Redaksi

Redaksi

Sabtu, 23 Desember 2017 14:59

Gresik,restorasihukum.com -Suami istri meninggal dunia setelah motornya tertabrak truk dari belakang di traffic light Jalan Mayjend Sungkono, Gresik, Sabtu (23/12/2017).

Aiptu Wiji Mulyono anggota Laka Lantas Polres Gresik mengatakan, awalnya ada truk melaju dari arah Terminal Sunan Giri kemudian berhenti saat lampu merah menyala di traffic light.

Tepat di belakang truk, ada sepeda motor Revo dan Honda Beat yang juga berhenti. "Tiba-tiba ada truk colt diesel di belakang yang langsung menabrak kedua motor tersebut," kata Aiptu Wiji.

Lanjut kata Aiptu Wiji, motor Honda Beat yang dikendarai seorang laki-laki beserta istri dan anaknya terpental ke kanan namun dalam kondisi selamat. 

"Sedangkan motor Honda Revo yang dikendarai laki-laki berboncengan dengan istrinya terpental ke depan. Istri pengendara motor Honda Revo meninggal dunia di lokasi kejadian sedangkan suaminya meninggal saat dibawa ke rumah sakit," ujar dia.(red)

Sabtu, 23 Desember 2017 13:57

Jakarta,restorasihukum.com -Meski diketahui mengandung kolesterol tinggi, gorengan tetap menjadi makanan favorit. Harga yang relatif murah, dan rasa yang begitu renyah membuat makanan ini seakan tidak bisa dipisahkan dari menu sehari-hari.

Jika Anda adalah penikmat gorengan, perhatikan hal berikut agar makanan yang satu ini tidak menyebabkan kadar kolesterol tinggi di dalam tubuh:

  1. Goreng dengan minyak yang baik

Minyak ternyata ada yang tergolong baik. Beberapa contoh minyak baik adalah olive oilcanola oil, dan sesame oil. Minyak jenis ini tidak menyebabkan penumpukan kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh, sehingga sangat baik untuk mengolah gorengan.

Meski baik, minyak tersebut sebaiknya hanya digunakan untuk sekali pengolahan. Usahakan untuk menggunakan minyak sesedikit mungkin, dan tidak menggunakan metode mencelupkan makanan ke minyak (deep fried) saat mengolah gorengan.

  1. Batasi porsi

Semua minyak yang baik tetap mengandung kalori. Oleh karena itu, gorengan yang diolah dengan minyak baik tetap dapat menyebabkan peningkatan kalori, lemak, dan kolesterol bila dikonsumsi berlebihan.

  1. Teman makan

Makan gorengan sebaiknya ditemani dengan sayuran. Misalnya makan tahu atau tempe goreng bersama dengan gado-gado. Alternatif lain, bisa dengan makan buah-buahan yang banyak setelah makan gorengan.

Buah, sayuran, smoothies, atau serealia yang mengandung plant stanol ester dapat menghambat penyerapan kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh. Hal ini dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat, sehingga risiko penyakit jantung dan stroke juga semakin kecil.

Gorengan memang mengandung kolesterol tinggi, yang dapat mempercepat proses penyempitan pembuluh darah. Tapi jika dikonsumsi dengan cara yang tepat, Anda tentu tidak perlu khawatir dengan hal tersebut. Selamat mencoba!.(nb/rh/klikdokter)

 

Sabtu, 23 Desember 2017 08:14

Surabaya,restorasihukum.com -DPRD Provinsi Jatim menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemprov Jatim menjadi pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jatim di Gedung DPRD Provinsi Jatim Jl Indrapura Surabaya, Jum'at (22/12)

Perda tersebut dinilai penting karena pemerintah pusat dan daerah sangat membutuhkan  tersedianya sarana dan prasarana yang terkelola dengan baik dan efisien.

Selama ini pemerintah telah menerbitkan berbagai peraturan perundangan dalam rangka memberikan pedoman bagi pengelolaan barang milik negara maupun milik daerah.  Namun demikian, persoalan pengelolaan barang milik negara/daerah semakin kompleks, sehingga perlu diterbitkan  peraturan baru yang lebih mudah.

Diharapkan dengan adanya Perda pengelolaan barang milik Pemprov Jatim semakin baik, dan secara signifikan mampu mengurangi permasalahan baik masalah administrasi maupun  pemanfaatannya.

Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) Jatim 2017- 2037

Dalam rangkaian Sidang Paripurna tersebut, Gubernur Jatim  Dr H Soekarwo juga menyampaikan tanggapan/ jawaban atas pemandangan umum Fraksi DPRD Prov Jatim terhadap Raperda  tentang Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) Jatim 2017 – 2037.

Menurut Pakde Karwo – sapaan Akrab Gubernur Jatim Dr H Soekarwo, konsep tersebut sudah dibicarakan dengan stakeholder yang ada, khususnya dunia industri. Penyusunan rencana pembangunan industri di Jatim ini telah  melalui beberapa tahapan, sejak penyusunan naskah akademik hingga penyusunan draft raperda . Komunikasi intensif juga telah dilakukan dengan pemerintah kabupaten/ kota, para pelaku industri, serta instansi terkait tingkat provinsi. Ditambah juga dengan melakukan konsultasi dan koordinasi dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Penyusunan RPIP  juga sudah  dikaitkan dengan fenomena industri digital. Persiapan yang dilakukan Pemprov, kata Pakde Karwo, melakukan peningkatan SDM industri digital melalui pelatihan, meningkatkan daya saing industri digital melalui festival animasi untuk pelajar dan umum bekerjasama dengan perguruan tinggi, melakukan bisnis matching antara industri digital dengan mitra dan user.

Dijelaskan pencapaian proses industrialisasi  di Jatim tahun 2016 mencapai 4,51 % dan tahun 2017 sampai triwulan III mencapai 4,82 %. Angka tersebut didukung  oleh pertumbuhan ekonomi Jatim 5,21 %.

Pertumbuhan industri tersebut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 28,92 %. Sementara industri pengolahan di Jatim  kontribusinya  terhadap  nasional sebesar 21,08 %, melebihi  Prov Jateng, DIY, DKI Jakarta dan Prov Banten.

Industri  pengolahan di Prov Jatim masih didominasi  oleh industri makanan dan minuman sebesar 30,44 %, disusul industri pengolahan tembakau 27,07 %, industri kimia dan obat tradisional 8,30 %, sedangkan industri lainnya 34,19 %.

Kawasan industri Jatim saat ini seluas 4.759,5 hektar, terdiri  tujuh kawasan industri. Mendatang  akan menambah kawasan industri baru seluas 36.344,28 hektar yang terdiri dari kawasan industri di Jombang, Tuban, Kota Malang, Lamongan, Gresik, Banyuwangi, Mojokerto, Bangkalan, dan kawasan industri Kab Madiun (HPJ:Sil).

Sabtu, 23 Desember 2017 08:10

Surabaya,restorasihukum.com -Pemprov. Jawa Timur akan mengusulkan ke Pemerintah Pusat agar dalam rekrutmen CPNS tahun 2018 dilakukan secara  proporsional, yakni perempuan dibanding laki-laki sebesar 50:50%.

Hal tersebut disampaikan Karo Humas Pemprov. Jatim Drs. Benny Sampir Wanto di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Jatim Jl. Pahlawan 110 Surabaya, Jum'at (22/12), mengomentari adanya pemberitaan yang menyebutkan Sekda. Prov. Jatim akan membatasi rekrutmen CPNS perempuan.

Dijelaskan, rekrutmen terakhir CPNS di jajaran Pemprov. Jatim dilaksanakan pada tahun tahun 2014. Saat itu direkrut sebanyak 114 orang CPNS, dimana komposisinya perempuan sebanyak 60-70%, sisanya laki-laki.

Ternyata di lapangan, lanjut juru bicara Pemprov. Jatim ini, sebagian ada yang cuti hamil, cuti melahirkan, tugas malam tidak bisa, dan sebagainya sehingga kurang mendukung kinerja organisasi.

"Oleh karena itu, Pak Sekda berencana akan mengusulkan komposisi CPNS yang diterima dalam rekrutmen tahun 2018 mendatang, yakni antara perempuan dan laki-laki untuk diimbangkan, yaitu 50:50%, guna saling melengkapi" ujarnya sambil menambahkan berbagai kelebihan pekerja perempuan diantaranya teliti, tekun, dan rajin.

