Redaksi

Redaksi

Senin, 22 September 2014 09:16

SURABAYA restorasihukum.com - Tim dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur kembali berhasil menangkap buronan kasus korupsi. Kali ini, petugas meringkus buron kasus korupsi dari Semarang, Jawa Tengah. Yakni Djoko Mulyono, Direktur CV Jejaring Kamardhikan Forestry, buronan kasus korupsi yang berhasil diringkus di Perum Greenhill, Jumat (19/9/2014) malam oleh petugas Kejati Jatim.

      Menurut Kasi Penkum Kejati Jatim, Romy Arizyanto, Djoko Mulyono masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak tahun  2012. Dasarnya, Putusan Mahkamah Agung Nomor 132 K/Pid.Sus/2012 tanggal 28 maret 2012. "Kasusnya ditangani oleh Kejaksaan Negeri Semarang, Jawa Tengah," kata Romy, Sabtu (20/9/2014).

      Dijelaskan, Djoko Mulyono merupakan terpidana kasus tindak pidana korupsi Dana Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan  (P2KP) pada BKM "Bangun Sejahtera" kelurahan  Mangunharjo, Semarang.

      Dalam perkara yang telah merugikan negara tersebut, yang bersangkutan dijatuhi hukuman pidana penjara selama satu tahun. Namun dia menghilang sebelum menjalani hukumannya, sehingga ditetapkan sebagai buron kejaksaan.(Red)

Senin, 22 September 2014 08:49

SURABAYA restorasihukum.com - Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur berhasil membongkar jaringan uang palsu (Upal) di wilayah Kediri. Dari operasi penggerebekan, polisi mengamankan tersangka Jatmiko (51) oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkup Pemkot Kota Kediri, dan M Sholihuddin A (29) warga Dusun Kayen Kidul Kabupaten Kediri.

      Dari keduanya, tim Jatanras Polda Jatim berhasil mengamankan barang bukti berupa Upal pecahan Rp 100.000 mencapai Rp 6,5 juta beserta alat cetaknya. "Kami memang mencoba membongkar jaringan upal yang beredar di Jawa Timur, khususnya di kota besar seperti Surabaya, Kediri dan kota lainnya," kata Kombes Pol Bambang Priambodo, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jatim didampingi Kasubdit III Jatanras, AKBP Hanny Hidayat  Minggu (21/9/2014).

      Ditambahkan Hanny Hidayat, salah satu tersangka yang beralamat di Desa Tosaren Kota Kediri tersebut awalnya tergiur dengan kemiripan uang hasil cetakan DPO berinisial J. "Dari sini, pelaku mencoba mengembangkan dan mengedarkan upal," ucap Hanny.

      Terungkapnya peredaran upal di wilayah Kediri, menurut Hanny,  berkat laporan warga. Selanjutnya dilakukan sidik  oleh anggota kepolisian. Ketika memancing tersangka Jatmiko yang juga seorang oknum PNS itu memang agak sulit. Pasalnya, dia harus mengetahui betul siapa yang diajak transaksi. Tapi mungkin sudah nasib sialnya, dia ditangkap anggota. Saat itu, pelaku dipancing di SPBU jalan Mayor Bismo kota Kediri. Dari uang asli Rp 1 juta dapat ditukar Rp 1,5 juta uang palsu. "Saat terjadi transaksi uang, dia langsung bisa kami amankan," ucap Hanny.

      Dari penangkapan oknum PNS Kota Kediri tersebut, menurut Hanny, petugas mencoba mengembangkan kasusnya. Hingga diperoleh keterangan kalau tersangka Jatmiko bekerjasama dengan M Sholihuddin. Akhirnya, petugas Jatanras memburu udin sapaan akrab Sholihuddin tersebut. "Pelaku bisa kami tangkap ketika berada di rumah makan bebek pak slamet," ujar Hanny.

