Media Trip Taman Nasional Ujung Kulon Berlangsung Sukses, dari Spot Surfing hingga Kiara Ratusan Tahun

0
60

Pandeglang, restorasihukum.com – Dalam upaya mempromosikan potensi ekowisata serta memperluas publikasi program konservasi Badak Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) mengadakan kegiatan media trip yang melibatkan puluhan jurnalis dari media cetak, online, dan radio, baik lokal maupun nasional. Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan The Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) dan Pulau Peucang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Acara ini turut dihadiri oleh Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, beserta pengurus pusat dan daerah. Dari kalangan radio, hadir pula tim dari 95,1 Ujung Kulon FM.

Dalam sambutan pembuka, Kepala Seksi Pengelola TNUK Wilayah II, Azis Abdul Latif Muslim, menjelaskan bahwa TNUK sedang mempersiapkan translokasi Badak Jawa ke area baru dekat JRSCA untuk keperluan konservasi dan pengembangbiakan.

Sementara itu, Kepala Seksi Wilayah I Tamanjaya, Dedi Juherdi, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan potensi wisata alam dan edukatif di kawasan TNUK, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan. “Kita ingin menunjukkan bahwa Ujung Kulon tidak hanya tentang konservasi, tetapi juga memiliki nilai wisata dan pendidikan yang besar,” ujarnya.

TNUK menawarkan tiga destinasi utama:

  • Pulau Panaitan: terkenal sebagai spot surfing kelas dunia dengan ombak besar yang menantang, sangat digemari peselancar internasional.

  • Pulau Peucang: menyajikan pengalaman wisata alam dan edukatif. Pengunjung dapat melihat langsung fauna liar seperti rusa, monyet, dan burung bangau, serta menginap di vila yang nyaman di tengah hutan tropis.

  • Pulau Handeuleum: menawarkan wisata susur sungai dan pengamatan satwa liar di habitat alami.

Salah satu daya tarik Pulau Peucang adalah Pohon Kiara raksasa, yang menjadi ikon wisata dan sering menjadi latar foto para pengunjung.

Wilson Lalengke menyampaikan apresiasi atas undangan media trip ini. Ia mengaku baru menyadari bahwa TNUK menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Ia mendorong agar kegiatan seperti ini rutin dilakukan guna memperluas publikasi lewat jejaring media.

“Wisata alam seperti di TNUK sangat penting untuk edukasi dan pengembangan karakter generasi muda. Kolaborasi dengan pewarta, fotografer, bahkan pembuat film, akan mempercepat popularitas destinasi seperti ini,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mendorong jajaran TNUK untuk belajar menulis berita, mengambil gambar, dan membuat video dokumentasi agar setiap kegiatan dapat terdokumentasi dan dipublikasikan secara mandiri.

“Dengan kemampuan pewarta warga, kegiatan konservasi dan ekowisata bisa lebih cepat dikenal publik tanpa selalu bergantung pada media eksternal,” tambahnya.

Media trip ini diharapkan menjadi titik awal bagi upaya berkelanjutan dalam memperkenalkan TNUK sebagai kawasan strategis konservasi dan destinasi ekowisata unggulan Indonesia. (TIM/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here