Mojokerto restorasihukum.com – Pemilik PT. Graha Pangan Sentosa (GPS) Balong Mojo Kecamatan Puri Mojokerto yang memproduksi berbagai macam Roti, lebih dikenal dengan nama pabrik roti Bolu, diduga mengabaikan kualitas dan akibat untuk kesehatan konsumennya, salah satu bahan utama pabrik roti ini diduga menggunakan telor ayam yang gagal untuk ditetaskan, dengan kata lain telor limbah (Invertil).
Berdasarkan pengaduan warga Desa Cangkring Randu Kecamatan Perak Jombang kepada Restorasi Hukum Nasional ( RHN ). Adanya kegiatan haram yang dilakukan oleh PT. CHAROEN POKPHAND JAYA FARMA-HTC yang menjual telor invertil tidak pada mestinya maka wartawan RHN investigasi akan kebenaran berita tersebut.
Dari hasil investigasi, menurut keterangan dari karyawan PT. CHAROEN POKPHAND JAYA FARMA-HTC yang enggan disebut namanya mengatakan, bahwa DO yang dikeluarkan dari Pabrik adalah jenis telor invertil atau telor yang sudah di oven selama 18 hari dan telor ini tidak layak dikonsumsi manusia karena sudah mengandung faksin, seharusnya telor invertil tersebut untuk pakan ikan lele (sesuai surat jalan dari Pokphand), ini juga tidak jau berbeda dengan PT. Pokphand di tempat lain contoh Sirat Lamongan.
Wartawan RHN pada kamis pukul 08.30 WIB (16/10) mendapati pengiriman telor Invertil yang di muat Pick Up Mitsubuzi L300 yang di tutup rapat tanpa dilengkapi surat jalan masuk ke area pabrik PT. Graha Pangan Sentosa (GPS) jalan raya by pas KM 54 Mojokerto. Diketahui pabrik tersebut memproduksi Roti Bolu, RHN sempat dihalangi oleh keamanan saat ingin mengetahui adanya pengiriman telor invertil tersebut.
Lebih lanjut (22/10) manager perusahaan GPS Hendrik mengundang RHN untuk gunakan hak jawab, namun dengan nada tinggi Hendrik membela diri, meski tidak bisa menunjukkan berkas DO surat jalan dari mana asal telor limbah ( invertil ) tersebut, dan tidak mengakui bahwa telor tersebut dari Sirat Lamongan karena menurut Hendrik telor linvertil tersebut didapat dari Suplaiyer asal gempol Pasuruan Yuli Sulistyowati.
Masih dalam pembelaan dari GPS pada (27/10) mengundang kembali RHN dengan
mendatangkan Yuli (suplaiyer) Dokter Hewan dan seorang anggota Brimob Porong yang bernama
Agus, dengan bangganya menunjukkan telor layak konsumsi kepada RHN seakan telor itu contoh dari telor yang dikirim ke GPS, padahal saat team mendapati pengiriman (16/10) yang menurut pengakuan sopir, telor itu kiriman dari Hana Jombang, itu telor yang antara putih dan kuning telor sudah bercampur dan agak berbau busuk. Tidak diduga Indra Staf dari PT. GPS mengakui kalau pengiriman telor tesebut dari Sirat Lamongan dan hendak memutus kerja sama setelah kejadian ini.
( red )







