Kerusakaan Jalan Di Berbagai Daerah , Siapa Yang Diuntungkan?

0
168
Gresik, restorasihukum.com – Kondisi jalan nasional di sejumlah kawasan saat ini sangat memprihatinkan dan memerlukan perhatian serius pemerintah. Selain menimbulkan dampak kerugian ekonomi cukup besar, juga mengancam keselamatan. Belum lagi, dampak kemacetan yang ditimbulkan.
 
          Lihat saja, kerusakan di Jalan Daendles di Desa Betoyo, Kabupaten Gresik. Kerusakan yang terjadi antara Kecamatan Manyar dan Kecamatan Sadang sepanjang kurang lebih 35 km itu, memberikan kerugian cukup besar bagi masyarakat dan pemerintah. 
 
           Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf saat meninjau lokasi jalan rusak di Betoyo menyebutkan, kerugian akibat kerusakan jalan sangat banyak. Selain menimbulkan kemacetan dan kerusakan kendaraan bermotor, juga nilai ekonomi tersendat akibat arus transportasi terhambat.
 
         Di sisi pemerintah, kerugiaan negara mencapai Rp 7 miliar per hari akibat arus logistik tidak sesuai jadwal datangnya. Akibatnya, banyak pengiriman logistik menjadi tertunda yang pada gilirannya stok barang juga langka dan berakibat naiknya harga-harga di pasaran.
 
          Perbaikan kerusakan jalan nasional memang harus menjadi fokus utama pemerintah. Perbaikan harus dilakukan sesegera mungkin tanpa harus menunda-nunda kalau tidak ingin memperparah kerusakan dengan dampak juga semakin luas.
 
         Kita bisa melihat betapa buruknya transportasi darat di jalur pantai utara (pantura) Jawa, mulai Jawa Barat hingga Jawa Timur. Buruknya jalan pantura membuat kemacetan di sana sangat parah. Jalanan di pantura juga sudah menelan korban jiwa tidak sedikit.
 
        Kerusakan jalan seperti yang saat ini ditemui di Betoyo, sebenarnya bisa diantisipasi karena tidak semua kerusakan jalan akibat hujan dan banjir. Bukan rahasia umum lagi, perbaikan jalan sudah menjadi semacam ‘proyek’ yang menguntungkan segelintir orang tidak bertanggung jawab. Ada beberapa faktor kenapa jalan sering rusak. Bukan cuma jalan nasional, melainkan juga jalan provinsi serta kabupaten dan kota.
 
         Pertama, kualitas aspal buruk sehingga mudah mengelupas saat terkena air hujan. Padahal, jika aspal itu berkualitas baik, tentu bisa bertahan lebih lama. Celakanya, fenomena ini tampaknya disengaja dan dipelihara karena ada yang diuntungkan dengan munculnya proyek perbaikan jalan yang terus-menerus. 
 
           Kedua, tonase atau beban kendaraan yang melewati jalan tidak sesuai standar. Petugas berwenang harusnya bisa bertindak tegas dengan melarang kendaraan yang beratnya melebihi kapasitas jalan yang dilewati.      
 
           Ketiga, tidak berfungsinya irigasi di sekitar jalan yang membuat guyuran hujan akhirnya meluber sampai ke jalan. Genangan itulah yang akhirnya juga mempercepat kerusakan aspal jalan.
 
           Keempat, masih digunakannya aspal pada sebagian besar perbaikan-perbaikan jalan rusak. Padahal kita tahu, aspal memiliki banyak kelemahan terutama bila bertemu air. Pemerintah harusnya segera mewajibkan seluruh pembangunan jalan dengan beton yang pasti memiliki ketangguhan lebih dibanding aspal. 
 
           Berbagai faktor di atas harus segera mendapat perhatian serius dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan pihak terkait lain. Pembangunan jalan tak bisa ditunda lagi karena kondisinya sudah sangat darurat. Meski begitu, perbaikan jalan tidak boleh asal dilakukan. Perbaikan harus dilakukan secara serius dan berkualitas. Kalau tidak,  jalan yang baru diperbaiki tak akan berumur panjang. Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here