      Dari tangan udin, tambah Hanny, polisi menyita satu unit laptop merk HP warna putih,  satu unit Printer (scanner) merk CANNON , satu buah Keramik (alas potong),  satu buah gunting, cutter, penggaris besi, dua Rim kertas HVS, beberapa kertas hasil Cetakan upal yang belum dipotong (digunting). "Karena TKP nya ada di Kediri maka kasus itu kami serahkan ke Polres Kediri kota, Sedangkan perburuan pelaku yang sudah masuk DPO masih dilakukan anggota," tutur Hanny.(Red)

Sabtu, 20 September 2014 09:48

SURABAYA restorasihukum.com - M Idris (33), warga Banyu Urip Tengah Wetan Surabaya harus rela menghuni sel tahanan Polsek Krembangan. Dia diringkus Satuan Reskrim Polsek Krembangan Surabaya karena memiliki narkoba jenis sabu.

      Pria yang juga berprofesi sebagai juru parkir di Pasar Keputran Surabaya ini diringkus polisi di rumahnya Banyuurip. Dari tangan tersangka, polisi berhasil mengamankan delapan poket sabu yang ternyata di jual belikan kepada pemakai. Jumlah sabu yang ditemukan dan  diamankan seberat 1 gram. "Tersangka ternyata bandar sabu, tidak hanya memakai saja. Ini bandar yang kita cari dan sudah diawasi sejak lama," sebut AKP Anton Prasetyo, Kapolsek Krembangan, Jumat (19/9/2014).

     Tertangkapnya tersangka, setelah petugas melakukan pengawasan dan begitu tersangka memiliki barang (sabu) langsung dilakukan penyergapan di rumahnya. Saat ditangkap, Idris sempat mengelak. Tapi petugas mampu menemukan barang bukti sabu yang sudah di bagi-bagi poket dan siap jual kepada pengguna. Meski sudah ada barang bukti, Idris yang sudah memiliki empat poket sabu ini hendak kabur. Bahkan, dia sempat memberi perlawanan kepada lima petugas yang menangkapnya.

     Anton menjelaskan, sesuai hasil pemeriksaan tim penyidik, tersangka memberi sabu dari salah satu pemasok dari Madura. Sabu dibeli dari Madura Rp 750.000. "Kemudian sabu itu dibungkus jadi delapan poket. Satu poket, tersangka menjualnya lagi Rp 200.000 sampai Rp 250.000," cetus Anton.(Red)

Sabtu, 20 September 2014 09:26

Gresik restorasihukum.com - Dua pelaku spesialis pencurian sepeda motor (Curanmor) ditangkap anggota Satreskrim Polsek Driyorejo, Gresik. Kedua pelaku yang ditangkap Ainul Yaqin (20), asal Desa Suwalo, Kecamatan Balong Bendo, Sidoarjo dan Adi Kusnandar (18), asal Perum Griyakencana Blok I,  Desa Mojosarirejo, Driyorejo, Gresik.

       Pelaku ditangkap saat korban M. Suyono (37), warga Desa Sumput, Kecamatan Driyorejo, sewaktu memarkir sepeda motor Honda W 5148 G di depan rumahnya. Merasa kehilangan sepeda motor, korban selanjutnya melaporkan ke Mapolsek Driyorejo. Mendapatkan laporan ada pencurian sepeda motor. Polisi melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara). Dalam olah TKP dan berdasarkan keterangan sejumlah saksi melihat pelaku mondar-mandir. Setelah menemukan ciri-ciri para pelaku kemudian, polisi mulai melakukan penyelidikan dan menemukan kedua tersangka saat membawa sepeda motor milik korban.

       Kapolsek Driyorejo. Kompol Hendy Kurniawan saat dikonfirmasi membenarkan bahwa anggotanya menangkap dua tersangka curanmor tersebut. Sementara itu  "Hasil pengakuan tersangka, mengaku melakukan curanmor sudah 8 tempat, diantaranya di Gresik, Sidoarjo dan Surabaya. Untuk kelanjutan kasusnya untuk sementara masih dalam pengembangan untuk mencari penadah hasil curanmor tersebut." pungkasnya pada wartawan, Jumat (19/9/2014) sore. ( Spj ) 

Sabtu, 20 September 2014 09:13

Malang restorasihukum.com - Tingginya angka tindak pidana asusila dengan korban dibawah umur kerap terjadi di Kabupaten Malang. Ironisnya, tak hanya korban yang masih berusia belia, pelaku juga masih berstatus anak baru gede.

