Redaksi

Redaksi

Jumat, 15 Agustus 2014 08:47

Malang restorasihukum.com - Tindak pidana asusila di Kabupaten Malang terus terjadi. Joko Mulyono (44), warga Dusun Gombyong, Desa Dawuhan, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang terpaksa ditahan di Mapolres Malang.
     Joko diamankan petugas usai berbuat cabul dan mesum terhadap KH (29). Padahal KH masih tetangganya sendiri. Wanita dengan 4 orang anak itu berteriak setelah Joko meraba-raba payudara dan alat kemaluannya. Saat kejadian pada Jumat (8/8/2014) lalu, suami KH tidak ada dirumah.
     "Pelaku kita jerat dengan Pasal 289 jo 281 KUHP tentang perbuatan cabul serta melanggar kesopanan dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara," ungkap Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Reskrim Polres Malang, Iptu Sutiyo SH.Mhum, Kamis (14/8/2014) siang.
      Pada RHN, Sutiyo menjelaskan, perbuatan pelaku dilakukan di rumah korban. "Korban didatangi pelaku. Pelaku sempat memerintahkan korban merendam celana dalam, sperma, rambut kemaluan ke dalam air. Air itu lantas diminum. Alibi pelaku, dengan cara itu korban bisa keluar dari berbagai permasalahan hidup," katanya.
      Sementara itu, Joko saat diperiksa penyidik membenarkan jika KH sempat diminta merendam celana dalam. Usai merendam celana dalam, pelaku meraba-raba payudara korban. "Saya khilaf pak. Saya masuk rumah KH pukul sebelas malam. Korban teriak, saya akhirnya ditangkap warga," terang Joko.
      Joko juga berdalih jika dirinya mendatangi korban karena diminta ke rumah korban. Korban di rumah dengan 4 anaknya. "Sejak sore KH SMS ke saya. Tanya kapan anaknya masuk ke pondok. Saya jawab hari Senin, saya khilaf pak," tandasnya

Jumat, 15 Agustus 2014 08:35

BOGOR restorasihukum.com - Bangunan liar di Jalan Sentul Kelurahan Nanggewer Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor dibongkar paksa petugas Satpol PP Kabupaten Bogor. Bangunan tersebut melanggar aturan karena berdiri di atas trotoar dan menutup aluran air.
      Puluhan petugas Satpol PP menyisir sepanjang Jalan Sentul dan menemukan beberapa bangunan liar yang digunakan untuk usaha. Dengan menggunakan alat seadanya, petugas membongkar bangunan yang sebagian besar bermaterial kayu dan seng.
     Namun, saat melakukan pembongkaran, salah seorang pemilik bangunan liar, Muhamad Nurdin merasa keberatan. Ia mengaku sudah membayar iuran setiap bulan ke aparat. "Kita ngasih duit Rp30 ribu per bulan, rokok juga kalau mereka lagi patroli. Kadang-kadang sebulan bisa dua kali patroli," katanya saat penertiban, Kamis (14/8/2014). Ia juga mengaku sering didata oleh petugas Satpol PP dan akan mendapat informasi bila akan ada penertiban.
     Komandan Kompi Dalop Satpol PP Kabupaten Bogor, Awan S mengatakan iuran setiap bulan yang setorkan pemilik bangunan liar bukan dipungut petugas Satpol PP. "Kalau pun ada itu adalah oknum," tuturnya. Ia membeberkan, bangunan liar tersebut dibongkar karena melanggar peraturan tata bangunan, mendirikan bangunan di atas saluran irigasi dan soal ketertiban.
    "Kami juga membongkar bangunan yang menutup trotoar. Nanti para pemilik bangunan Senin diminta untuk menghadap Kasatpol PP. Untuk sementara kami hanya membongkar bangunannya saja," tuturnya.

