Bikin Merinding! PN Purwokerto Lepas Calon Hakimnya dengan Siraman

0
99

Banyumas, restorasihukum.com – Menjelang pengukuhan resmi oleh Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Sunarto, di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto, Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto menggelar acara pelepasan bagi para calon hakim dari Program Pendidikan Calon Hakim (PPCH) Terpadu Angkatan IV yang telah menyelesaikan masa magang.

Acara yang berlangsung di Ruang Sidang Inklusif PN Purwokerto pada Kamis, 5 Juni 2025 ini dihadiri sembilan calon hakim, yakni:
Eva Syahidah, M. Enaldo Hasbaj, M. Rizki Kurniawan, Novalinda Nadya Putri, Christopher E. G. Hutapea, Hamka Sesario Pamungkas, Ahmad Nuril Ihsan, Rohmat, dan Farrah Erifa Roni.

Kegiatan dimulai dengan pengajian dan tausiyah oleh KH Ahmad Kifni, yang menyampaikan pesan moral dan nilai kehidupan penting sebagai bekal menjadi hakim, seperti sikap rendah hati, sabar, jujur, serta menjunjung tinggi etika profesi.

Usai tausiyah, prosesi pelepasan dilanjutkan dengan penyampaian kesan dan pesan dari keluarga besar PN Purwokerto, termasuk dari hakim mentor Kopsah (Ocha) yang menyampaikan rasa bangga sekaligus haru melepas para mentee-nya.

Ketua PN Purwokerto, Eddy Daulatta Sembiring, juga memberikan pesan mendalam. Ia mengapresiasi kontribusi para calon hakim yang telah memberi semangat baru selama masa magang. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas, profesionalisme, serta membangun relasi baik dengan seluruh elemen di tempat kerja baru, tanpa bersikap eksklusif.

Video kenangan turut diputar, diikuti dengan kesan dan pesan dari masing-masing calon hakim. Salah satu yang menyentuh adalah pernyataan Ahmad Nuril Ihsan yang mengungkapkan bahwa PN Purwokerto telah menjadi rumah kedua baginya, terutama karena jauh dari kampung halaman.

Dalam suasana yang semakin emosional, prosesi siraman kembang digelar sebagai bentuk penghormatan dan penyucian batin sebelum para calon hakim memasuki dunia pengabdian. Dipandu oleh Agung Aji Wijaya, cucuk lampah merangkap pranoto coro, prosesi ini diiringi syair-syair bernuansa spiritual yang ditulis oleh hakim Veronica Sekar Widuri.

Syair tersebut menggambarkan perjalanan calon hakim sebagai jalan sunyi penuh tanggung jawab moral—bahwa menjadi hakim bukan sekadar menjalankan hukum, tetapi juga menjaga nurani dan keadilan dengan kasih sayang serta kebijaksanaan.

Acara ditutup dengan prosesi penghormatan: para calon hakim mencium bendera Merah Putih dan bendera Mahkamah Agung RI sebagai bentuk sumpah dan janji setia terhadap negara dan institusi peradilan.

Momen ini tidak hanya menjadi tanda berakhirnya masa pendidikan, tetapi juga awal dari pengabdian sebagai penjaga keadilan yang jujur, beretika, dan bermartabat. (Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here