Lakukan Sidak Pasar, Pakde dan Risma Kompak

0
213

Surabaya, restorasihukum.com –.Untuk mengecek harga beras setelah dilakukan operasi pasar (OP) beras oleh Bulog dan Disperindag Jatim, Gubernur Jatim Soekarwo dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pantauan langsung untuk mengetahui harga beras di Pasar Soponyono Rungkut Surabaya, Kamis.

     Walikota Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, Pemkot Surabaya juga melakukan OP khususnya di wilayah-wilayah pinggiran dan tempatnya di Balai RW. Beras yang dijual ke masyarakat saat OP juga beras dari Bulog  dan sampai saat ini sudah mencapai 20 ton beras.

     Selain itu Pemkot juga menggelar OP minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. “Kita sudah mulai sejak dua minggu lalu, dan sengaja kita tidak melakukan OP di pasar karena saat permintaan di pasar turun maka harga akan turun dengan sendirinya,” tukasnya.

     Sementara itu, terkait hal tersebut Pakde berjanji akan terus melakukan operasi pasar (OP) sampai harga beras turun dan kembali stabil. “OP beras ini akan terus kami laksanakan sampai harga beras kembali stabil. Khusus OP hari ini,  harga beras medium dijual Rp 7300/kg. OP khusus Surabaya telah disiapkan sebanyak 80 ton/hari,” katanya.

     Dia mengatakan, harga beras medium saat ini mencapai Rp 9200/kg dan premium Rp 11.050/kg.  Dengan dilakukannya OP di beberapa pasar,  diharapkan harga beras bisa turun di kisaran Rp 7.500-Rp 8.000/kg untuk jenis beras medium dan Rp 8.500-Rp 9000/kg jenis beras premium. “Meskipun dua hari ini harga telah turun di kisaran Rp 300-Rp 500/kg, namun, setelah dilakukan OP harga beras menjadi Rp 8.700 untuk medium dan Rp 10.800 untuk premium,” imbuhnya.

     Kenaikan harga beras beberapa pekan terakhir, Pakde menjelaskan bahwa hal ini disebabkan terjadinya paceklik selama Desember-Februari petani tidak panen. Saat paceklik pemerintah harus mensubsidi beras miskin (raskin), namun distribusi raskin dari pusat terlambat. “Keterlambatan distribusi raskin inilah yang menyebabkan kenaikan harga beras, padahal seharusnya akhir Januari raskin sudah terdistribusi,” tuturnya.

     Pakde juga menyampaikan bahwa per akhir Maret, hasil panen di Jatim mencapai 500 ribu Ha atau setara 3,1 juta ton beras. Total hasil panen sebesar 7,8 juta ton/tahun, sedangkan kebutuhan masyarakat hanya 3,8 juta ton/tahun, sehingga ada kelebihan produksi 4,4-4,6 juta ton.

     Dengan hasil panen itu kebutuhan beras Jatim per akhir Maret sangat stabil. Sehingga ketika ada kelebihan stok beras, Jatim bisa mengirim beras ke Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya.

     “Ketika harga beras sudah stabil jangan melakukan OP lagi, karena ini bisa menyebabkan harga gabah kering turun,” tegasnya.

     Karena menurutnya Jatim sebenarnya terkena imbas tingginya harga beras di Jakarta dan luar Jawa sehingga terjadi panic buying  pada masyarakat. Bahkan di Jateng dan Jabar terjadi gagal panen, sedangkan stok beras Jatim sebenarnya masih cukup.(dts)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here