Jumat, 15 Agustus 2014 08:27

Jakarta restorasihukum.com - Dua perwira Polri yang bertugas di Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat ditangkap Pengamanan Internal (Paminal) Polri terkait dugaan penerimaan suap dari bandar judi online hingga miliaran rupiah. Kasubdit IV Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Polri Kombes Pol Yudhiawan mengatakan, pihaknya menerima limpahan dari Biro Paminal Wilayah Bogor, Jawa Barat. 
     "Di sana ditemukan dugaan suap yang terkait dugaan pidana tindak pidana perjudian internet (online) oleh tersangka AKBP MK selaku Kasubdit III dan AKP DS selaku Panit II Subdit III Ditreskrimum Polda Jawa Barat," kata Yudhiawan dalam keterangan pers, di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (14/8/2014). Dia menerangkan, kejadian berawal pada 17 Juni 2014 saat Penyidik Subdit III Ditreskrimum Polda Jabar telah memblokir beberapa nomor rekening bank yang diduga terkait proses penyidikan tindak pidana judi online. 
     "Kemudian pada 23 Juli di lapangan parkir Polda Jabar diduga telah terjadi korupsi dengan penerimaan uang Rp60 juta yang dilakukan oleh AKP DS dan kawan-kawan yang diberikan oleh saudara AI (bandar judi)," jelasnya. Uang tersebut, lanjut Yudhiawan, merupakan imbalan atas pembukaan dua rekening yang terkait tindak pidana judi online. "Ternyata itu penerimaan tahap ketiga. Sebelumnya sudah ada dua kali penerimaan uang dengan rincian Rp240 juta dan Rp70 juta," sambungnya. 
     Kemudian dalam peristiwa berbeda, AKBP MB diduga menerima suap senilai Rp5 miliar dari bandar judi berisial AD dan T. Uang imbalan tersebut diterima setelah berhasil membuka beberapa rekening bank yang sudah diblokir. 
     "AKBP MB menerima uang di Kota Wisata, Desa Ciangsana, Kabupaten Bogor, yang diduga sebagai imbalan atas tindakan pembukaan blokir rekening yang terkait dengan perkara judi online di Polda Jabar," tegas Yudhiawan. 
      Barang bukti yang berhasil disita dari tangan AKBP MB sebesar Rp5 miliar dan USD168 ribu. Sedangkan dari tangan AKP DS berhasil disita uang tunai Rp370 juta dan dokumen-dokumen terkait penanganan judi online.  "Terhadap tersangka AKBP MB telah dilakukan penahanan selama 20 hari sejak 12 Agustus 2014, bertempat di Rutan Bareskrim Polri," tuturnya.
     Keduanya dikenakan Pasal 11 dan 12 Huruf (a) dan (b) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 junto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 dan Pasal 64 KUHPidana.( Ar )

Kamis, 14 Agustus 2014 13:46

restorasihukum.com – Katarak, timbulnya selaput keruh pada lensa mata yang ditandai dengan gejala pandangan kabur, acap terjadi pada orang yang sudah berumur. Tapi jangan salah, katarak bisa terjadi pada anak-anak, bahkan di dalam kandungan, dari ibu yang terkena virus.
     Apa sebenarnya katarak? Katarak adalah gangguan pada indera penglihatan yang ditandai dengan keausan pada lensa mata. Lensa menjadi berselaput (keruh). Akibatnya, cahaya yang masuk ke dalam mata sulit mencapai retina sehingga terpencar dan pandangan menjadi kabur.
     Pada tahap awal, karena tidak menimbulkan rasa sakit, seseorang seringkali tidak menyadari dirinya menderita katarak. Tapi, katarak  yang dibiarkan terus berkembang hingga bertahun-tahun membuat lensa mata menjadi semakin keruh.  Biasanya menimpa kedua mata meskipun tidak langsung sekaligus.
     Apa saja gejala yang diderita? Penglihatan kabur seperti ada kabut yang mengalangi, penglihatan terganggu di saat gelap atau terang sekali, mata terlalu peka terhadap cahaya, lensa mata berubah menjadi buram, saat membaca perlu cahaya yang lebih terang, dan pandangan menjadi ganda.
     Sebenarnya apa yang menjadi penyebabnya? Pertambahan usia, biasanya terjadi pada usia 60 tahun ke atas. Katarak juga bisa terjadi pada anak-anak, bahkan bayi yang ketika masih di dalam kandungan, ibunya terinfeksi virus. Mata sering terkena paparan sinar matahari tanpa perlindungan, trauma pada mata yang mengenai lensa, faktor genetik (turunan), gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes, dan penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid dalam jangka panjang.
     Ini, yang bisa kita lakukan untuk menangani katarak. Melakukan pemeriksaan mata secara teratur, banyak mengonsumsi sayuran dan buah yang kaya vitamin A, C, dan E. Mengatur pencahayaan lampu untuk memperjelas penglihatan, dan kalau terasa mengganggu, hindari mengemudi pada malam hari.
     Segera hubungi dokter bila mendapati gejala-gejala seperti tadi, dan dokter akan melakukan hal-hal berikut ini. Memeriksa kondisi mata dengan biomikroskop yang diletakkan langsung di depan mata kita, katarak taraf awal akan diobati dengan obat tetes yang sifatnya tidak menyembuhkan tetapi memperlambat proses perkembangannya. 
     Bila katarak sudah mengganggu, dilakukan pembedahan. Dalam tindakan ini, lensa yang keruh diangkat lalu sebagai pengganti ditanamkan lensa intraokuler. Lamanya pembedahan biasanya tidak sampai satu jam. Setelah operasi, penglihatan berangsur-angsur akan semakin tajam. Tapi, pascaoperasi penderita perlu menjaga matanya agar tidak terkena infeksi.
     Katarak yang dibiarkan tanpa perawatan bisa menyebabkan komplikasi seperti glaukoma atau uveitis yang berakibat kebutaan.

