Malang, restorasihukum.com – Bagi kebanyakan pecinta robot, mengikuti berbagai kompetisi untuk mengasah kemampuan dan menunjukkan kebolehan karya mereka merupakan sebuah cita-cita mutlak. Hal yang sama dirasakan komunitas Otomasi dan Robotika UIN Maliki (Ontaki) ini.
Komunitas ini merupakan wadah mahasiswa pecinta robotika yang sudah dibentuk di bawah FST sejak 2008 yang diketuai oleh Abdul Charis Fuzan (21) yang menempati laboratirium tepatnya di lantai tiga Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang.
Menurut Charis, untuk tahun ini kompetisi seluruh komunitas robot UIN di Indonesia, yaitu Sunan Gunung Jati Robot Competiton 2015. Kompetisi ini merupakan wadah pertama dan satu-satunya bagi komunitas robot di UIN.
Dan dalam kompetisi ini ada dua kategori yaitu robot soccer dan robot desain inovatif. Untuk robot Soccer mereka meghabiskan biaya sekitar Rp 3,5 juta untuk dua robot, sedangkan robot desain inovatif merupaka hasil pendanaan dari universitas tahun 2012, karena harganya yang mencapai puluhan juta.
Sementara Charis juga menjelaskan bahwa, karena daya kekuatannya lebih maksimal, robot soccer yang mereka gunakan adalah yang beroda, meskipun mereka juga memilik yang berkaki.
“Robot soccer ini dibuat dengan dimensi menyerupai mobil remot control yang bagian depannya terdapat wadah untuk menggiring bola. Sedangkan baterai dan otakorbot berada pada bagian tengah robot yang dilindungi rangka,” papar Charis.
Dan setalah mengalami beberapa perubahan dari bebrapa tahun sebelumnya yakni dengan menggunakan air untuk memadamkan api, kini robot pemadam api ini difungsikan dengan penggunaan kipas untuk memadamkan api simulasi yang berasal dari api lilin.
“Pertama kali kami mengikuti kompetisi dan kami mendapat juara satu untuk desain inovatif, sedangkan robot soccer kami kalah saat final melawan UIN Makassar,” ungkap Charis.
Dengan menunjukkan karyanya, Charis mengatakan bahwa, “Ini ada lima robot yang pernah kami buat, tapi kalau yang tidak dalam proyek biasanya sudah dikanibal untuk robot lain. Karena harga komponennya yang mahal,” pungkasnya. (mnf)