      Jumat (19/9/2014) petang, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang kembali menangkap satu orang pemuda dibawah umur. Pelaku berinisial AF (17), Warga Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, dilaporkan orang tua Ina (bukan nama sebenarnya). Ina adalah gadis SMP yang masih berumur 13 tahun. Ina diperkoa AF di sebuah gubuk tengah sawah usai pulang dari sekolah. Tak hanya di tempat terbuka, AF yang ketagihan kembali memaksa Ina berhubungan intim dirumahnya. "Pelaku masih dibawah umur. Begitu juga dengan korban yang masih duduk dibangku kelas dua SMP," ungkap Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat, Jumat (19/9/2014) sore.

      Sementara itu, menurut pengakuan AF,  dirinya awal mula kenal korban melalui sms. Pelaku memperoleh nomer telpon korban dari teman pelaku. "Setelah ada nomor teleponnya saya sms lalu diajak ketemuan," kata AF.

      AF lantas bertemu korban di pinggir jalan sekitar Kecamatan Pakis. Dari perkenalan itu, AF coba mengajak kerumahnya. Ditempat itulah AF memaksa Ina untuk melayani hasrat seksualnya. Menurut AF, dirinya melakukan hubungan intim, layaknya suami istri dengan dalih suka sama suka. "Tak ada paksaan. Dia juga mau saya ajak berhubungan," ujarnya sembari menundukkan kepala.

       Ajakan berhubungan intim kedua dilakukan AF disebuah gubuk di tengah sawah, tak jauh dari rumah pelaku. "Hubungan kedua juga mau sama mau. Saya lakukan disebuah gubuk di tengah sawah," katanya.

      Seringnya berhubungan intim, AF mengaku ingin menikahi korban. Tapi, korban justru sulit dihubungi. Ditengah komunikasi yang sudah putus itulah, AF yang bekerja sebagai kuli bangunan akhirnya dilaporkan ke polisi. 

     "AF kita tangkap kemarin dirumahnya. Kejadian itu pada bulan Juli 2014 dan akhir Agustus lalu," tambah Kasat Reskrim Polres Malang. Akibat perbuatannya, AF dijerat pasal 81-82 UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.(Red)

Jumat, 19 September 2014 08:57

MADIUN restorasihukum.com - Tiga orang pemuda yang merupakan komplotan jaringan penjualan dan pemakaian sabu-sabu diringkus petugas Satuan Reskoba Polres Madiun. Ketiga tersangka diamankan bersama barang bukti sabu-sabu seberat 0,32 gram, dua buah HP, sebuah celana jeans, sebuah BlackBerry, dan uang tunai hasil penjualan sebesar Rp 500.000 berupa pecahan Rp 50.000-an.

      Selain menjadi pengedar sabu-sabu secara berantai di Madiun, mereka bertiga juga diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkoba antar propinsi di antaranya Jawa Timur ( bagian barat ) dan Jawa Tengah ( bagian timur ). Ketiga tersangka itu masing-masing adalah Hendro Wahyudi (30) warga Desa / Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Rendra Bayu Marantika (30) warga Kecamatan / Kabupaten Magetan, serta Darmaga Yerianto (43) warga Kelurahan / Kecamatan / Kabupaten Magetan.

      "Awalnya kami menangkap tersangka HW disusul RBM dan DY. Karena kami menangkap HW membawa paket sabu-sabu 0,32 gram itu dicelana di Desa Rejosari, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Pada saat dikembangkan ternyata barang haram itu dibeli dari RBM, kemudian RBM dipasok DY," terang Kasat Reskoba Polres Madiun, AKP Basuki Dwi Koranto kepada RHN, Kamis (18/9/2014).

       Ketiga tersangka dijerat dengan pasal 112 ayat 1 Jo pasal 114 ayat 1 Jo 132 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotiba. Mereka terancam hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun penjara. "Kami akan mengembangkan kasus ini. Kami yakin masih ada jaringan di atas mereka lainnya," imbuhnya.

