan ancaman bagi Indonesia.
Maka dia mengajak arek arek Surabaya menolak referendum. Karena, ketika referendum diajukan dan diterima, maka hancurlah Indonesia. Papua akan lepas menjadi negara sendiri.

Kalau hal ini terjadi tertawalah kelompok sekutu. Ajakan hingga profokasi terjadinya referendum sangat diinginkan oleh negeti Paman Sam, karena Presiden Djoko Widodo telah berhasil mengembalikan Priport.

Peristiwa Priport ini yang akhirnya bisa menjatuhkan Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno dari jabatan presiden.

Mengapa ini terjadi ? Awalnya Bung Karno melakukan kunjungan ke Amerika ketemu presiden Kenedy, dari pertemuan tersebut diketahuilah ada kerjasama membangun tambang emas di Papua.

Agaknya perjanjian proyek besar ini, diketahui oleh kelompok mafia besar di Amerika dan akhirnya presiden Kenedy mati tertembak, yang diduga adalah kelompok mafia tersebut.

Tidak hanya itu, ada kelompok lain juga yang menjatuhkan Bung Karno dari kursi kepresidenan.

“Maka ketika Presiden Djokowi berhasil mengembalikan Priport ke pemerintah Republik Indonesia, kini ada saja upaya untuk memisahkan Papua dari kedaulatan Indonesia. Hal ini kalau dibiarkan dan treferendum benar terjadi Indonesia akan terpecah belah menjadi negara negara kecil,” tegas Boedi Djarot mengajak arek Surabaya menolak referendum.

Selanjutnya, Amir selaku ketua GBK bulan Oktober dia akan menggelar acara yang sama, memperingati Sumpah Pemuda.
(udik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here