Redaksi

Redaksi

Minggu, 27 Juli 2014 09:10

Bondowoso restorasihukum.com - Sugiarto (41), warga Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tewas dalam perawatan di rumah sakit setelah tubuhnya terkena ledakan mercon yang diraciknya sendiri di rumahnya.

         Kapolres Bondowoso AKBP Sabilul Alif di Bondowoso, Sabtu menjelaskan bahwa peristiwa yang dialami Sugiarto yang sehari-hari sebegai kernet itu terjadi pada Jumat, 25 Juli 2014 sekira pukul 19.30 wib di Desa Jatitamban, Kecamatan Wringin. "Kecelakaan terjadi saat korban meracik mercon. Korban meninggal saat hendak dirawat di Rumah sakit. Tidak ada korban lain dalam kejadian itu, tidak ada kerusakan material didalam rumah korban, serta tidak ditemukan sisa bahan mercon di sekitar rumah korban," ucapnya.

         Sesuai hasil pemeriksaan polisi terhadap saksi Sucipto, kakak korban, bahan petasan didapat dari daerah Sokaan, Kabupaten Situbondo, dan rencananya mercon itu akan digunakan sendiri saat Idul Fitri. "Walaupun dalam bulan Ramadhan ini sudah hampir tidak ada letusan mercon dan sudah banyak yang ditangkap bahkan disita, tidak menutup kemungkinan di wilayah Bondowoso masih banyak beredar mercon yang dipersiapkan untuk dinyalakan pada saat malam takbir dan sesudah shalat Ied," ujar Kapolres.

          Menurutnya, mengingat menyalakan mercon pada saat menjelang maupun setelah Idul Fitri sudah membudaya, maka tidak menutup kemungkinan masih ada peredaran mercon maupun pembuatan mercon yang akan digunakan sendiri di masyarakat. Karena itu Kapolres meminta jajarannya untuk terus berkoordinasi dengan semua lapisan masyarakat, kepala desa dan tokoh masyarakat untuk terus memberikan penyadaran kepada warga agar tidak membuat dan menyalakan mercon. "Kami perintahkan jajaran dan anggota untuk melakukan razia mercon pada basis masyarakat yang selama ini diduga membuat maupun menyalakan mercon," kata mantan Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Surabaya itu.

          Pihaknya juga meminta anggotanya melakukan tindakan cepat dan tegas apabila ada informasi adanya bahan mercon atau apabila terdengar suara ledakan mercon di suatu wilayah. "Kami juga mengantisipasi adanya kegiatan menyalakan mercon setelah shalat Ied dengan cara memperingatkan dengan tegas semua takmir masjid dan meneruskan surat edaran kami mengenai larangan menyalakan mercon dalam bentuk apapun," katanya. ( Yd )

Minggu, 27 Juli 2014 08:59

Ngawi restorasihukum.com - Mesum di mushola siswi SMK digrebek warga Jogorogo Ngawi tepatnya di Musala Al Musyarifin Dusun Balai Panjang, Desa/Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Gusnjari (19) warga Desa Dadapan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi dan pasangannya, SR (17) warga Dusun Ngeleng, Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan ini merupakan pasangan muda mudi yang kedapaatan berbuat mesum di dalam Mushola.

Menurut saksi mata Gatot Hadi (45) mengatakan awalnya sekitar pukul 16.00 WIB, kedua pasangan ABG itu masuk ke dalam mushola. Keduanya berpura-pura hendak melaksanakan sholat Ashar. Akan tetapi, saksi curiga karena lelakinya menggunakan celana pendek. Oleh karenanya, saksi langsung mengintai perbuatan keduanya di dalam mushola tersebut.

Beberapa waktu kemudian Gatot mengajak warga untuk menggerebek pasangan mesum ini. Menurut penuturan warga kedua muda mudi ini dalam keadaan setengah telanjang dan posisinya dalam kondisi bertindihan yakni posisi yang cewek di bawah dan yang cowok berada di atas. Oleh warga kedua pelaku asusila ini diikat tali rafia dan dibawa ke Polsek Jogorogo.

