Blitar, restorasihukum.com – Meski dengan keterbatasan anggota tubuhnya, anak buruh tani asal Dusun Bululawang, Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar dengan enjoy mengerjakan soal mata pelajaran yang diujikan pada Unas.
Wit Tutur (15) Tak canggung saat mengikuti ujian nasional (Unas) di sekolahnya, Madrasah Tsanawiyah (MTS) Negeri Kecamatan Srengat, yang berada Dusun Langkapan, Desa Maron.
Bahkan, ia tak tampak minder di antara teman-temannya. Sepertinya, ia sadar betul dengan kekurangannya itu. Makanya itu, ia jauh-jauh hari menyiapkan diri sebelumpelaksanaan Unas. Malah di sekolahnya, ia rangking lima besar.
Selain itu ia juga pernah juara tiga lomba membaca dan membuat puisi tingkat Pemprov Jatim, untuk tingkat pelajar SMP. Itu tahun 2014 lalu.
Seperti yang di katakan Dra Nanik Nur Hajati, Kasek MTSN Srengat, bahwa “Walaupun kondisi fisiknya seperti itu, namun ia sangat mandiri. Bahkan, kepeduliannya cukup tinggi. Misalnya, melihat ada sampah di sekolah, ia langsung pungut dengan kakinya dan dimasukkan ke bak sampah”.
Dan yang membuat para gurunya kian salut, papar Nanik, tiap jam istirahat, tak dipakai bermain. Namun, anak pasangan M Kholili (40) dan Anisa (38) ini selalu rajin menjalankan salat Dhuha di musala sekolah.
Dari istiqomahnya menjalankan Salat Dhuha itu, segala urusannya dimudahkan. Seperti, sebelum lulus, ia sudah diterima di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Blitar, melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK) siswa.
Sedangkan untuk ke sekolah, tiap hari ia diantarjemput ibunya dengan dibonceng sepeda motor karena jarak rumahnya dengan sekolahannya itu sekitar 7 km.
Karena keterbatasan yang di miliki itu, untuk menulis ke lembar jawaban, ia menggunakan kedua kakinya, yang sekaligus difungsikan layaknya kedua tangannya. Namun demikian, ia terlihat dengan cekatan menulisnya.
Dengan cara menjepit pensil di antara ibu jari dengan telunjuk jari kaki kanannya. Begitu juga saat menghapus atau mengambil penggaris, juga tak kesulitan.
Usai mengerjakan soal Wit Tutur mengatakan,”Walaupun saya sakit seperti ini, namun saya berusaha berbuat seperti orang normal”.
“Saya ingin melanjutkan sampai perguruan tinggi karena saya ingin jadi seorang dokter,” pungkasnya.(dd)