Benny menambahkan hamil, melahirkan, menyusui merupakan hal kodrati perempuan yang harus dihargai, sehingga tidak boleh dilakukan diskriminasi. Termasuk pula, postur tubuh pendek, tinggi, gemuk, kurus merupakan sebuah kondisi yang tidak boleh dilakukan diskriminasi dalam rekrutmen sebuah pekerjaan asalkan yang bersangkutan mampu melakukan pekerjaan yang diberikan.

Perlindungan terhadap perempuan, jelasnya, terlihat dari Pemerintah yang juga telah mengundangkan UU no 7 th 1984 ttg Pengesahan/ Ratifikasi Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. Selain itu, berbagai program pro gender untuk terciptanya kesetaraan gender di Jatim telah dilakukan oleh Pemprov. Jatim. Hasilnya, antara lain, selama 10 tahun ber turut-turut Jatim dapat penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya dari Pemerintah Pusat, sebuah bukti provinsi ini menjadi salah satu yang terbaik di negeri ini terkait kesetaraan gender. (HPJ)

Sabtu, 23 Desember 2017 08:03

Mojokerto,restorasihukum.com – Setelah berkali-kali didemo warga karena disinyalir merusak lingkungan dan mengganggu saluran air, Galian C ilegal yang ada di Desa Jatidukuh, Gondang sementara ditutup oleh Polres Mojokerto.

Penutupan sementara galian C ini dilakukan setelah Polres Mojokerto melalui memediasi antara perwakilan warga dengan pemilik galian di Mapolres, Rabu (20/12) yang disaksikan berbagai instansi terkait seperti Dinas perairan, BPN, Satpol PP dan TNI. Salah satu perwakilan warga, Jati Dukuh Sutrisno mengatakan, hasil mediasinya adalah penutupan sementara galian C di Jatidukuh dan alat berat di lokasi galian bakal dikeluarkan. “Alat berat yang selama ini mengeruk batu di sepanjang aliran sungai, di Jatidukuh segera dikeluarkan.” Katanya.

Sementara Seno, Penasehat Hukum pemilik galian membantah apabila Galian C kliennya belum punya izin, karena selama ini dalan melakukan penggalian memakai Izin Pertambangan Rakyat – IPR yang lama.

“Galian ini bukan ilegal, tapi punya izin IPR yang lama dan sekarang dalam proses penyelesaian pengurusan.” Terangnya. Kendati demikian, Seno akan mengikuti keinginan warga, termasuk mengeluarkan semua alat berat yang ada di dalam galian, hingga ada hasil musyawarah lagi. Sementara AKP Tri Sujoko, Kabag Ops Polres Mojokerto sebelumnya mengatakan, semua tuntutan warga akan ditindak lanjuti, termasuk mengeluarkan alat berat dari lokasi galian. “Kami akan menutup sementara lokasi galian sebelum ada kejelasan.” Ungkapnya.

Seperti diketahui, Galian C di Desa Jatidukuh Gondang beberapa kali didemo warga sekitar karena dinilai merusak lingkungan, galian C itu mengambil batu dari sepanjang aliran sungai hingga 100 truk perhari, akibatnya jalan desa rusak, sumber air warga keruh, irigasi persawahan terganggu dan warga takut terjadi banjir.(Ek)

Sabtu, 23 Desember 2017 07:57

Surabaya,restorasihukum.com -Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2018 kepada tujuh Bupati/Walikota yang tidak hadir saat penyerahan DIPA pada 15 Desember lalu. Ketujuh Bupati/Walikota tersebut adalah  Bupati Tulungagung, Bupati Jombang, Walikota Probolinggo, Walikota Mojokerto, Plt. Walikota Batu, Wakil Bupati Pamekasan, dan Wakil Walikota Blitar.

"Undang-Undang kita mengatur penyerahan anggaran dari Presiden ke Menteri Keuangan kemudian Menkeu ke Gubernur dan Gubernur ke Bupati/Walikota. Merekalah otorisator keuangan," ujar Pakde Karwo, sapaan lekatnya saat Penyerahan DIPA TA 2018 di Ruang Kerja Gubernur Jatim, Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jum'at (22/12).

DIPA, lanjutnya, bukan hanya kertas, tetapi keuangan yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Oleh karena itu, penerimaan DIPA tidak dapat diberikan kepada staf, dan diterimakan kepada wakil, jika hanya ada keperluan mendesak," tegasnya.

Ditambahkan, bupati/walikota sebagai otorisator keuangan selanjutnya agar segera mengumpulkan sekda kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan menyerahkan anggarannya guna pemanfaatan anggaran ini serta menggandengkannya dengan anggaran APBD. "Segera setelah diserahkan bisa disiapkan lelang walaupun  pelaksanaan fisik dan kontraknya mulai 1 Januari 2018," terangnya.

Pada kesempatan sama, Pakde Karwo mengingatkan kembali enam pesan Presiden saat penyerahan DIPA 2018 di Istana Bogor pada tanggal 6 Desember lalu. Pertama, menyederhanakan segala urusan pemerintah/birokrasi. "Jatim secara sistem sudah bagus karena diatur lewat TI (Teknologi Informasi), hanya saja pungli dan pemerasan tidak diatur di IT jadi problemnya integritas," katanya.

Pesan kedua soal sinkronisasi dan kerjasama kegiatan yang dibiayai dari APBD, APBN dan dana desa. Jatim sendiri sudah memberikan pelatihan dan diklat kepada 664 camat dan 7.722 sekretaris desa pada Tahun 2014 dan 2015 lalu. Selain itu, Pemprov Jatim lewat BPAKD memiliki klinik center pada sistem android yang bisa diakses setiap desa apabila mengalami kesulitan pembukuan.

Ketiga, melakukan perencanaan prioritas dan anggaran belanja yang fokus. Provinsi Jatim, lanjutnya, fokus pada dua hal, yakni vokasional melalui dual track strategy dan pemberian nilai tambah di proses produksi pertanian. Ia mencontohkan pemberian nilai tambah ini pada lahan seluas 2 hektar difokuskan pada saat panen dengan memberikan mesin dryer dan packaging pada petani, serta memberi pinjaman 9,6 milyar rupiah. Syaratnya, subsidi untuk pupuk dicabut.

Langkah ini dilakukan karena ia merasa gelisah 2019 inflasi lebih tinggi di pedesaan karena sebagian besar petani menjual gabah kering panen dan kemudian mereka membeli beras di perkotaan. "Kalau langkah ini dilakukan, nilai tambahnya mencapai 52 persen, sedangkan kalau pakai subsidi pupuk hanya 13 persen,"  katanya. 

Pesan presiden selanjutnya adalah melakukan efisiensi belanja operasional, peningkatan kualitas APBN untuk pelayanan publik, dan fokus bekerja menghadapi Tahun 2018.

Sementara itu, Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI, R Wiwin Istanti SE, AK, M Laws mengingatkan kepala daerah untuk meningkatkan koordinasi dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di wilayahnya masing-masing. Ia juga meminta Tahun 2018 mendatang setiap OPD terutama yang menggunakan DAK fisik merubah perilaku belanjanya sehingga tidak menumpuk di Triwulan IV. "Kami bekerja dengan sistem/aplikasi sehingga kalau bisa jauh sebelum waktu pelaksanaan habis bisa dimasukkan ke kami," pungkasnya.(hpj/dewi)

Jumat, 22 Desember 2017 09:28
Ogan Ilir,restorasihukum.com -Video kemarahan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Kadisdukcapil) Kabupaten Ogan Ilir (OI) terhadap salah satu awak media bernama Yanti yang beredar luas di aplikasi WhatsApp, hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat warga maupun jurnalis yang bertugas di Bumi Caram Seguguk tersebut.
 
Saat menghubungi Yanti via seluler, ia mengaku kalau Ahmad Lutfhi selaku Kadisdukcapil OI memarahinya terkait keinginan dia (Yanti) untuk membuat e-KTP.
 
"Kemarin, Rabu (20/12/2017), saya ingin mengurus pembuatan KTP, mengingat saya sudah pindah domisili ke Tanjung Raja dan bukan lagi di Seri Dalam. Nah terkait itulah, saya datang ke Capil, sekalian kalau selesai di sana, nantinya akan ke Polres untuk pembuatan SIM baru," ujarnya membuka pembicaraan kepada awak media, Kamis (21/12/2017).
 
Lanjut Yanti, kejadian itu sendiri bermula saat ia mendatangi kantor dinas tersebut, bermaksud mengurus pembuatan KTP. Namun oleh staf di sana, dirinya ditolak dan disuruh datang lain waktu. Mengingat jarak rumah Yanti dari dinas tersebut sangat jauh, maka wanita ini pun berniat menitipkan berkasnya untuk dapat diambil lain waktu.
 
