Kamis, 29 Maret 2018 15:17

Pakde Karwo Dampingi Presiden Jokowi Resmikan Dua Gedung Unisma

Oleh: 
Beri rating berita ini
(0 votes)

Malang, restorasihukum.com - Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo atau yang lekat disapa Pakde Karwo, mendampingi Presiden RI, Ir. Joko Widodo meresmikan dua gedung milik Universitas Islam Malang (UNISMA), yakni Gedung Bundar Al-Asy’ari dan Gedung Umar Bin Khattab, Kamis (29/3) pagi.

Gedung Al-Asy’ari ini terdiri atas tiga lantai, berdiri diatas lahan seluas 9.200 m2, fungsinya untuk auditorium serba guna yang dapat menampung sebanyak 7.000 orang lebih, serta ruang untuk kuliah. Sementara Gedung Umar Bin Khattab terdiri atas 7 lantai dan dipergunakan untuk ruang rektorat.

    Sebelum peresmian dua gedung tersebut, Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo berkesempatan memberikan kuliah umum atau studium generale dengan tema “Islam Nusantara dan Keutuhan NKRI untuk Mewujudkan Indonesia Damai" kepada para  mahasiswa UNISMA dan hadirin.

    Jokowi, sapaan akrab Presiden RI meminta UNISMA untuk menjadi contoh dan teladan dalam merawat kebhinekaan dan persatuan NKRI. Salah satu upayanya, yakni dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penggerak Bhinneka Tunggal Ika.

    “UNISMA harus optimis bisa mengawal Indonesia untuk menjadi pemimpin negara-negara muslim di dunia. Karena UNISMA adalah kebanggaan NU, dan kebanggan bangsa Indonesia. UNISMA bisa mewujudkan Indonesia yang damai melalui semangat Islam Nusantara” katanya.

     Semangat Islam Nusantara, lanjut Presiden Jokowi, menjadi modal utama bagi UNISMA dalam menjaga keutuhan NKRI. Diakuinya, semangat ini dirasakannya sendiri ketika memasuki area kampus UNISMA. Diharapkan, semangat ini bisa dijaga dan diteruskan kepada bangsa dan negara.

“Ketika masuk ke kampus ini, saya merasakan aura Islam Nusantara. Saya merasakan pendidikan tinggi Islam yang maju dan modern, saya juga merasakan NU yang maju dan modern. Saya merasakan kebesaran Islam Nusantara di kampus UNISMA” pujinya.

Meneguhkan Islam Nusantara dalam menjaga keutuhan NKRI, imbuh Presiden Jokowi, sangatlah penting. Pasalnya bangsa ini sangat besar dan majemuk, dimana jumlah penduduknya sebanyak 260 juta jiwa, memiliki 17 ribu lebih pulau, 714 suku, 1.100 lebih bahasa daerah, serta terdiri dari bermacam-macam agama dan budaya.

    “Semakin besar sebuah bangsa, semakin besar pula tantangannya. Dan tantangan kita adalah menjaga keutuhan NKRI. Jika tidak dijaga, bisa timbul perpecahan, apalagi sekarang banyak sekali isu,seperti isu PKI, antek asing, isu Indonesia bubar, isu komunis, dan lainnya. Isu-isu seperti itu bisa membuat rakyat jadi pesimis” imbuhnya.

    Dicontohkannya, salah satu negara yang tidak berhasil menjaga persatuan dan kesatuan dengan baik adalah Afganisthan. Fakta itu diketahuinya saat  kunjungan kerja ke Afganisthan dan bertemu dengan Presiden Afganisthan, Mohammad Ashraf Ghani‎.    “Presiden Ashraf Ghani bercerita, di negaranya hanya ada tujuh suku, namun sudah empat puluh tahun bertikai dan tiada henti berperang” katanya.

Peperangan tersebut dipicu sengketa antara dua suku, namun masing-masing suku itu membawa sekutu dari negara lain, sehingga sengketa meluas hingga lima suku lainnya terlibat, akhirnya pecahlah perang. Peperangan itu mengakibatkan negara Afganisthan terpecah belah dan sangat sulit dipersatukan kembali.

“Kondisi Afganisthan itu menjadi contoh betapa beratnya kehidupan di negeri yang tidak damai. Afganisthan hanya ada 7 suku, tapi bisa timbul perang dan susah sekali didamaikan. Kita ada 714 suku, karena itu NKRI harus dijaga melalui penguatan Islam Nusantara" katanya.

Hadir dalam kesempatan itu, Menseskab RI, Pramono Anung, Rektor UNISMA, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si, para ulama dan kiai, Pangdam V Brawijaya, Kapolda Jatim, para pejabat eselon I dan II Kementerian RI, Koordinator KOPERTIS wilayah 7, Anggota DPR RI, DPRD Jatim, DPRD kota/kabupaten, Forpimda Malang, para rektor PTN dan PTS, civitas akdemikia UNISMA, dan para wartawan (red/hjtm,adit)



Dibaca 29 kali