Jumat, 16 Maret 2018 02:56

RS MEDIROSSA 2 CIBARUSAH BEKASI DI DUGA LAKUKAN MAL PRAKTEK AKIBATKAN INFEKSI

Oleh: 
Beri rating berita ini
(0 votes)

Bekasi, restorasihukum.com -Kunjungan team Rajawalisiber.com ke Rumah Sakit (RS) Medirosa 2 Desa Sindang mulya kecamatan Cibarusah (rabu malam 14/03/2018) untuk besuk / menengok keluarga rekan yang tengah sakit dan dirawat diruang 208 rumah sakit tersebut “terusik” oleh rintihan kesakitan dari depan tempat keluarga rekan yang dirawat.

Adalah ibu S warga perumahan yang terletak bersebrangan dengan Rs Medirosa 2, tengah mengeluh akibat bengkak pada lengan kirinya “tidak, bukan ini penyebab ibu saya dirawat disini, tapi karena sakit dilambungnya, bengkak ini baru, setelah dipasangi infusan” ungkap warga Blok AP Puri Persada Indah Sindang Mulya Cibarusah itu “ibu saya baru 2 hari ini bengkak tangannya setelah dipasangi infusan sama perawat, udah berulang-ulang minta dipindah baru dech di pindah kekanan, tapi udah terlanjur bengkak” lanjutnya (Gambar photo)


“Kami ada pergantian shif tiap jam 07.00 WIB (pagi) dan jam 14.00 (siang) dan pasien pasti di cek/periksa tiap jam 09-10 lalu ada pemeriksaan cairan tiap jam 10-11, lalu jam 11 – 13 adalah jam besuk keluarga pasien, jadi jelasnya minimal 2 jam pasien kami cek/periksa oleh perawat kondisinya” ujar M Sobari SPoK staf/perawat perwakilan dari team management RS Medirosa 2 “beliau dinyatakan terkena infeksi plebitis yang mungkin disebabkan oleh kelalaian/kesembronoan pasien & keluarganya yang mundar-mandir ke toilet sehingga merubah dudukan jarum infus atau juga akibat perawat kami yang salah/tidak tepat meletakan jarum infus, jadi ini harus dipelajari dulu bu, perlu pemeriksaan atau penelitian lebih lanjut” papar M Sobari saat team bersama LSM PENJARA (Pemantau Kinerja Aparatur negara) mengkonfirmasi kamis 15/03/2018

Phlebitis adalah kondisi ketika pembuluh darah vena mengalami inflamasi atau peradangan. Peradangan ini dapat menyebabkan nyeri dan bengkak. Ada dua set vena pada setiap lengan dan tungkai kita. Yang pertama adalah yang berada langsung di bawah kulit, dan yang kedua terletak lebih dalam.

Phlebitis adalah infeksi nosokomial, merupakan infeksi yang didapat pasien setelah 3×24 jam dilakukan perawatan. Infeksi nosokomial flebitis berkaitan dengan tindakan invasif, seperti pemasangan infus.

Plebitis adalah iritasi vena oleh alat IV, obat-obatan, atau infeksi yang ditandai dengan kemerahan, bengkak, nyeri tekan pada sisi IV.(Weinstein, 2001)

Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena. (La Rocca, 1998)

Terapi interavena adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin kedalam tubuh pasien. Infeksi dapat menjadi komplikasi utama dari terapi intra vena ( IV ) terletak pada system infus atau tempat menusukkan vena (Darmawan, 2008).

Plebitis dapat menyebabkan trombus yang selanjutnya menjadi tromboplebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika trombus terlepas kemudian diangkut dalam aliran darah dan masuk jantung maka dapat menimbulkan seperti katup bola yang bisa menyumbat atrioventrikular secara mendadak dan menimbulkan kematian. (Sylvia, 1995).

Secara sederhana Plebitis berarti peradangan vena. Plebitis berat hampir selalu diikuti bekuan darah, atau trombus pada vena yang sakit. Kondisi demikian dikenal sebagai tromboplebitis.

Dalam istilah yang lebih teknis lagi, plebitis mengacu ke temuan klinis adanya nyeri, nyeri tekan, bengkak, pengerasan, eritema, hangat dan terbanyak vena seperti tali. Semua ini diakibatkan peradangan, infeksi dan/atau trombosis. Banyak faktor telah dianggap terlibat dalam patogenesis plebitis, antara lain:

Faktor-faktor kimia seperti obat atau cairan yang iritan;

Faktor-faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter, lokasi dan lama kanulasi; serta

Agen infeksius.

Faktor pasien yang dapat mempengaruhi angka plebitis mencakup, usia, jenis kelamin dan kondisi dasar (yakni. diabetes melitus, infeksi, luka bakar). Suatu penyebab yang sering luput perhatian adalah adanya mikropartikel dalam larutan infus dan ini bisa dieliminasi dengan penggunaan filter

“Maaf mas, jika memang ada benar pemeriksaan pada pasien-pasien per 2 jam, tentu akan lebih cepat diketahui dan diberi bantuan tindakan pada pasien hingga tidak perlu tunggu bengkak begitu” sergah Ujang Yana ketua DPC LSM Penjara Kab.Bekasi “bukankah ini membuktikan adanya kelalaian dari perawat disini” lanjutnya

“lagi pula dari keluarga & pasien tidak mempermasalahkan hal ini, kami tetap melakukan perawatan & pengobatan pada beliau, jadi kalau dirasa pelayanan kami ada kejanggalan atau kelalaian silahkan saja jika pihak ibu atau bapak hendak mempertanyakan dan melanjutkan hal ini kepihak manapun, itu kata pihak management kami bu, sebab kami disini tidak pernah ‘menganak-tirikan’ atau membeda-bedakan perlakuan pada pasien bai itu yang dengan pola pembayaran umum atau BPJS” tutup M Sobari mengakhiri percakapan.

Sepertinya ibu S dan keluarganya telah ‘melupakan’ rasa sakit yg timbul akibat bengkak dilengan kirinya, atau mungkin Ibu S dan keluarganya adalah salah satu contoh nyata dari korban yg ‘merasa ketakutan’ jika hal ini dipermasalahkan, takut akan ‘berakibat buruk’ yang lebih buruk dari bengkak ditangan.

“Ya kami sudah mengumpulkan bukti-bukti laporan dari masyarakat dan menyiapkan surat yang segera kami kirim keberbagai pihak terkait utamanya dinas kesehatan kab.Bekasi, pasti kami infokan kelanjutan hal ini pada team media agar tidak ada lagi keleluasaan/pembiaran pada tindak kelalaian yang menyebabkan penderitaan dan kerugian pada pihak lain” janji Ujang Yana.

Jadi siapapun anda, terutama yang pernah merasa dikecewakan atau dirugikan pihak RS Medirosa 2 khususnya atau Rumah sakit & klinik lainnya, silahkan hubungi Rajawalisiber.com dan team, agar dapat membuktikan dan mengclear kan permasaahan yang tetlanjur simpang siur mengenai pelayanan di Rumah sakit.liz/Rin’s

Dibaca 125 kali