"Ketika saya hendak keluar, saya lihat ada warga yang ingin mengurus e-KTP juga, nah saya heran pas orang tersebut dilayani dengan baik sedangkan saya diabaikan. Apa bedanya saya sama dia, toh saya juga warga OI. Dari situlah saya langsung telpon Pak Luthfi untuk melaporkan hal tersebut. Bukannya jawaban yang memuaskan, malah saya dibentak habis-habisan olehnya di depan warga yang saat itu sedang ramai," ucap dia.
 
Bukan itu saja, sambungnya lagi, Kadisdukcapil sempat menyinggung soal profesinya sebagai awak media, dan mengatakan kalau di dinasnya jangan banyak ulah atau mencari – cari permasalahan. Sempat juga pada saat itu, Kadisdukcapil merampas HP warga. Takut aksi arogannya terekam.
 
"Berkas saya sempat dibanting oleh Luthfi, dengan berbicara kasar dan berkacak pinggang seakan mau memukul. Dia juga menyinggung kalau saya seakan mencari-cari kesalahan di dinas yang dia pimpin. Selain itu, dalam kejadian ini, ada HP warga yang dirampas, takut merekam kejadian ini," jelas dia.
 
"Saya pun sempat berpikir, kenapa orang seperti dia bisa menjadi kepala dinas. Harusnya dengan posisi seperti itu lebih arif. Berikan keteladanan, bukan umbar kearoganan," imbuhnya lagi.
 
Sementara itu, saat berita ini diturunkan, Ahmad Luthfi selaku Kadisdukcapil OI belum bisa dikonfirmasi terkait beredarnya video kemarahannya di aplikasi WhatsApp tersebut.(red)
Jumat, 22 Desember 2017 08:36

Gresik,restorasihukum.com - Dalam tahun 1932 M, Trah/Keturunan Kyai Tumenggung Pusponegoro I, Bupati Gresik telah mengawali menulis riwayat/sejarah leluhurnya, dan hingga saat ini telah terbentuk Paguyuban Keluarga, yang diberi nama Pusara Warga Gresik Keturunan Kyai Tumenggung Pusponegoro I dalam wadah keluarga inilah sebagai wujud keteguhan hati dalam membentuk rasa cinta dan hormat kepada Leluhur, disertai mewujudkan kerukunan keturunan Kyai Tumenggung Poesponegoro, serta sebagai upaya menelusuri riwayat ataupun mengenang menauladani budi, dan kewibawaan leluhur.

Dalam pendahuluan ini kami berpendapat hari jadi Paguyuban PWGTP yang dimulyakan segenap keluarga, adalah sebagai lembaran mengenang keagungan beliau bagi anak cucu keturunannya, serta kerabat Trah Pusponegoro I.

Apabila ada keluarga PWGTP yang ditanya mengenai riwayat leluhurnya tidak bisa menjawab, karena memang tidak tahu karena tidak memperoleh informasi riwayat leluhur, akan menjadi sebab keragu-raguan pihak lain, bahwa dia adalah masih keluarga, atau Trah Pusponegoro I langsung. Ini juga akan merugikan kehormatan nama leluhur, karena yang bersangkutan tidak dapat mencerminkan budi luhur, keharuman nama beliau. Oleh sebab itu saya secepatnya menulis kembali (memetik) dari surat pakem peninggalan alamarhum Kyai Tumenggung Mangundirdjo, Bupati di Gresik.

Dalam penulisan ini, disajikan yang penting-penting saja dengan harapan dapat memberi manfaat kepada seluruh Trah/Keturunan, sanak keluarga dan kerabat PWGTP, namun demikian apabila ada kesalahan uraian dan kalimat, dan tidak berkenan, semoga dapat dimaafkan,Salam taklim, Kyai Ngabei Mangoendirdjo.

SERAT SEDJARAH
BAB I.
Awal sejarah dari pancer keturunan Sang Prabu Brawidjaya yang terakhir, sebagai raja yang memegang kekuasaan di Majapahit mempunyai putra Raden Arya Damar , dan dinobatkan sebagai Adipati di Palembang (Sumatera-Selatan). Beliau berputera Raden Kusen, setelah dewasa mengabdikan diri ke Majapahit dan diberi nama “Petjat Tanda”, kemudian dinobatkan menjadi Adipati di wilayah “Terung”, sehingga nama sering disebut “Pecat Tanda Terung” . Letaknya adalah daerah Krian-Sidoarjo, Jawa Timur. Adapun sisa-sisa sejarah dari bentuk bangunan yang tertinggal masih dapat dilihat. Raden Kusen wafat, digantikan oleh :
Raden Sengguruh, bertempat tinggal di Terung-Krian, Sidoarjo, berputra
Kyai Goib, bertempat tinggal di Terung-Krian, Sidoarjo. berputra
Kyai Tempel, yang bertempat tinggal didesa Setro, wilayah Gresik, berputra
Kyai Ketib, bertempat tinggal di desa Temasik – Kebomas, wilayah Gresik, berputra
Kyai Muruk, bertempat tinggal juga di desa Temasik, berputra
Kyai Kemis, bertempat tinggal di desa Setro, wilayah Gresik, menikah dengan Nyai Mas Ayu, melahirkan dua putra, adalah
1. Bagus Lanang Puspodiwangsa, menikah denga Lara Teleng binti Kyai Tumenngung Naladika
2. Nyai Ayu, menikah dengan Bagus Prendjak (Sutadirana), bin Bagus Lasem – Trah Pragola-Pati.


Keadaan sewaktu Kyai Kemis menjabat, kekuasaan Gresik dibawah Pangeran Maswitana, berkedudukan di Giri. Beliau mempunyai seorang punggawa Mantri bernama Kyai Gulu, berasal dari desa Setro, karena kesetiaan pengabdian, mendapat anugerah / hadiah setengah bagian dari wilayah kekuasaan Gresik, bagian selatan. Hal tersebut diperjelas dalam acara syukuran dalam riwayatnya bahwa Kyai Gulu terhitung putra mantu dari Kyai Ageng Ngegot di Surabaya. Konon cerita karena memenangkan sayembara yang diadakan Pangeran Mas Pekik, dalam hal memeilhara / menyusui bayi Nini Sara puteri dari Mas Pekik (yang ditinggal wafat ibunya sewaktu melahirkan), dengan kejadian tersebut sebagai tanda terima kasihnya diberi wilayah pemerintahan Gresik bagian Selatan kepada Kyai Gulu. Selanjutnya dalam riwayat Nini Sara ini yang menurunkan Kanjeng Sunan Mangkurat, dan Pangeran Puger.

Selain itu Kyai Gulu mendapatkan anugerah berupa pusaka berupa sebilah keris bernama “Maesa Ganda Rasa”, serta isteri dari garwa ampil Kanjeng Sunan Mangkurat Tegal Arum, wanita ini asal dari Gresik, sehubungan hal ini maka Kyai Gulu mempunyai hak memakai nama gelar Kyai Ageng, karena masih terkait dengan keluarga raja Mataram.


Isteri tersebut saat menikah dengan Kanjeng Sunan Mangkurat telah mempunyai dua puteri, adalah: 1. Nyai Angger, dan 2. Nyai Wuragil.Sedangkan dari pernikahan dengan Kyai Gulu, menurunkan dua putera, 1. Nyai Mas Ayu, 2. Bagus Sateter. Saat wafatnya Kyai Ageng Gulu,beliau Kanjeng Sunan Mangkurat mengangkat Bagus Sateter menjabat sebagai Bupati Gresik. Dan sebagai pengiring kedudukan Bupati Giri dibagian selatan oleh Pangeran Maswitanadiangkatlah Kertilaksana, yang berasal dari keturunan china.

Setelah menjabat Bupati Gresik, Bagus Sateter nama gelarnya adalah Kyai Tumenggung Naladika dan diberi anugerah isteri oleh Kanjeng Sunan Mangkurat, yaitu dari garwa ampil, yang berasal dari desa Ketubanan wilayah Gresik, bernama Nyai Gede.

Dari pernikahan Bagus Sateter dengan Kyai Gede, mempunyai putra: 1. Lara Teleng; 2. Bagus Dana; Sedangkan Bagus Sateter dengan istri semula (garwa sepuh) mempunyai seorang putra, bernama mBok Ayu Attap, yang menikah dengan Mertadiwangsa.

