Jombang, restorasihukum.com – Para alumni mahasiswa Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang mendukung upaya hukum dalam penyelesaian kasus wisuda ilegal yang terjadi selama ini.
Hal ini di tegaskan oleh Aan Anshori, salah satu alumni kampus yang berada di Jalan Gus Dur Jombang.
Aan juga mendesak Menteri Riset dan Teknoligi Moh Nasir untuk tidak mempolitisasi kemelut yang terjadi di tubuh Undar.
Ia mengatakan, “Saya menyerukan kepada semua pihak untuk mampu menahan diri dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang bisa memperkeruh suasana”.
Alumni D-3 Mikom (Manajemen Informasi dan Komputer) ini juga menyayangkan tentang adanya dugaan ijazah palsu di kampus yang didirikan almarhum KH Mustain Romly.
Menurut Aan, mereka ibarat zombie yang siap menyebarkan virus “kuliah mudah” ke lingkungannya. Bahkan yang memilukan, zombie-zombie ini acapkali bertindak sebagai broker yang meraup untung dari mahasiswa baru yang disetorkan.
Mereka bisa mengantongi ijasah dari fakultas yang mereka pilih, dengan hanya berbekal uang Rp. 14-18 juta ditambah ritual kuliah yang ala kadarnya selama setahun.
“Fenomena jual-beli ijasah aspal ini sangat mencoreng wajah kampus ini dan mengkhianati cita-cita luhur yang telah dipancang lama KH. Mustain Romly,” ujarnya.
Aan yang juga menjadi kordinator JGD (Jaringan Gus Durian) Jawa Timur (Jatim) ini mengungkapkan, sebagai alumni Undar, dia merasa prihatin dengan kemelut yang terjadi.
Terlebih kebijakan Menristek Moh Nasir yang menonaktifkan Undar. Pasalnya, hal itu telah menimbulkan erupsi akademik dan membuat kekalutan ribuan mahasiswa yang namanya tercatat dalam database Direktorat Pendidikan Tinggi.
Dari sudut pandang Aan, konflik Undar disebabkan oleh persoalan yang cukup komplek. Silang sengkarut ini,dipicu dari minimnya kerendahhatian para pihak di internal Yayasan untuk bisa berjalan bersama membesarkan kampus ini.
Kekacauan tersebut menjadi penting untuk direfleksikan bersama bahwa berlarut-larutnya konflik ini membuktikan gagalnya model penyelesaian konflik berbasis menang-kalah. “Jika paradigma menang-kalah dipaksakan terus-menerus, maka yang tersisa hanyalah warisan luka menganga bercampur dendam pada pihak yang merasa kalah,” pungkasnya. (sprt)