Kamis, 14 Agustus 2014 13:25

SAMPANG restorasihukum.com – Terpidana kasus pencabulan anak di bawah umur, Abd Rahman (39), oknum PNS Pemkab Sampang, akhirnya dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Sampang, untuk menjalani hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan, Selasa (12/8/2014).

     Dijebloskannya Abd Rahman, warga Jl Merapi, Sampang ini, atas putusan kasasi Mahkamah Agung (MA), nomor 58/K/Pidsus/2014/10-Juli 2014, yang dikirim ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang, menguatkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Sampang dan Pengadilan Tinggi (PT) Jatim, karena terbukti mencabuli Bunga (4), bukan mana sebenarnya, anak tetangganya.

     Kepala Kejari Sampang, Abdullah melalui, Kasi Pidana Umum (Pidum), Agus Wicaksono, Selasa (12/8/2014) mengatakan, terpidana Abd Rahman ditangkap di salah satu rumah familinya, sekitara pukul 10.00, untuk menjalani eksekusi sesuat putusan MA. Dikatakan, kasus pencabulan ini dilakukan Abd Rahman, pada September 2013 lalu, sekitar pukul 19.00. Saat itu korban baru pulang mengaji di samping rumahnya. Kemudian terdakwa menggendong korban untuk diantar pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, terdakwa mencabuli korban dengan menggosok-gosokkan batang kemaluannya ke paha korban, hingga korban ejakulasi. Air mani terdakwa belepotan dip aha korban dan hanya sebagian yang dibersihkan menggunakan kain sarung terdakwa. Sampai di rumah korban menangis hingga mengundang kecurigaan ibunya. Lalu ibu korban curiga melihat air mani yang masih basah menempel di paha korban. Mendengar penuturan korban, jika dirinya dicabuli terdakwa, ibu korban melapor ke Polres Sampang.

    “Terpidana Abd Rahman melanggar pasal 2 Undang-Undang Perlindungan Anak. Tuntutan kami waktu sidang, selama 3 tahun. Namun putusan PN Sampang dan memvonis 1 tahun 6 bulan. Baik terpidana maupun kami sama-sama banding, hingga turun kasasi yang hukumannya tetap 1 tahun 6 bulan,” kata Agus Wicaksono.(Red)

Kamis, 14 Agustus 2014 13:08

Kediri restorasihukum.com - Seorang pemuda asal Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur berhubungan layaknya suami istri dengan siswi SMA hingga belasan kali. Pemuda yang mengaku sebagai pacar korban itu akhirnya dilaporkan ke polisi oleh orang tua korban dengan tuduhan pencabulan.
     Pemuda kurang ajar itu bernama Didik Suyitno (22). Pelaku telah dibekuk oleh petugas di rumahnya. Kini pemuda pengangguran ini tengah menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kediri.
     Kasus dugaan pencabulan gadis bawah umur terungkap saat orang tua korban memergoki pelaku dan korban sedang berhubungan layaknya suami istri di rumah sang gadis. Orang tua korban yang murka akhirnya membawa kasus itu ke ranah hukum.
     Kasubbag Humas Polres Kediri AKP Budi Nurcahyo mengatakan, kasus dugaan pencabulan gadis bawah umur, saat ini sedang ditangani unit PPA. Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku mengakui telah berhubungan intim dengan korban hingga belasan kali. "Pelaku berhasil kami amankan dari rumahnya. Pelaku ditangkap tanpa perlawanan. Setelah itu, kita bawa ke Mapolres Kediri. Kepada petugas, pelaku mengakui semua perbuatannya," kata AKP Budi Nurtjahjo, Kamis (14/8/2014).
     Didik Suyitno telah ditetapkan sebagai tersangka pencabulan gadis bawah umur. Didik mengaku telah berpacaran dengan korban sejak tiga bulan. Selama pacaran, ia dan korban relatif sering berhubungan layaknya suami istri karena rumah mereka berdekatan. Ia membantah tuduhan pencabulan karena yang ia lakukan didasari rasa suka sama suka.
     Saat ini tersangka terpaksa dikandangkan ke ruang tahanan kantor polisi, guna mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sementara korban mengalami trauma berat akibat hubungannya dengan pelaku terkuak dan menjadi konsumsi publik. Polisi bakal menjerat pelaku dengan undang undang perlindungan anak, ancamannya hukuman penjara selama 15 tahun.