Kembali pada riwayat putra dari Kyai Ageng Gulu, yang bernama Nyai Mas Ayu dinikahkan dengan Kyai Kemis , bertempat tinggal di Setrodan menurunkan putra

1. Bagus Lanang Puspodiwangsa; 2. Nyai Ayu. Setelah dewasa Bagus Lanang dinikahkan dengan putranya Kyai Tumenggung Naladika yang bernama Lara Teleng. Sedangkan Nyai Ayu dinikahkan dengan Bagus Lasem, trah/keturunan Pargola dari Pati.

Riwayat lainnya dari Kyai Kemis, yang tinggal di desa Setro mendapat perintah Pangeran Maswitana di Giri, yaitu agar mencari “Jatra Malaka” ? …ke wilayah timur. namun didalam melaksanakan tugas tersebut beliau wafat, dan tidak lama kemudian Kyai Ageng Gulu juga wafat, dan dimakamkan di Astana Gapura(Gresik).

Dalam riwayat saat itu Kanjeng Sunan Mangkurat itu berkeinginan menangkap pemberontakan Trunodjoyo yang berada di wilayah Jawa Timur. Disaat kembalinya dari Gresik, Kanjeng Sunan Mangkurat memerintahkan menundukkan /menguasai Giri, karena Pangeran Maswitana, tidak tunduk / menyetujui naik tahtanya beliau. Akhirnya Giri dapat ditundukkan pada tahun 1680, dan menjadi bagian kekuasaan kerajaan Mataram.

Bagus Dana, setelah beranjak dewasa dinikahkan dengan Raden Ayu Bitak, putri dari Pangeran Tjakraningrat, Sampang-Madura, dan setelah wafatnya ayahnya Kyai Tumenggung Naladika kemudian menggantikan kedudukan / dinobatkan sebagai Bupati Gresik dengan nama gelar Raden Harya Naladika; gelar Harya diperoleh dari Madura. Dari pernikahan dengan Raden Ayu Bitak, menurunkan 5 putera, adalah :

1. Raden Ayu Purwo; 2. Raden Ayu Sumari; 3. Raden Taksaka; 4. Raden Ayu Manis, dan 5. Raden Ayu Tidjah. Beliau wafat di Pasuruan, dan dimakamkan disana.

Kedudukan Bupati Gresik selanjutnya dipegang oleh Kyai Puspodiwangsa pada tahun 1688, dengan nama gelar Kyai Tumenggung Pusponegoro, berdasarkan surat keputusan dari Kanjeng Gouverment Belanda. Kyai Tumenggung Pusponegoro mempunyai putra 15 putra, yaitu:

Dari garwo padmi: 1.Kyai Ngabei Djoyonegoro; 2. Kyai Ngabei Puspodirdjo; 3. Nyai Ajeng Wirodirdjo; 4. Kyai Ngabei Mertodirdjo; 5. Raden Mertodirdjo.

Dari garwo panumping bernama Nyai Podi, asal dari Bugis: 6. Kyai Ngabei Puspodirono; 7. Kyai Ngabei Pusporogo; 8. Nyai Ajeng Sutowidjoyo; 9. Nyai Ajeng Naladirdjo; 10. Kyai Ngabei Puspowidjoyo; 11. Kyai Ngabei Suradiprodjo;

Dari garwo panumping asal dari Giri-Gajah: 12. Kyai Ngabei Yudonegoro; 13. Kyai Ngabei Djoyodirdjo; 14. Kyai Ngabei Brotoredja.

Dari garwo panumping yang termuda: 15. Kyai Ngabei Surowikromo.

Kyai Tumenggung Pusponegoro I mejabat Bupati pertama di Gresik 1669-1732., dan wafat dimakamkan di komplek makam Pusponegoro memang sengaja dibuat komplek makam yang disebut makam Gapuro Sukolilo, untuk para leluhur. komplek Makam Gapuro Sukolilo juga terdapat makam antara lain Tumenggung Ario Negoro. Makam ini sebenarnya disebut komplek makam Asmarataka, tetapi sekarang lebih lazim disebut komplek makam Pusponegoro.
Bentuk bangunan makam cenderung kuno, dan terbuat dari batu putih, dan berjirat tinggi dan masif dengan bentuk nisan berbentuk dasar kurawal.

Sebagai bagian dari komplek makam Pusponegoro terdiri dari :
* Pintu masuk / Padu rekso timur.
* Pintu depan / Padu rekso II /Tabir Timur.
* Depan cungkup makam Pusponegoro / Padu Rekso.
* Depan makam Linggo depan.
* Tulisan pada makam.
* Makam Kyai Tumenggung Djojodiredjo
* Makam Kyai Tumenggung Soeronegoro
* Batu Tabir depan cungkup.

Makam Tumenggung Poesponegoro dikelilingi oleh banyak kuburan yang meskipun tidak setinggi dan seunik yang berada di Makam Raja-Raja Jawa, namun di sini banyak terdapat kubur batu dengan pahatan halus. Adanya gapura-gapura paduraksa serta prasasti batu bertulis di kompleks Makam Tumenggung Poesponegoro ini juga memberi nuansa tersendiri.

Makam Tumenggung Poesponegoro yang kompleksnya juga dihiasi dengan prasasti yang terbuat dari batu berukir indah yang ditulis dengan aksara Jawa.

Makam Tumenggung Poesponegoro dihias dengan gapura paduraksa lagi, tepat di depan cungkup makamnya dengan dua baris tulisan berhuruf arab di atas, dan dua baris tulisan dengan aksara Jawa di bawahnya. Lalu sebaris tulisan berhuruf latin berbunyi Makam Poespo Negoro.

Makam Tumenggung Poesponegoro berada dalam sebuah bangunan berdinding tebal dengan lubang masuk rendah yang membuat orang harus membungkuk untuk masuk ke dalamnya.

Makam Tumenggung Poesponegoro yang terbuat dari batu andesit, dengan nisan berukir terbuat dari batu putih. Sebagian inskripsi pada sisi depan makam tampak sudah terkelupas.

Makam Tumenggung Poesponegoro dikelilingi makam-makam tua, dan adanya pohon beringin di kompleks ini semakin menambah karisma nama harum para alamarhum, menunjukkan betapa karakter seseorang kasatriya membutuhkan pengabdian, pengorbanan dan keikhlasan, bagi bangsanya dengan tidak meninggalkan perintah-perintah Agama dalam perjuangannya, amin amin amin yaa robbhalalamien

Selanjutnya Kyai Tumenggung Pusponegoro , digantikan oleh putra tertua yaitu Kyai Ngabei Djayanegara, pada tahun 1696 dengan nama gelar Kyai Tumenggung Djayoyonegoro. Beliau memliki 11 putra dari :
Pernikahan dengan Nyai Ayu Sutodrono, garwo padmi, menurunkan: 1. Nyai Ajeng Adiretno; 2. Kyai Suronegoro; 3. Nyai Ajeng Puspodirdjo.
Dari garwo panumping Mbok Ayu Tjempo,asal Giri, menurunkan: 4. Nyai Ajeng Mertodirono; 5. Kyai Ngabei Astrodirdjo; 6. Nyai Ajeng Windunegoro 7. Nyai Ajeng Madunten.
Dari garwo panumping yang lain, menurunkan: 8. Kyai Ngabei Djoyodirona; 9. Nyai Ajeng Sutanegoro; 10. Kyai Ngabei Djoyobroto; 11. Kyai Ngabei Djoyoredjo.

KYAI TUMENGGUNG DJOYONEGORO ( DJIMAT )
Meneruskan riwayat Kyai Tumenggung Djoyonegoro (Djimat) Bupati di Gresik, adalah putra pertama Kyai Tumenggung Pusponegoro I (pertama), setelah lama dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan sebagai Adipati. Dalam kurun waktu itu Kanjeng Susuhunan Mangkurat di Mataram, mempunyai maksud mendirikan “tunggul” di depan sitihinggil, dan oleh karenanya mengundang seluruh Bupati di wilayah Kekuasaan Kerajaan Mataram untuk menghadap dalam pisowanan agung. Kyai Tumenggung Djoyonegoro, juga menghadiri undangan dalam acara tersebut.