 Menurut puhak kepolisian Kasat Reskrim Polres Ngawi, AKP Budi Santosa menyatakan warga menyerahkan kedua pasangan muda mudi ini yang sedang berbuat asusila dan mesum dimushola setempat. Untuk status pelaku pria sudah tidak bersekolah, tetapi yang perempuan masih pelajar SMK di Magetan. Usai pemeriksaan lengkap, keduanya bakal kami jerat pasal 281 KUHP tentang Tindakan Asusila di Tempat Umum dengan ancaman hukuman 2 tahun penjara. ( Ltf )
Minggu, 27 Juli 2014 08:38

Magetan restorasihukum.com - Seorang gadis berusia 17 tahun sebut saja EN, warga Desa Gunungsari, Nglames, Kabupaten Madiun, kemarin digelandang ke Mapolres Magetan, setelah tertangkap basah mencuri sepeda motor. EK ditangkap karena membawa kabur motor milik Diky Prasetyo, warga Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi.

        Modus pencurian yang diterapkan warga Gunungsari, Kecamatan Nglames, Kabupaten Madiun ini cukup unik. Lantaran usianya masih belia, pelaku memilih sasaran para pelajar. Dengan berpura pura kalau motornya sedang rusak, EK menghentikan laju kendaraan yang dikendarai seorang pelajar sebut saja  Diky. EK lantas meminta Diky untuk mengantarnya ke bengkel tempat motor EK diperbaiki. Lantaran tak memiliki SIM, korban di suruh duduk di belakang. Setelah sampai di Jalan Gunungan, Kartoharjo, Magetan, pelaku berpura-pura KTP nya jatuh. Lalu Diky disuruh mengambilkannya. Saat korban turun untuk mengambil KTP, EK langsung tancap gas membawa lari sepeda motor. Namun pelarian EK tidak berlangsung lama karena jejaknya sudah terlacak polisi.

         Menurut pengakuannya tersangka, sudah kedua kalinya berurusan dengan pihak kepolisian karena kasus yang sama. Menurut pihak kepolisian Polres Magetan AKP Susilo Budi Santoso menyatakan tersangka sudah diamankan berkat laporan korban dan kesigapan tim buser. Untuk barang bukti sudah kami amankan sebuah sepeda motor Honda beat nopol AE 4743 KW untuk tersangka sendiri terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara. ( Ikw )

Minggu, 27 Juli 2014 08:21

Bojonegoro restorasihukum.com - Anggota Polsek Sugihwaras, Aiptu Sugeng (45) terancam dipecat dari kesatuannya. Ancaman pemecatan ini setelah majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Bojonegoro mengganjar oknum polisi ini dengan hukuman satu tahun penjara.

         Aiptu Sugeng terbukti bersalah menggelar pesta narkoba bersama empat rekannya, Fery Sagita (27), M.Arifin (38), Khoirul Dedi (37) dan Djamil (64). Putusan pengadilan lebih ringan dari tuntutan JPU Dekri Wahyudi selama 1 tahun dan enam bulan. Hal yang memberatkan perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah memberantas peredaran narkotika.

         Terpisah Kapolres Bojonegoro AKBP Ady Wibowo mengaku akan menunggu proses pidana yang dijalani anggotanya itu. Setelah memiliki kekuatan hukum tetap, maka tidak menutup kemungkinan Aiptu Sugeng akan dipecat dari institusi Polri. "Biar dijalani dulu pidananya, setelah pidananya selesai baru disidang kode etik," ucap Kapolres.

        Mengenai aturan pemberhentian dengan tidak hormat, Kapolres menepis kalau putusan pidana setahun itu harus diikuti dengan pemecatan. Sebab dalam aturannya itu bunyinya "dapat" jadi bukan harus. "Makanya nanti kita lihat setelah dia menjalankan putusan pidana umumnya, kalau  masih bisa dipertahankan kita akan pertahankan, tapi kalau tidak bisa,  kita pecat," lanjut Kapolres.