Kamis, 14 Agustus 2014 12:53

DEPOK restorasihukum.com - Untuk kesekian kalinya tawuran pelajar terjadi antara SMK Panmas dan SMK Baskara, Depok. Tawuran yang terjadi pada Rabu 13 Agustus 2014 siang itu memakan korban, Wandi Setiawan, kelas 1 TAV SMK Baskara.  Wandi merupakan anak dari pasangan orangtua Komarudin dan Tihani warga Jalan H Dulwani 02/04 Kelurahan Bedahan, Kecamatan Bojongsari, Depok.
     Kapolsek Pancoranmas, Kompol Purwadi menegaskan, kasus sudah terungkap dan pelaku sudah ditangkap. "Pelaku sudah kita tangkap inisial SAP kelas 3 SMK Panmas, kita tangkap bersama tim Polres," tegasnya di Depok, Kamis (14/08/2014).
     Pagi ini, polisi juga menggelar razia di kedua sekolah untuk mengamankan senjata tajam yang barangkali dibawa di dalam tas mereka. Sementara korban sudah dimakamkan semalam. "Pagi ini kami sweeping di kedua sekolah, penyebabnya saling ledek, dan korban sudah dimakamkan semalam. Saya langsung datang ke rumah korban, dan untuk proses lebih lanjut kasus ditangani Unit Reskrim Polresta Depok," tuturnya.
     Kronologi kejadian, Wandi dan teman-temannya baru selesai mengikuti Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD) dan terlibat tawuran. Diduga, bentrokan tidak imbang karena jumlah siswa SMK Panmas lebih banyak, yaitu 30 anak sementara siswa SMK Baskara berjumlah 10 anak. Saat menghadap ke belakang, punggung Wandi kena bacok hingga bolong dan kehabisan darah.(Red)

Kamis, 14 Agustus 2014 08:50

Sidoarjo restorasihukum.com -  Diknas Kabupaten Sidoarjo belum mengambil sikap terkait kasus dugaan penamparan yang dilakukan guru IPS Inun Dianawati terhadap siswanya, Safirna Rosul Zakaria Bachri siswa kelas 8 SMPN 6 Sidoarjo. Diknas Kabupaten  Sidoarjo masih menunggu berita acara laporan secara tertulis dari Kepala Sekolah SMPN 6 Sidoarjo. 
     Laporan tersebut sebagai langkah agar Diknas Kabupaten Sidoarjo bisa memberikan wewenang kepada pihak sekolah memberikan arahan, ataupun sanksi jika sudah kelewat batas. Kepala Dispendik Sidoarjo Mustain Baladan mengatakan, Secara tertulis belum ada laporan dari pihak sekolah. "Kepala Sekolah SMPN 6 Sidoarjo Mariyati sudah klarifikasi tetapi secara lisan," terangnya kepada wartawan Rabu (13/8/2014).
     Mustain menambahkan, keterangan Mariyati, memang guru IPS yakni Inun Dianawati menyalahi aturan, tapi tidak menampar Rosul. "Inun itu "ngeplak" dengan tangan bagian luar," paparnya. Inun melakukan itu, dalihnya, karena siswa yang bersangkutan "ndablek" ( bandel ). Rosul  pernah melompat keluar lewat jendela saat pelajaran berlangsung.
    "Guru ada batas kesabarannya. Bu Inun melampiaskan kekesalannya dengan ngeplak dan diluar kontrol kesabaran. Itu yang tidak benar," tuturnya.
     Mustain menegaskan, atas kejadian itu, pihak sekolah sudah meminta maaf kepada siswa dan orang tuanya. Pihak sekolah sudah bertemu orang tua dan meminta maaf secara langsung. "Pihak sekolah saya harapkan memberikan bimbingan terhadap siswa yang dinilai membandel di sekolah. Sehingga kenakalan tidak terjadi. Para guru diharapkan juga bisa bersikap yang professional sesuai aturan pengajaran yang berlaku," jelas Mustain. ( Rd )