“Tunggul” telah disiapkan, dan Patih Danuredjo mengumumkan kepada seluruh Bupati dan punggawa untuk segera mendirikan “tunggul”, namun setelah mereka bergantian melakukannya tidak ada yang mampu mendirikan. Hal ini terdengar sampai kedalam keraton, sehingga menjadikan marahnya Sinuhun Kanjeng Mangkurat yang kemudian beliau keluar menuju sitihinggil ditempat para Bupati dan punggawa berkumpul, kemudian memberikan sabda, bahwa siapa saja yang dapat mendirikan “tunggul” akan mendapat hadiah (ganjaran) yang besar. Namun hampir semua yang hadir para Bupati dan punggawa menyatakan tidak sanggup, malahan pasrah saja hidup/mati mereka;
Pada saat itu hanya seseorang yang menyanggupi adalah Kyai Tumenggung Djoyonegoro, Bupati Gresik untuk mendirikan “tunggul” Keraton Mataram,.
Kemudian Kyai Tumenggung Djoyonegoro beserta para punggawa Gresik dengan segala budi daya akhirnya dapat mendirikan “tunggul” dan ini sangat menggembirakan hati Kanjeng Sinuhun Mangkurat.

Di sebelah kiri dan kanan pintu masuk, berjejer makam-makam kerabat dekat Tumenggung Poesponegoro. Diantaranya adalah Makam Kijai Adipati Djajanegara,

Berdirinya “tunggul” bertepatan pada tahun 1738 M, (sinengkalan angkaning warsa trusing sedya winayang ing rodjeng ); Setelah menyaksikan berdirinya “tunggul” ingkang Sinuhun baru masuk kedalam Keraton. Keesokan harinya hadiah yang dijanjikan Kanjeng Sinuhun Mangkurat diberikan kepada Kyai Tumenggung Djoyonegoro berupa senjata serta keris pusaka bernama ” Belabar” yang kemudian diperbolehkan untuk pulang ke Gresik, karena dikabarkan bahwa Pangeran Tjakraningrat dari Sampang saat itu telah menguasai Kota Gresik, dan mengambil alih kekuasaan; Sementara itu kekuasaan Gresik diberikan kepada kepala prajurit Sampang bernama Demang Djiworogo. Melihat keadaan ini maka Kanjeng Sinuhun Mangkurat memberikan bantuan kekuatan dengan memerintahkan Bupati Ponorogo beserta prajurit segera berangkat ke Gresik.

DEMANG DJIWOROGO dari SAMPANG MENGUASAI KOTA GRESIK.
Sepeninggalan Kyai Tumenggung Djoyonegoro beserta saudara dan para punggawa ke Mataram, Kadipaten Gresik dijarah dan diduduki oleh Pangeran Tjakraningrat dari Sampang Madura, dipimpin Demang Djiworogo yang terkenal kesaktiannya tanpa tanding. Dalam penyerangan ke Gresik mereka menggunakan perahu saat malam hari dan mendarat di pesisir Gresik. Kemudian mendarat dan menyerbu kota Gresik, serta mengepung rumah Kabupaten Gresik, dan sebagai orang Sampang tersebut menjarah toko-toko di kota, dan yang menyerang rumah Kapubaten menjarah seluruh harta benda serta mengambil wanita-wanita termasuk isteri Bupati Kasepuhan dan Bupati Kanoman, dan pula putra putri yang masih kecil dibawa ke Sampang.
Kemudian Demang Djiworogo, menobatkan diri menjadi Bupati Gresik. Para punggawa dan keluarga yang masih berada di Gresik selain mereka yang dibawa ke Sampang, diperintahkan untuk mencukur rambutnya (gundul), dan bilamana membakang mereka disiksa dengan cara orang Sampang yaitu dipecut dengan memaki “destar”. Sehingga punggawa/keluarga ketakutan dan menuruti kehendak Demang Djiworogo.
Adapun keluarga Gresik yang terpaksa menyerah adalah : 1. Kyai Ngabei Mertoredjo; 2. Kyai Ngabei Surodirdjo; 3. Kyai Ngabei Djoyodirdjo; 4. Kyai Ngabei Surotruno; 5. Kyai Ngabei Puspodirdjo; 6. Gus Demang Mertodjoyo, dan mereka diperintahkan menggunakan busana seperti halnya orang Sampang-Madura, dan membaur dengan prajurit Sampang di kota Gresik.

PERSIAPAN ADIPATI GRESIK & PONOROGO MENGHALAU DEMANG DJIWOROGO DI DESA CERME
Perjalanan Kyai Tumenggung Djoyonegoro, Bupati Ponorogo dengan para prajurit selepas dari Mataram telah sampai di desa Sekaran ( nama desa ini sekarang Benjeng, kecamatan Cerme, wilayah Kabupaten Gresik), dan selanjutnya mendirikan benteng pertahanan di desa Ngabetan (Kecamatan Cerme, wilayah Kabupaten Gresik). Berita-berita mengenai keadaan Gresik semakin banyak didengar oleh Kyai Tumenggung Djoyonegoro dan adiknya Kyai tumenggung Pusponegoro II, mengenai keadaan keluarga (isteri dan anak anak) mereka dibawa ke Sampang. Hal ini menambah geram para prajurit Gresik, mereka tidak sabar lagi seakan-akan segera masuk dan membinasakan orang Sampang. Punggawa Gresik dalam rombongan ini adalah: 1. Kyai Ngabei Suronegoro; 2. Kyai Ngabei Astronegoro; 3. Kyai Ngabei Wirodirdjo; 4. Kyai Ngabei Ronggopuspoardjo Sepuh; 5. Kyai Ngabei Yudonegoro; 6. Kyai Ngabei Ronggopuspowidjoyo Anom; 7. Kyai Ngabei Puspotaruno.

Melihat situasi tersebut Demang Djiworogo memerintahkan kepada punggawa/keluarga Gresik yang telah tunduk padanya, agar menyertai perjalanan seorang bangsa Belanda yang menuju ke Kabupaten Jipang, namun diantara punggawa/keluarga Gresik ada yang tidak ikut bernama Kyai Ngabei Mertoredjo , karena sakit. Pada hari yang ditentukan mereka berangkat ke Jipang, dan ketika perjalanan sudah jauh dari kota Gresik mereka beristirahat. Disaat itu orang Belanda tersebut mengadakan pembicaraan dengan orang orang Gresik, ia memberitahukan maksud dan tujuan dari Demang Djiworogo menyertai perjalannya, yaitu bahwa mereka tidak lagi diperbolehkan kembali ke Gresik, karena Demang Djiworogo takut bila dikemudian hari saat Kyai Tumenggung Djoyonegoro melakukan penyerangan merebut kembali Gresik, mereka malah membantu. Orang Belanda tersebut menyarakan agar mereka segera bergabung dengan rombongan Kyai Tumenggung Djoyonegoro, dan mereka lalu berpisahan. Para punggawa/keluarga Gresik kemudian berjalan mengarah keselatan dimana sudah mengetahui bahwa Kyai Tumenggung Djoyonegoro telah kembali dari Mataram, dan sekarang beliau berada di desa Ngabetan.

Tidak lama kemudian mereka dapat bergabung dan saling bertemu dengan Kyai Tumenggung Djoyonegoro, ataupun Kyai Tumenggung Pusponegoro II, yang kemudian mereka saling berbagi cerita pengalaman masing masing.
Kyai Ngabei Surodirdjo, menyampaikan keadaan punggawa/keluarga Gresik yang tidak mau tunduk kepada Demang Djiworogo dari Sampang-Madura adalah: 1. Kyai Sutoredjo; 2. Kyai Mertodiwiryo; 3. Kyai Surodiwongso; 4. Kyai Mertodirono; 5. Kyai Mertoredjo. Kelima orang tersebut di atas, dapat melarikan diri ke Surabaya, sedangkan sanak familinya lainnya ditangkap dan dibawa ke Sampang, beserta kekayaan harta bendanya. Keadaan Gresik dimasa itu sangat resah, banyak pelaku kejahatan (merampok). Hal ini menimpa Kyai Mertoredjo dan putranya Kyai Ngabei Mertoredjo, dirampok di jalan Sumur Sanga. Dikarenakan keadaan Kyai Mertoredjo sudah lanjut usia, dan mengalami jatuh saat menghadapi orang orang Sampang, maka secepatnya rampok tadi dibunuh dengan sebilah keris oleh Kyai Ngabei Mertodjoyo, putera beliau.