         Mantan Kabag Ops Polrestabes Surabaya ini menambahkan, saat ini terpidana bersama empat rekannya masih berada di sel tahanan Lapas Kelas II A Bojonegoro. Besar kemungkinan, mereka akan menjalani hari raya di dalam sel penjara. Sebab enam bulan lagi mereka baru bisa menghirup udara bebas. ( Ltf )

Jumat, 25 Juli 2014 10:48

Lamongan restorasihukum.com Terkait pemberitaan yang lalu , dimuat oleh media ini yaitu Mal Praktek yang dilakukan oleh dokter Rino  bertugas di Klinik Permata Bunda Jalan Gotong Royong no 202 Babat Lamongan terhadap ibu bayi KA. Dugaan kuat Bayi yang terlahir ada unsur paksaan untuk dikeluarkan melalui operasi caesar.

Dari hasil investigasi media ini ternyata patah tulang terhadap bayi tersebut yang dilakukan Dokter Rino adalah empat ruas padahal sebelumnya yang kami tahu adalah dua ruas yaitu tangan kanan dan kiri. Menurut hasil medis ( USG)  Dokter Rino adalah  Kandungan ibu KA posisinya plasenta di bawah sehingga diberi obat agar Kontraksi dan selama 2 hari Ibu KA menjalani OP name  , sampai ke 3 harinya  kontraksi lagi dan langsung dibawah ke RS Bayangkara, Bojonegoro Di Rumah sakit itu diberi penguat kandungan.

Kembali ke klinik, Dokter Rino mengupayakan cara VT (buka jari) dan ternyata sudah buka 5, sehingga dokter Rino menyarankan untuk Operasi Caesar.  Diduga saat itulah, terjadi Mal praktek terhadap ibu KA. dimana adanya pematahan tulang 4 ruas.

LSM DCW. juga ikut mengamati hal yang dilakukan di Klinik tersebut dimana sebagai kepala Klinik Dr Eko Nursucahyo Sp Og berkomentar yaitu " Ini adalah hal yang biasa dan akan kembali semula bayi tersebut.  Dengan keterbatasan alat medis kami , dimana seharusnya Alat 4 dimensi untuk Usg, tapi yang kami punya hanya 2 dimensi . jadi penditeksian terhadap bayi kurang akurat. sehingga bayi tersebut berbentuk bulat kelainan terhadap fisik bayi tidak bisa di ketahui, " aku Dr Eko. N.     

Setelah bayi  milik KA terlahir, dirujuk ke RS Soegiri Lamongan , ditangani Dr Atik ( Spesialis Anak ), beliau menyatakan " Bayi milik KA adalah prediksi medis  CTV ( bengkok tulang) dan AMC ( kaku tulang) tapi hasil akurat medis adalah OI ( rapuh tulang). Jadi bayi tersebut adalah rapuh tulang sehingga butuh penanganan yang lebih baik ". Di RSUD Soegiri ternyata tidak dapat menangani sepenuhnya akan bayi tersebut lalu di rujuk ke RSUD Soetomo, Surabaya.

RSUD Soetomo, Surabaya mengatakan bayi tersebut adalah normal tidak membenarkan  penyataan RSUD Soegiri. Sampai saat ini bayi tersebut masih dirawat di RSUD Soetomo, Surabaya.

Berbeda, Dinas Kesehatan Lamongan, selaku penengah kasus ini untuk memediasi antara Ibu bayi korban dan penanggung jawab klinik ( Dr Eko. N), terkesan berpihak  pada Dokter Eko . " Kasihan Dokter Eko terkena masalah seperti ini siapa pun dokternya yang mengoperasi bakal terkena dampaknya akan bayi ini" kata Ummuronah Amd Keb SSt M kes selaku Bidang Pelayanan dan Kesehatan ( sambil tersenyum).

Kepala dinas Kesahatan DRG Fida Nuraida .M. Kes, " saya sibuk banyak tamu " sambil meninggalkan wartawan yang ingin mencari keterangan dari beliau. (Rd)

 

Jumat, 25 Juli 2014 10:34

Surabaya restorasihukum.com - Bermula dari hutang piutang yang terjadi antara Iw dan Li . Dimana Li sudah  bertahun tahun belum juga membayar . Membuat Iw dan Af (anak Iw ) naik pitam dan memukuli Li berkali kali bahkan sempat terjadi perampasan sebuah motor Honda Blade yang ada didalam rumah Li.

