Pemko Gunungsitoli Peringati Hari Kebangkitan Nasional

0
357

GUNUNGSITOLI, restorasihukum.com – Pemerintah Kota Gunungsitoli melaksanakan Upacara Hari Kebangkitan Nasional ke-111 bertempat di halaman Kantor Walikota Gunungsitoli yang diikuti oleh sejumlah Unsur Forkopimda Kota Gunungsitoli, Kepala Perangkat Daerah lingkup Pemerintah Kota Gunungsitoli, Perwira TNI dan Polri, perwakilan Sekolah-sekolah beserta seluruh ASN lingkup Pemerintah Kota Gunungsitoli, Senin (20/5/2019).

Walikota Gunungsitoli, Ir. Lakhomizaro Zebua bertindak sebagai Inspektur Upacara, dalam amanatnya membacakan Pidato Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara. Dalam pidato tersebut dipaparkan bahwa makna Hari Kebangkitan Nasional ke-111 telah tertuang sejak lama dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Sebagaimana dikutip dalam naskah Sumpah Palapa yang ditemukan pada Kitab Pararaton tertulis.

“Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada”. Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.

Memang ada banyak versi tafsiran atas teks tersebut, terutama tentang apa yang dimaksud dengan “amukti palapa”. Namun meski sampai saat ini masih belum diperoleh pengetahuan yang pasti, umumnya para ahli sepakat bahwa amukti palapa berarti sesuatu yang berkaitan dengan laku prihatin sang Mahapatih Gajah Mada. Artinya, ia tak akan menghentikan mati raga atau puasanya sebelum mempersatukan Nusantara. katanya

Dikatakannya, Sumpah Palapa tersebut merupakan embrio paling kuat bagi janin persatuan Indonesia. Wilayah Nusantara yang disatukan oleh Gajah Mada telah menjadi acuan bagi perjuangan berat para pahlawan nasional kita untuk mengikat wilayah Indonesia seperti yang secara de jure terwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini. Maka Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-111, tanggal 20 Mei 2019, kali ini sangat relevan jika dimaknai dengan teks Sumpah Palapa tersebut. Kita berada dalam situasi pasca-pesta demokrasi yang menguras energi dan emosi sebagian besar masyarakat kita. Ujarnya

Dengan semua harapan kiranya sangat relevan apabila peringatan Hari Kebangkitan Nasional,disematkan tema ‘Bangkit Untuk Bersatu’. Kita bangkit untuk kembali menjalin persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI”, tegasnya.

Diakhir pidatonya ia menitipkan pesan kepada seluruh peserta upacara untuk meningkatkan rasa persatuan, kekeluargaan dan gotong-royong. Bukan hanya di tanah Jawa, semangat persatuan dan gotong-royong telah mengakar dan menyebar di seluruh Nusantara. Ini dibuktikan dengan berbagai ungkapan tentang kearifan mengutamakan persatuan yang terdapat di seluruh suku, adat, dan budaya yang adadi Indonesia. Kuncinya terletak pada keinginan kita untuk tetap menjaga momentum dan iklim yang tenang untuk bekerja. Kita harus jaga agar suasana selalu kondusif penuh harmoni dan persatuan.

Upacara berlangsung khidmat, dan dilanjutkan dengan Ziarah Nasional dan Tabur Bunga di Taman Makam Pahlawan, Desa Mudik Gunungsitoli, yang dihadiri oleh Walikota Gunungsitoli, Bupati Nias, Kepala BNN Kota Gunungsitoli, beserta Sekda Kota Gunungsitoli, Perwira TNI dan Polri. Sedangkan yang bertindak selaku Inspektur Upacara yaitu Kapolres Nias, AKBP Deni Kurniawan, SIK. MH, Bag.Humas dan Keprotokolan Setdakot Kota Gunungsitoli.
(al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here