PERANG DI NGABETAN
Selanjutnya Kyai Tumenggung Djoyonegoro beserta keluarga, punggawa/penderek dan Bupati Ponorogo beristirahat di dalam benteng Ngabetan, dan setelah sebulan lamanya, persiapan prajurit untuk berperang sudah terlihat, dan dapat menghadang musuh dari Sampang yang membawa ribuan prajurit; Kyai Tumenggung Djoyonegoro beserta bala prajurit Gresik dan Ponorogo melantangkan tantangan (sumbar) yang menakutkan, diiringi tabuhan bende secara beruntun serta majunya derap langkah menerjang ribuan orang Sampang dengan saling adu senjata / kekuatan, yang akhirnya mereka sama sama kelelahan, dan masing masing menepi. Pihak Kyai Tumenggung Djoyonegoro beristirahat di desa Sekaran, adapun pihak orang orang Sampang di Oro-oro Bogomiring, terletak disebelah barat desa Cerme.
Kelompok prajurit, punggawa dan keluarga pihak Kyai Tumenggung Djoyonegoro telah bulat tekadnya lahir dan batin berjuang sampai titik darah penghabisan. Dan mereka lalu mendirikan benteng di desa Sekaran. Dari pihak orang orang Sampang diriwayatkan mereka banyak menceriterakan keheranan mereka akan kesaktian senjata tulup/sumpit Kyai Tumenggung Djoyonegoro, senjata tersebut tanpa meleset sedikitpun selalu tepat pada sasaran, walaupun sasaran berlindung didalam air, pelor senjata tulup/sumpit tersebut menanti diatasnya dan saat orang tersebut muncul diterjanglah oleh pelor, dan arahnya pasti tepat pada mata. Sehingga pihak musuh (Sampang) luka lukanya pasti dimata mereka. Dan diriwayatkan orang Sampang menceriterakan keadaan itu dalam bahasa Madura : ” Lamon ongghu, da’riya Bopatee Greseik lok kenneng laban, mon salah tepona oreng Sampang tumpes kabbhi ” . Dan kesaktian yang diperlihatkan Kyai Tumenggung Djoyonegoro ini sampai didengar Pangeran Tjakraningrat di Sampang, dan menerima laporan bahwa prajurit Sampang banyak yang meninggal oleh senjat tulup/sumpit tersebut dengan luka semuanya di mata mereka. Melihat posisi yang tidak menguntungkan ini Pangeran Tjakraningrat mengutus seseorang Mantri untuk menyampaikan surat kepada Kyai Tumenggung Djoyonegoro, ataupun Kyai Tumenggung Pusponegoro II, dan disertai tindakan mengembalikan keluarga Bupati Kasepuhan, Kanoman (isteri, anak dan keluarga lainnya) yang ditawan di Sampang. Dan menyampaikan sebuah pertanda pemulihan hubungan berupa “bedes petak” (anak sapi berwarna putih) yang berasal dari Djipang.

UTUSAN PANGERAN TJAKRANINGRAT
Mantri utusan setelah menghadap Kyai Tumenggung Djoyonegoro dan Kyai Tumenggung Pusponegoro II menyampaikan surat ataupun kehendak Pangeran Tjakarningrat, yang maksudnya adalah : Mempersilahkan Kyai Tumenggung Djoyonegoro, Kyai Tumenggung Pusponegoro beserta keluarga / punggawa untuk kembali ke rumah masing masing di Gresik, adapun kejadian yang sudah terlanjur ahar diumpamakan tingkah laku anak yang belum mempunyai akal.
* Jawaban dari hal tersebut : Kyai Tumenggung Djoyonegoro akan menyetujui usulan Pangeran Tjakraningrat, akan tetapi Demang Djiworogo bukan seekor binatang kambing yang mudah untuk digusur, karena Demang Djiworogo telah mengenyam kemulyaan sebagai penguasa di Gresik dengan mendiami Rumah Bupati, dan tentunya akan melawan.
* Mendengar jawaban ini utusan tadi secara lantang mengucapkan: “Jadi paduka Kyai Tumenggung Djoyonegoro maunya mogok tidak mau menuruti kemauan Pangeran Tjakraningrat, dan buktinya paduka telah bermukim di Sekaran dan membangun benteng”.
* Jawaban Kyai Tumenggung Djoyonegoro: “Bahwa saya tidak mogok terhadap keinginan Pangeran Tjakraningrat, karena saya tidak ada keberanian memaksa lengser Demang Djiworogo, adapun saya membuat benteng ini bermaksud untuk melindungi punggawa yang hanya berjumlah 20(dua puluh) orang, sedangkan pihak musuh Sampang membawa ribuan. Setelah mendengar jawabn itu utusan Mantri dari Sampang mohon diri.
* Sepeninggalan utuasn tadi Kyai Tumenggung Djoyonegoro, mengingatkan seluruh pengikutnya agar meningkatkan kewaspadaan, dengan perkiraan benteng Sekaran akan digempur musuh dalam jumlah prajurit yang lebih besar. Serentak para punggawa Kyai Tumenggung Djoyonegoro mengucapkan doa ” Haula Wa’ala quwwata Illa billaah”;”Tak ada daya dan tak ada upaya serta tak ada kekuatan apapun, kecuali dengan ALLAH”, dan kemudian mereka masing masing mempersiapkan serta berbenah diri.

Tepatnya 20 (dua puluh) hari semenjak kedatangan utusan dari Pangeran Tjakraningrat, beteng Sekaran diserbu pihak Sampang dengan jumlah ribuan sampai sampai digambarkan bahwa di oro-oro Bogomiring, nampak prajurit Sampang bagaikan samodra tak ada tepinya; Jumlahnya sepuluh kali lipat dibanding jumlah prajurit saat penyerangan di beteng Ngabetan. Perangpun berlangsung di sekitar luar beteng Sekaran, pihak Sampang tidak mampu mendekati beteng karena situasi dan posisi benteng sudah dirancang sedemikain rupa, sehingga gerak gerik pasukan Sampang pasti terlihat dari dalam beteng, karena disekitar beteng tidak ada tumbuhan yang menghalangi pandangan serta adanya sungai yang menjadi penghalang. Dengan demikian pasukan Sampang mengalami kekalahan dengan banyak korban perang berjatuhan, karena pelor senkata tulup/sumpit milik Kyai Tumenggung Djoyonegoro. Namun karena jumlah pasukan Sampang yang besar tidak tampak banyak yang mati. Dan suasana arena peperangan semakin gelap karena banyaknya burung gagak yang berterbangan yang seolah olah melindungi benteng Sekaran.

KEKUATAN PUSAKA KYAI TUMENGGUNG DJOYONEGORO
Hancurnya pasukan Sampang sudah didengar oleh Pangeran Tjakraningrat, sedangkan pasukan Sampang kenyataan tidak dapat membalas serangan dari Kyai Tumenggung Djoyonegoro, diceriterkan bagaikan amukan yang melibas musuh tanpa pandang bulu. Pangeran Tjakraningrat sangat murka melihat keadaan pasukannya hancur tak berdaya, dan dari Sampang diberangkatkan lagi bala bantuan dari punggawa yang gelar Haryo dan gelar Panji, serta memerintahkan pasukan Demang Djiworogo tidak boleh pulang, terkecuali karena celaka / sakit. Setelah pasukan bala bantuan datang bergabung, maka segera berangkatlah menuju ke benteng Sekaran dengan dipimpin sendiri oleh Demang Djiworogo, sehingga perangpun terjadi. Melihat keadaan pasukan Sampang sedemikian besarnya dibanding punggawa Kyai Tumenggung Djoyonegoro, dan telah mengepung benteng Sekaran hal ini mengakibatkan sedikit ketegangan dan serasa detak jantung seakan akan berhenti. Dan tidak lama kemudian kelihatan banyak pasukan Sampang yang meninggal, serta punggawa Sampang bergelar Haryo dan Panji terluka, karena sepak terjang Kyai Nagbei Puspodirono dan Kyai Tumenggung Yudhonegoro mengamuk memporak perandakan pasukan Sampang dengan keris pusaka di tangan kedua beliau. Keadaan mencekam karena langit menjadi agak gelap dengan berterbangannya burung Gagak yang berjumlah ribuan di atas arena peperangan.

Perlu diketahui bahwa bala bantuan Bupati Ponorogo saat itu telah pulang, setelah perang benteng Sekaran yang pertama usai. Dalam riwayat, ketika Kyai Ngabei Puspodirono dan Kyai Ngabei Yudonegoro maju perang, banyak pasukan Sampang yang mati, Kyai Ngabei Puspodirono, terkena senjata lawan di bagian tubuhnya, dan hal ini sempat terlihat adiknya Kyai Ngabei Yudonegoro, kemudian ia menolongnya serta membawa kedalam di benteng Sekaran. Melihat keadaan adik terkena senjata lawan, Kyai Tumenggung Djoyodirono menjadi marah, dan langsung masuk dalam peperangan dengan menghunus “senjata pusaka Balebar” yang tidak begitu lama, pasukan Sampang terlibas oleh pusaka ini, dalam jumlah yang tidak dapat dihitung lagi.