     Dari kejadian tersebut Iw dan Af dilaporkan oleh Li pada pihak berwajib yakni Polsek Suko Manunggal Surabaya lalu dilakukan pemeriksaan secara intensive .  Terbukti Iw dan Af telah melakukan penganiayaan terhadap Li serta melakukan pencurian sebuah motor Honda Blade milik Li. Akhirnya Iw dan Af dijerat dalam pasal 351 KUHP dan 363 KUHP tentang penganiayaan dan pencurian.

    Akhirnya Iw dan Af menjalani hukuman hanya selama 14 hari di Polsek Sukomanunggal.  Setelah itu mereka menghirup udara bebas . Dikarenakan pasal tersebut gugur otomatis yaitu adanya pencabutan perkara oleh Li . Dimana Li dijanjikan tidak harus membayar utangnya lagi ditambah Li mendapat bonus dari Iw yaitu berjumlah ratusan juta rupiah agar mencabut perkara ini . Atas dasar  kesepakan kedua belah pihak ini , Polsek Suko Manunggal membuat kebijakan atas perkara ini. Perjanjian hitam putih dari kedua belah pihak . Sehingga Pelaku  Iw dan Af dinyatakan bebas .

Ipda Rutri Setiawanto (panit 2) sebagai penggati AKP Sokarno (kanit Reskrim) karena sakit mengatakan " Pelapor (Li) menghendaki perkara ini berhenti sampai disini, dibebaskan bersyarat dari pihak pelapor karena satu rangkaian ( Pasal 351 dan 363 KUHP ) artinya tidak menjalani hukuman dari salah satu pasal pun.  Dan ini pun adalah kebijakan dari pimpinan kami Kompol Purbaya ".

Humas Polrestabes Surabaya, Suparti SH mengatakan ada kemungkinan bahwa Kompol Purbaya mengambil kebijakan demikian karena kasus ini ada unsur pidananya kurang, kedua belah pihak hubungan  baik juga latar belakang kasus ini adalah bermula dari kasus perdata  "

Kapolres Drs Setija Jinianta SH M Hum, saat  akan dimintai keterangan tidak bisa dan  banyak tamu yang menunggu di ruang tamu beliau sehingga kami pun cukup memintai keterangan dari humas selaku corong Polresta Surabaya.

 Kebijakan itu bisa mengalahkan KUHP ( UU ), mengingat ada dasar yang bisa di toleransi. (Rd)

Jumat, 25 Juli 2014 10:20

Mojokerto restorasihukum.com - Meski mengantongi izin pertambangan dari Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPTPM) Kabupaten Mojokerto, lokasi pertambangan pasir dan batu (galian C) milik Achmad Anwar, Kepala Desa (Kades) Karang Diyeng ditutup paksa polisi,

       Galian C yang berlokasi di Desa Karang Diyeng, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto itu keluar dari titik koordinat yang telah ditentukan dalam perizinan. Akibatnya, lima eskavator milik Anwar disita polisi. Pantauan restorasihukum.com di lokasi, sempat terjadi ketegangan antara Garnisun dengan seseorang yang diduga anggota TNI disinyalir menjadi 'backing' di lokasi galian. Saat orang itu hendak meninggalkan lokasi galian, berhasil dicegah anggota Garnisun yang ikut dalam penertiban. Sebuah Kartu Tanda Anggota (KTA) miliknya disita Garnisun.

      Kepala BPTPM Kabupaten Mojokerto, Noerhono menjelaskan, galian C milik Kades Karang Diyeng ini telah mengantongi izin. Izin tersebut berupa IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan telah dikeluarkan sejak Agustus 2010 dengan nomor 188.45/467/HK/416-012-2010. Dalam izin yang berlaku sampai Agustus 2015, luas lahan yang digarap Anwar 5,44 hektar. "Soal perizinan sejak tahun 2007 selalu ada izinnya, yang terbaru dikeluarkan tahun 2010 dengan masa berlaku lima tahun," jelas Noerhono kepada restorasihukum.com di lokasi.

      Meski sudah berizin, tim gabungan antara polisi, TNI, Garnisun, Denpom dan Pemkab Mojokerto tetap melakukan penutupan paksa. Pasalnya, saat dilakukan pengukuran lahan garapan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mojokerto, terbukti lahan yang digarap Anwar keluar dari titik koordinat yang ditentukan dalam surat izin miliknya. "Telah dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat GPS (global positioning system), kita temukan koordinat yang berada dalam izin tidak sesuai dengan koordinat yang diukur oleh BLH. Lahan yang digarap keluar atau melampaui dari titik koordinat yang telah ditetapkan dalam izin yang dimiliki yang bersangkutan," kata Kapolres Mojokerto, AKBP Muji Ediyanto di lokasi.

