LAWANG, restorasiHukum.com – Keluhan warga sekitar Pabrik Gula Krebet Baru, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang kembali mencuat seiring masuknya musim giling tebu 2026. Lewat unggahan di grup Facebook “BULULAWANG 24 jam”, warga mengimbau pengguna jalan untuk memakai helm tertutup kaca saat melintas di area PG Krebet Baru.
“Himbauan kepada pengguna Jalan jika lewat sekitar PG KREBET BARU Gunakanlah helm yg tertutup kaca karna jika musim giling debu _POLUSI PG KREBET BARU_ Sangat mengganggu dan berbahaya jika kena mata kita…” tulis akun Aftaseven Malang pada unggahan 16 Juni 2026 yang sudah mendapat 367 reaksi dan 88 komentar.
Dalam postingan yang disertai foto suasana jalan di depan PG Krebet Baru, warga juga menyuarakan harapannya agar pejabat terkait lebih peduli terhadap dampak lingkungan. “Semoga Pejabat terkait peduli dgn lingkungan kami yg selalu terdampak Polusi PG Krebet ini…” lanjut caption tersebut.
Debu tebu rawan ganggu pernapasan & mata
Musim giling PG Krebet Baru biasanya berlangsung Juni – Oktober tiap tahun. Selama periode ini, aktivitas penggilingan tebu 24 jam memicu keluarnya abu, ampas tebu, dan asap cerobong. Ditambah jalan akses yang masih sebagian berbatu/tanah, debu beterbangan mudah terhirup pengendara motor.
Dokter spesialis paru RSUD Lawang sebelumnya menyebut paparan debu organik tebu dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan iritasi saluran napas, batuk kronis, hingga gangguan mata. Karena itu helm full face atau kacamata pelindung disarankan bagi warga yang melintas.
Warga minta pengawasan ketat DLH
Keluhan serupa sebenarnya sudah berulang tiap tahun dari warga Bululawang, Lawang, hingga Singosari yang berada di ring 1-2 PG Krebet. Mereka meminta Dinas Lingkungan Hidup Kab. Malang dan Pemkab Malang memperketat pengawasan emisi cerobong serta penyiraman jalan/penutupan bak truk tebu agar debu tidak beterbangan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari manajemen PG Krebet Baru maupun DLH Kab. Malang terkait langkah penanganan polusi musim giling tahun ini.
Warga berharap, selain imbauan keselamatan, ada solusi jangka panjang seperti perbaikan jalan, pemasangan water spray di titik rawan debu, dan pemantauan kualitas udara secara berkala. (Red/tim)