Sedangkan keadaan Demang Djiworogo beserta pasukannya sudah terdesak dan tidak berdaya lagi dengan tampil dihadapannya Kyai Ngabei Mertoredjo dan Kyai Ngabei Pusporogo. Dalam peperangan ini Kyai Ngabei Pusporogo terluka badan sebelah kiri terkena tombaknya Demang Djiworogo, melihat hal ini Kyai Ngabei Mertoredjo dengan cepat pula menghujamkan tombaknya kearah Demang Djiworogo tetapi dapat dielakkan, sedangkan tombak melaju mengenai kuda Demang Djiworogo yang mengakibatkan jatuh/ terhempasnya Demang Djiworogo, yang kemudian merangkak dan melarikan diri. Melihat kejadian tersebut pasukan Sampang kendor semangat dan mundur, dan tak lama kemudian peperangan berhenti.

Kyai Tumenggung Djoyonegoro malam itu melakukan pembicaraan dengan seluruh pengikutnya yang berada dalam beteng Sekaran, untuk berpindah strategi dengan mengalihkan kekuatan pasukan ke desa Pakal (Surabaya).Dan segeralah berangkat mereka menuju desa Pakal dan membuat beteng lagi, dalam perjalanan tersebut membawa Kyai Ngabei Pusporogo yang terluka belum sembuh. Tidak lama di desa Pakal, kemudian berpindah lagi ke desa Semini. Sedangkan Kyai Ngabei Pusponegoro II tidak ikut serta pindah ke desa Semini, melainkan pindah ke desa Tandes (Surabaya).

DATANGNYA BALA BANTUAN UNTUK KYAI TUMENGGUNG DJOYONEGORO
Selama Kyai Tumenggung Djoyonegoro berkedudukan di desa Semini, sering diajak berbincang dengan Tuan Commandeur di Surabaya, yang kemudian menawarkan kesanggupannya untuk membantu Kyai Tumenggung Djoyonegoro melawan Pangeran Tjakraningrat dengan kekuatan tentara Kompeni Belanda, serta bantuan dari Pangeran Suroboyo – Kasepuhan dan Kanoman dengan seluruh punggawanya.
Keadaan Demang Djiworogo saat itu sangat mengkawatirkan, karena mengharap bala bantuan tidak kunjung datang, sedangkan ingin kembali ke Sampang takut ancaman dari Pangeran Tjakraningrat, ataupun maju perang keadaan prajuritnya tidak dapat dihandalkan. Apalagi mendengar bahwa Kyai Tumenggung Djoyonegoro yang berada di desa Semini mendapat dukungan dari pihak Kompeni Belanda, serta Tumenggung Suroboyo -Kasepuhan dan Kanoman.
Pangeran Tjakraningrat setelah mengetahui bantuan pasukan dari Sampang dalam perang kalah, semakin menjadi murka. Lalu memerintahkan mengumpulkan rakyat desa dan pesisir yang terkenal sebagai perampok/perompak dengan harapan mereka orang orang yang berani dan tanpa tanding. Terkumpulah hampir seribu orang, dan kemudian diberangkatkan memakai perahu menuju ke Gresik dan bergabung dengan orang Sampang terdahulu di alun alun Gresik.
Tuan Commandeur Kompeni Belanda dan Tumenggung Suroboyo – Kasepuhan ataupun Kanoman setelah berunding dan sepakat untuk membantu Kyai Tumenggung Djoyonegoro. sebagai Bupati Gresik yang resmi. Diaturlah kemudian pasukan perang, dari pihak Tumenggung Suroboyo dipimpin oleh putranya bernama Mas Ngabei Prawiroseroyo dengan prajurit pilihan sebanyak dua ribu orang. Sedangkan pihak Kompeni Belanda menyiapkan sebanyak tiga pasukan (Compagnie) dikomandani oleh Kolonel Moestich, demikian pula Tumenggung Gresik dengan seluruh punggawanya telah siap maju berperang.
Suasana setelah ketiga kekuatan (Kompeni, Suroboyo dan Gresik) berkumpul dan dan meberikan aba aba dengan membunyikan dentuman meriam diiringi genderang yang ditabuh bertalu-talu, menjadikan suasana gembira bagi mereka yang berangkat perang. Urutan pasukan perang adalah Kompeni Belanda paling depan dan diiringi pasukan Tumenggung Suroboyo, menuju ke arah barat ke desa Gantang, dan diteruskan perjalannnya ke desa Cerme sebelah selatan.
Mendengar kesiap siagaan Kyai Tumenggung Djoyonegoro yang dibantu Kompeni dan Tumenggung Suroboyo untuk berperang, maka Demang Djiworogo memimpin sendiri pasukannya dibantu Bimomuko, Lintang Kuning, dan segera memberangkatkan pasukan perangnya mengarah ke barat Gresik kemudian menuju ke selatan hingga singgah di desa Jambu, posisinya disebelah barat desa Tambakberas ( sekarang ada diwilayah Cerme ).

PERANG CERME
Sebagian Prajurit Suroboyo dipersiapkan di daerah desa Cerme Selatan, dan Prajurit Suroboyo langsung berhadapan dengan pihak musuh orang Sampang, yang tidak lama kemudian perang terjadi; Mereka saling melakukan menembakkan senjata, sehingga tidak lama musuh telah banyak yang mati, dan banyak pula yang terluka dan mereka tidak mau mundur setapakpun. Pihak laskar Sampang bagaikan derasnya arus air berperang, ibarat terbunuh 100 orang, datang lagi 200 orang.
Kyai Tumenggung Gresik dan Surabaya dibuat sibuk oleh musuh, Prajurit Kompeni Belanda ikut serta mengepung musuh orang-orang Sampang, semakin lama di medan perang keadaannya semakin gelap, dan nampak orang-orang Sampang berjuang mati matian.
Sebenarnya orang orang Sampang yang sangat ditakuti adalah hadirnya Kyai Tumenggung Djoyonegoro, karena senjata pusaka beliau, hal ini mereka orang orang Sampang telah merasakan sendiri betapa hebat pelor senjata pusaka itu. Peperangan antara orang Sampang dengan prajurit Suroboyo sangat seru, sama sama kuatnya. Dan diriwayatkan prajurit Kompenei Belanda yang ingin membantu dengan menembakkan senapannya tidak bisa membedakan mana orang Sampang, mana prajurit Suroboyo, karena saat itu keadaan medan perang mulai gelap namun Kompeni melakukan penembakkan sebisa bisanya dan hasilnya banyak orang Sampang yang mati, sedangkan pihak Sampang gantian menembakkan senjatanya yang berakibat juga banyak prajurit Suroboyo terluka dan tewas.
Melihat keadaan ini Kyai Tumenggung Djoyonegoro menjadi marah, oleh karena dalam perang tersebut punggawa kesayangannya bernama Pradjaganti dan punggawa pemelihara kuda kendaraanya (Lurah Gamel) bernama Pak Sarinah terluka, dan seketika itu juga Kyai Tumenggung Djoyonegoro beserta punggawa, dan saudara melakukan penyerang dengan senjata pusaka, dan akibatnya orang orang Sampang banyak yang terluka dan tewas; Saat yang bersamaan pihak Kompeni Belanda juga ikut memuntahkan peluru-peluru senjatanya, beserta dentuman meriam. Namun hal yang ditakuti orang Sampang adalah hanya senjata tulup/sumpit Kyai Tumenggung Djoyonegoro yang sakti tanpa meleset pasti mengenai mata musuh, dan tak lama kemudian peperangan berhenti, peperangan ini dinamakan”Perang Cerme”.
Orang orang Sampang kembali ke perkemahannya di desa Jambu, sedangkan pasukan Suroboyo kembali keperistirahatan di desa Gantang, di sini mereka telah membuat pesanggrahan (tempat istirahat) dan beteng pertahanan. Sedangankan pihak Kompeni Belanda, serta Kyai Tumenggung Djoyonegoro dengan punggawa, beserta saudara dan kerabatnya juga beristirahat di desa Gantang, yang juga ikut serta mengamankan wilayah desa Gantang.
Hari demi hari semenjak peperangan orang orang Sampang tidak menampakkan diri, mereka seolah olah enggan untuk menyerbu, mereka bermaksud melawan dalam situasi bertahan sehingga mereka dikatakan tidak berani lagi berperang.
Dari hasil kesepakatan dalam pembicaraan pimpinan prajurit Suroboyo, Gresik dan Kompeni Belanda segera melakukan lanjutan strategi perang dengan disepakati untuk segera menyerang orang orang Sampang yang bertahan di desa Cerme Selatan. Hal tersebut terdengar oleh orang orang Sampang, dan menjadikan gembira mereka.
Perangpun segera berkobar … prajurit Suroboyo, Gresik dan Kompeni Belanda menerjang desa Jambu dan mereka saling berhadapan bertempur, bunyi dentingan senjata mereka, dan letusan senjata terdengar seru, dan terlihat orang orang Sampang semakin mundur dan banyak yang terluka dan tewas. Akhirnya orang orang Sampang melarikan diri masuk kota Gresik. Mendengar hal ini Demang Djiworogo marah dan berhasrat akan menyelesaikannya sendiri. Sedangkan kekalahan pihak punggawa Sampang di Gresik tersebut juga telah didengar beritanya oleh Pangeran Tjakraningrat di Sampang, yang kemudian memerintahkan agar Pangeran Sampang segera mengirim bala bantuan lagi. Setelah peperangan ini usai diriwayatkan pasukan Kompeni Belanda beristirahat di dukuh Sumber, desa Kembangan.