      Sementara salah seorang tersangka, Darmaga Yerianto mengaku menyesal sudah mengkonsumsi dan mengedarkan barang haram itu. Akan tetapi, dia mengaku menjual barang haram itu tergiur prosentase hasilnya yang mencapai 25 persen dari harga pembelian. "Karena hasil penjualannya cukup besar. Jadi saya tergiur hasilnya itu," pungkasnya. ( Ltf )

Jumat, 19 September 2014 08:34

Jember restorasihukum.com - MIK, seorang kiai pengasuh sebuah pondok pesantren di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur, diduga telah mencabuli beberapa santriwati pada saat memimpin istigosah. Kok bisa?

       Berdasarkan informasi yang diperoleh RHN, istigosah atau doa bersama itu dilaksanakan setiap malam paling tidak dilakukan selama satu jam bahkan lebih. Istigosah yang dilkukan di dalam ruangan pondok ini agak ganjil, karena pada saat pelaksanaan istigosah lampu dipadamkan. MIK sendiri memimpin istigosah itu dalam sebuah ruangan khusus seorang diri. Dalam aksinya santriwati yang diminati MIK diajak masuk ke dalam ruangan itu dengan alasan membantu dirinya membaca wirid. pada saat berduaan di dalam ruangan itulah, MIK mulai melakukan aksi bejatnya yakni memaksa santriwati untuk melayani nafsu berahinya.

       Suara jeritan santriwati yang memberontak tidak terdengar dari luar ruangan, karena lebih keras suara santri yang sedang membaca doa dan wirid bersama-sama diluar ruangan khusus MIK bersama Korban. Perbuatan MIK terjadi berulang kali dengan korban yang berbeda - beda selama setahun. Atas perbuatanya MIK dilaporkan oleh tiga korbanya (santriwati) ke polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya. Ia kini mendekam di sel Mapolres Jember.

       MIK dijerat dengan pasal 81 Undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. "Ancaman hukumannya 15 tahun penjara," kata Kepala Sub Bagian Humas Polres Jember, Ajun Komisaris Polisi Edi Sudarto kepada wartawan, Kamis (18/9/2014). ( Rd )

Kamis, 18 September 2014 08:56

LAMONGAN restorasihukum.com – Wilayah Pantura Paciran, Blimbing dan Brondong masih menjadi lahan subur peredaran obat – obatan jenis psikotropika. Sa’ud Ady Wibowo (33) asal PangkahWetan RT 01 RW 13 Kecamatan Ujungpangkah Gresik ditangkap  karena kedapatan menyimpan 0,50 gram sabu –sabu dan 2 butir inek di tempat kosnya di Desa Kemantren Kecamatan Paciran, Rabu (17/09/2014) dini hari.

       Sa’ud diduga sebagai pemasok peredaran  barang haram jenis psikotropika, termasuk sabu – sabu di wilayah Paciran dan Brondong.  Saat ditangkap  dua anggota reskoba, tersangka tidak berkutik dan mengakui semua barang itu miliknya. Uang Rp 4 juta juga ditemukan di dalam kamar kos tersangka sebagai hasil penjualan barang haram tersebut. Sedangkan 2 butir inek ditemukan polisi di semak – semak samping kos tersangka. ”Dua butir inek itu dibuang pelaku ke samping rumah kos tersangka setelah digeledah anggota,”ungkap Kasat Reskoba AKP M Andi Lilik kepada RHN, kamis (18/09/2014).

       Saat ini tersangka masih dikeler untuk pengembangan penyelidikan dan mencari siapa saja jaringan yang bekerjasama dengan Sa’ud. Langkah membawa tersangka untuk penyelidikan diharapkan bisa membongkar jaringan Sa’ud. Di tempat kos, kepada warga sekitar mengakui sebagai teknisi kapal besar yang berlayar di perairan laut Jawa. Ia sering keluar rumah untuk memenuhi undangan para pemilik kapal untuk memperbaiki mesin – mesin kapal yang rusak.

      Namun semua itu merupakan alibi pelaku sebagai modus untuk mengedarkan barang memabukkan tersebut.  Menurut Andi Lilik, pengakuan tersangka  boleh saja namun kenyataannya ia sebagai pengedar  barang terlarang.(Red)