     Muji menambahkan, sesuai UU Minerba No 4 tahun 2009, pelanggaran terhadap titik koordinat terancam sanksi pidana yang sama dengan pelanggaran izin galian. Pemilik galian C terancam 10 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar. "Hari ini atau besok pemilik akan kita periksa, yang penting alat berat kita bawa ke Mapolres," imbuhnya. Dalam penertiban kali ini, tim gabungan menyita 5 eskavator yang berada di lokasi galian. Alat berat ini diamankan di Mapolres Mojokerto sebagai barang bukti. ( Fdk )

Jumat, 25 Juli 2014 09:19

Mojokerto restorasihukum.com - Penyalagunaan bantuan pupuk bersubsidi semakin merajalela di Kabupaten Mojokerto seperti yang ada di Desa Sumber Tanggul Kecamatan Mojosari sebut saja  FJ  seorang pengusaha pupuk yang ada didesa tersebut untuk mendapatkan keuntungan yang banyak guna memperkaya diri  FJ  diduga memproduksi pupuk jenis NPK dan KCL  dengan mengunakan campuran pupuk ZA bersubsidi hingga mendapatkan hasil yang sangat baik dan berkualitas.

    Keterangan yang didapat dari salah satu karyawan FJ menyampaikan " Saya hanya menjalankan tugas pak, disuru begini ya saya ikuti saja lagian saya juga ngak tahu yang penting saya bisa bekerja untuk menopang kebutuhan saya sehari hari bersama keluarga.'' Ungkapnya.

    Keluhan masyarakat di ketahui bersama selain pupuk NPK harganya mahal apalagi yang tidak bersubsidi (NPK Mutiara, NPK BASF dan NPK Hydro), juga terkadang NPK bersubsidi kalau sedang di butuhkan sulit didapatkan dikios-kios. Yah……. namanya barang bersubsidi, kadangkala dijadikan sebagai bahan permainan para pedagang. Walaupun terkadang sangat merugikan petani (barang langka dan harga diatas HET).

      Cara membuat pupuk NPK sendiri tergolong sangat mudah. Contoh , Pertama kali tentukan dulu kandungan pupuk NPK yang akan di buat. Untuk lebih mempermudah penjelasan, contoh akan membuat pupuk NPK sendiri dengan kandungan 20:15:10.

      Hitung kebutuhan pupuk NPK yang akan di buat. Misalnya akan membuat 200 Kg pupuk NPK dengan kandungan 20:15:10. Hitung jumlah masing-masing unsur hara yang di butuhkan. Unsur N : 20% X 200 = 40 kg. Unsur P : 15% X 200 = 30 Kg. Unsur K : 10% X 200 = 20 Kg. Lalu konfersikan kebutuhan masing-masing unsur hara dengan pupuk tunggal yang telah di persiapkan (Urea, SP36 dan KCl). Kandungan N dalam urea adalah 54% maka untuk mendapatkan N 40 Kg maka di butuhkan Urea (100 : 54) X 40 = 74 Kg Urea. Untuk mendapatkan unsur P 30 Kg di butuhkan SP36 (100 : 36) X 30 = 83,3 Kg SP36. Sedangkan kebutuhan unsur K sebesar 20 Kg akan di perolaeh dari KCl (100 : 45) X 20 = 44,4 Kg.

      Oleh karena itu NPK dengan komposisi 20 : 15 : 10 sebanyak 200 Kg setara dengan Urea 74 Kg + SP36 83,3 Kg + KCl 44,4 Kg. Dari hasil informasih yang ada untuk memenuhi unsur ( N ) diduga FJ mengunakan pupuk ZA bersubsidi hingga mencapai keuntungan yang sebanyak banyaknya maka dari itu diharapkan aparat penegak hukum bisa menindak tegas bila mana ditemukan barang bukti yang bisa membawa FJ kemeja hijau. ( Rd )