Pakar Sastra Dari Prancis Dan Korsel Hadiri Seminar STKIP Ponorogo

0
180

Ponorogo, restorasihukum.com – Dengan mengundang pakar dari Prancis dan Korea Selatan, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Ponorogo, Jawa Timur, menggelar seminar internasional tentang sastra.

     Dimana pada acara itu juga akan diluncurkan buku karya Maman S Mahaya yang juga pernah menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) berjudul Kitab Kritik Sastra. 

    Dengan adanya kegiatan ini, ketua panitia seminar internasional, Adip Arifin, berharap para guru dan mahasiswa mampu menggali dan memanfaatkan kesempatan emas untuk mengail nilai pendidikan karakter dari sastra.

     Dalam keterangan tertulisnya, pembantu ketua II Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ponorogo Dr Sutejo, MHum menjelaskan para pembicara dalam seminar itu adalah pakar Asia Dr Etienne Naveau (Inalco Paris, Prancis), pakar sastra Indonesia-Melayu Dr Lee Yeon (Hankuk University of Foreign Studies, Seoul Korea), dan pakar sastra Maman S Mahayana (Universitas Indonesia).

    “Seminar ini dilaksanakan dalam rangka dies natalis sekaligus publikasi hasil penelitian empat dosen STKIP PGRI yang didanai oleh Dikti Jakarta tahun anggaran 2015, Dr Kasnadi, M.Pd., Dra Ririen Wardiani M.Pd., dan Dra. Siti Munifah, M.Pd dan saya sendiri,” ujarnya.

      Melalui seminar ini, menurut Sutejo, pihaknya ingin mengajak para guru dan mahasiswa untuk memanfaatkan karya sastra sebagai media pendidikan karakter. Sastra punya potensi luar biasa jika bangsa ini mau memanfaatkannya.

      Selain itu Sutejo mengaku prihatin dengan masih rendahnya integrasi nilai-nilai kehidupan dalam pembelajaran sastra di masyarakat Indonesia, para siswa dan mahasiswa, para guru, bahkan di kalangan dosen.

      Padahal, imbuh Sutejo proses pendidikan karakter tidak saja lewat agama atau PPKn tetapi bisa melalui karya sastra.

     “Kita memperluas vibrasi fungsi kita sebagai pendidik lebih luas lagi, yakni melalui integrasi sastra untuk pendidikan karakter dan mental pelajar.Itu impian kami, kampus kami menjadi pelopor pembumian sastra,” tuturnya.

      Sedangkan dengan apa yang dilakukan oleh Maman S Mahayana yang telah menulis puluhan buku dan aktif menulis kritik sastra, Sutejo mengaku kagum. karena sepeninggal HB Jasin praktis hanya S Mahayana yang masih konsisten. (sdrwnt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here