Jember restorasihukum.com
Dewan Pimpinan Organisasi Angkutan Darat Cabang Jember, Jawa Timur, menolak instruksi mogok masal. Mereka takut ditunggangi.
Dewan Pimpinan Pusat Organda juga telah mengeluarkan pernyataan menolak kenaikan harga BBM dan menginstruksikan pemogokan masal. Namun Sutikno mengatakan itu bukan aspirasi anggota Organda.
Ketua DPC Organda Jember Sutikno,mengatakan,”Kita tidak tutup mata, di atas (elite politik nasional) ada KIH (Koalisi Indonesia Hebat) dan KMP (Koalisi Merah putih). Saya takut Organda ditunggangi salah satu dari itu. Yang dipakai bemper Organda”.
Dewan Pimpinan Pusat Organda telah mengeluarkan pernyataan menolak kenaikan harga BBM dan menginstruksikan pemogokan masal. Namun Sutikno mengatakan itu bukan aspirasi anggota Organda.
Sutikno mengatakan bahwa Ia setuju jika pengusaha angkutan umum keberatan,tapi tidak harus dengan jalan demo.
Sutikno mengakui di lapangan ada sejumlah awak bus yang menaikkan tarif. “Saya bilang: kamu kalau menaikkan tanpa ada kebijakan pemerintah, berarti melakukan pelanggaran. Terserah situ Kalau mau menaikkan. Tapi kalau ada sanksi pelanggaran ya harus konsekuen,” katanya.
Sutikno memperkirakan kenaikan tarif angkutan bus wajar pada kisaran 20-30 persen,jika lebih dari itu sudah tidak wajar.Sementara itu, Dinas Perhubungan Jember melakukan inspeksi mendadak sejumlah awak bus angkutan antarkota dalam dan luar provinsi di Terminal Tawang Alun.
Dari hasil sidak ini diketahui bahwa tarif naik sekitar tujuh hingga delapan ribu rupiah. Tarif bus ekonomi Jember-Surabaya baik dari Rp 28 ribu menjadi Rp 35 ribu. Sementara tarif bus patas AC Jember-Surabaya naik dari Rp 54 ribu menjadi 65 ribu. Tarif bus Jember-Denpasar naik dari Rp 75 ribu menjadi Rp 85 ribu.(red)