BALA BANTUAN TERAKHIR DARI SAMPANG
Demang Djiworogo yang mendapat bala bantuan dari Sampang segera mengaturnya di alun alun Gresik dan langsung menuju ke desa Manangkuli dan untuk beristirahat dulu; Dan dijelaskan bahwa pasukan bala bantuan dari Sampang ternyata adalah prajurit yang terakhir kali, karena Kadipaten Sampang semua prajurit sudah habis diberangkatkan ke Gresik, sehingga kota Sampang kelihatan sunyi senyap saat itu.
Pihak punggawa Suraoboyo, telah mendengar akan bala bantuan dari Sampang yang langsung dipimpin oleh Demang Djiworogo sendiri. Dan saat itu pihak Kompeni Belanda, Kyai Tumenggung Djoyonegoro dengan seluruh saudara, prajurit dan kerabat sudah siap menerima gempuran orang orang Sampang.
Tak lama kemudian di selatan desa Manangkuli terdengar suara aba aba peperangan, terjadilah peperangan, yang kemudian nampak banyak orang yang tewas/terluka, dan peperangan itu sampai waktunya matahari terbenam mereka lalu saling menepi untuk berhenti berperang. Orang orang Sampang beristirahat di desa Mangkuli, sedangkan prajurit Suroboyo, Gresik dan Kompeni Belanda beristirahat ditempat antara desa Managkuli dan desa Kembangan.

PERLAWANAN GERILYA PIHAK SAMPANG
Dalam riwayat peperangan ini, pihak orang orang Sampang di tengah malam hari berangkat kembali menuju tempat peristirahatan musuh, dimana keadaan pasukan Suroboyo, Gresik dan Kompeni Belanda terlelap dalam istirahatnya. Mereka menyerang sehingga mengagetkan pihak pasukan Suroboyo yang tidak diperkirakan terjadi hal tersebut, dan pihak Suroboyo banyak yang tewas, terluka. Walaupun Kompeni Belanda juga masih sempat memuntahkan peluru peluru dari senjatanya, dan tidak lama kemudian terlihat orang orang Sampang mengudurkan diri.
Demikain halnya posisi pasukan Suroboyo, Gresik dan Kompeneni Belanda mundur ke arah selatan barat, dan saat pagi hari telah berkumpul di desa Tambakberas . Mereka membicarakan untuk mendesak pertahanan orang-orang Sampang di desa Manangkuli, dan adanya berita bahwa bala bantuan pasukan Suroboyo, serta Kompeni Belanda menyerang lewat darat dan lewat laut. Dan ada yang menggunakan perahu sekoci ( bahita sekonyor) yang dipimpin orang Spanyol bernama tuan Bers (Luitenant/Letnan). Sedangkan pasukan Surabaya dan Gresik dalam situasi ini bersiaga di desa Kedanjang, karena telah larut malam.
Pagi harinya paskan Jawa dan Belanda bergabung dan berbaris dan berangkat menuju desa Kembangan. Demikian halnya orang orang Sampang bergegas berangkat dari desaManagkuli , bersiaga perang di desaKembangan. Perangpun tak lamakemudian terjadi, dan kemudian Belanda menghancurkan orang orang Sampang dengan senjata, serta meriam sehingga banyak yang terluka bahkan tewas. Saat itu orang orang Sampang yang menjadi satriya tandingan melesat maju menyerang pasukan Belanda yaitu Singomuko, Singobarong, Macan Kumbang, sehingga pasukan Belanda kerepotan tidak dapat menembak dalam jarak dekat. Dan kemudian pasukan Kompeni Belanda berperang memakai senjata pedang, namun hujaman/sabetan pedang pasukan Kompeni ini diditerima oleh orang orang Sampang tanpa ada yang terluka.
Pada saat peperangan terjadi Demang Djiworogo melihat sepak terjang seorang komandan pasukan Kompeni Belanda, dengan pedang ditangan menghabiskan banyak anak buahnya. Kemudian Demang Djiworogo menghamipiri komandan tadi yaitu Kolonel Gontang, dan langsung pedang yang terhunus tadi dihujamkan ke tubuh Demang Djiworogo, namun tidak mempan dan sebaliknya komanda Kompeni tewas tertusuk senjata Demang Djiworogo.
Melihat kondisi ini Kyai Tumenggung Djoyonegoro dengan punggawanya memberikan pertolongan, dan mengakibatkan barisan Sampang porak peranda dan disusul tewasnya Bimomuku, dan Macan Gringsing terkena senjata pusaka Kyai Tumenggung Djoyonegoro. Demang Djiworogo melihat hal ini langsung mengamuk seorang diri menerjang lawan, sehingga siapa saja musuhnya yang diterjang banyak yang tewas (pihak Suroboyo, Gresik dan Belanda).
Kyai Tumenggung Djoyonegoro tidak tinggal diam melihat menganuknya Demang Djiworogo, dengan mengambil jarak dan posisi yang strategis di tengah barisan Kompeni Belanda senjata pusaka tulup/sumpit dilepaskan ke arah Demang Djiworogo, tanpa meleset sedikitpun peluru tulup/sumpit berhasil mengenai matanya sehingga berhamburan darah, dan Demang Djiiwirogo terpental jatuh dari kudanya. Namun karena kesaktiannya ia tidak tewas, dan malah membabi buta mengamuk dengan keris pusaka ditangan yang menewaskan musuh didepannya. Kyai Ngabei Wirodirdjo menghadang dengan menghujamkan tombaknya kedada Demang Djiworogo, tepat pada sasaran namun menjadikan Demang Djiworogo menyerang balik dan merepotkan Kyai Ngabei Wirodjirdjo. Melihat hal tersebut Kyai Tumenggung Djoyonegoro segera menolong adiknya, dengan senjata pusaka keris “Belabar” melibas tubuh Demang Djiworogo sehingga bersimbah darah, dan tak berdaya lagi dan akhirnya tewas.
Dengan matinya Demang Djiworogo terdengar gemuruh sorak sorai dari pasukan Gresik, Suroboyo, dan pasukan Kompeni Belanda. Orang Sampang melihat keadaan yang tidak menguntungkan tersebut mereka berlarian mundur ke kota Gresik, namun pelarian mereka dikejar oleh prajurit Suroboyo, dan pasukan Kompeni Belanda. Para pelarian orang Sampang yang masuk ke kota Gresik melakukan pembakaran rumah rumah dan merampok harta benda dan dibawa lari menggunkana perahu kembali ke Sampang.

Setelah perang berhenti prajurit Suroboyo, Gresik, dan Pasukan Kompeni Belanda beristirahat di kota Gresik, dan tak lama kemudian pejabat Kompeni Belanda mengunjungi Gresik, adalah tuan Edelheer dari Semarang, van Harting serta sekretarisnya tuan Arta.

(bersambung) …..

Selain menurunkan Bupati Gresik sampai tahun 1926, Tumenggung Poesponegoro juga menurunkan bupati-bupati Bangil, Demak, Jepara, Lamongan, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Pati, Semarang, Surabaya, dan Trenggalek.

Tumenggung Poesponegoro juga membangun pabrik meriam, yang selain digunakan sendiri juga dijual ke daerah lain dan membawa keuntungan besar bagi Gresik. Tumenggung Poesponegoro karenanya memiliki detasemen pasukan meriam Sarageni, dengan meriam raksasa Kyayi Kalantaka (waktu kematian) di pasang di alun-alun dan moncongnya mengarah ke pantai Gresik.