Jadi Keynote Speaker Simposium Bandung Asia Afrika City Network, Wamendagri Bima Arya: Branding Adalah Identitas Kota

0
71

Bandung, restorasihukum.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa city branding atau pencitraan kota merupakan elemen penting dalam membentuk identitas sebuah kota. Menurutnya, branding tidak sebatas slogan atau kalimat promosi, melainkan cerminan dari karakter, cerita, serta aspirasi yang membuat suatu kota dikenali oleh publik.

“Branding adalah cerminan dari siapa kita dan bagaimana kita dikenali,” ujar Bima saat menyampaikan pidato kunci dalam Simposium Bandung Asia Afrika City Network yang digelar di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Kota Bandung, Jawa Barat, pada Senin (19/5/2025).

Ia menyampaikan bahwa city branding membantu masyarakat dalam memahami karakteristik kota secara lebih cepat dan kuat. Sebagai contoh, Bima menyebut Bandung yang memiliki identitas kuat sebagai kota kreatif, berkat proses panjang dan konsistensi dalam mengembangkan sektor tersebut.

“Bandung memiliki branding yang sulit ditandingi sebagai kota kreatif. Itu hasil dari sumber daya dan upaya yang tidak sederhana,” ujarnya.

City branding, menurut Bima, juga harus bersumber dari kekayaan narasi lokal dan sejarah suatu daerah. Ia mencontohkan branding seperti kota pahlawan, kota pelajar, atau kota taman, yang memiliki akar kuat pada kisah-kisah lokal, termasuk warisan sejarah seperti Kerajaan Sunda Pajajaran.

Tak hanya itu, ia juga menekankan bahwa city branding harus selaras dengan visi pembangunan jangka panjang. Ia mengapresiasi Singapura sebagai contoh negara yang berhasil menerapkan branding secara menyeluruh dalam kebijakan dan perencanaan kota.

“Singapura adalah contoh ideal. Mereka berhasil mewujudkan branding ke dalam setiap aktivitas pembangunan,” katanya.

Bima menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi rumah bagi kota-kota dengan identitas kuat. Sebagai contoh, ia menyebut Kota Blitar yang menyimpan nilai historis tinggi karena menjadi tempat kelahiran dan peristirahatan terakhir Presiden Soekarno. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan maksimal sebagai bagian dari strategi city branding daerah.

“Soekarno bukan hanya tokoh sejarah, tapi juga sumber nilai dan narasi yang kuat. Sayangnya, ini belum benar-benar digarap sebagai identitas kota,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Bima mendorong seluruh pemimpin daerah dan pemangku kepentingan untuk menjadikan city branding sebagai bagian penting dari strategi pembangunan kota. Menurutnya, di tengah persaingan global yang semakin ketat, kota perlu memiliki identitas dan narasi yang kuat untuk dapat bersaing di kancah internasional.

Simposium ini turut dihadiri Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Wakil Rektor ITB Irwan Meilano, serta berbagai perwakilan dari kota-kota dalam jaringan Asia Afrika. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here