Kemenekraf dan Kemlu Perkuat Diplomasi Ekonomi Kreatif

0
4

Jakarta, restorasihukum.com – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) melakukan audiensi strategis dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk memperkuat sinergi kelembagaan sekaligus menguatkan narasi ekonomi kreatif Indonesia di tingkat global sebagai bagian dari kepemimpinan Global South.

Menteri Ekonomi Kreatif, Riefky, menegaskan bahwa ekonomi kreatif kini menjadi salah satu instrumen penting dalam strategi diplomasi soft power Indonesia di kancah internasional.

“Sebagai elemen penting dalam Grand Strategy Diplomasi Soft Power Indonesia, ekonomi kreatif telah terbukti menjadi instrumen diplomasi yang efektif. Kemitraan erat dengan Kemlu adalah fondasi utama bagi Indonesia untuk terus memperkuat kepemimpinannya di kancah ekonomi kreatif global,” ujar Riefky, (20/5/2026).

Pertemuan tersebut juga dihadiri Menteri Luar Negeri Sugiono, yang menegaskan pentingnya penguatan kerja sama lintas kementerian dalam memperluas jejaring diplomasi ekonomi kreatif Indonesia.

Dalam pembahasan, kedua kementerian mematangkan persiapan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang akan menjadi forum global untuk merumuskan arah kerja sama ekonomi kreatif dunia, sekaligus membuka peluang investasi dan perluasan akses pasar bagi pelaku industri kreatif nasional.

Menteri Ekraf menyebut kolaborasi dengan Kemlu menjadi kunci dalam memperluas jangkauan diplomasi kreatif Indonesia melalui jaringan perwakilan RI di luar negeri.

“Jaringan kuat Kemlu di tingkat global akan menjadi motor penggerak utama dalam menyukseskan agenda diplomasi kreatif dan memperluas dampak ekonomi nasional,” ujarnya.

WCCE 2026 direncanakan melibatkan lebih dari 80 negara dengan tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”. Konferensi tersebut akan menghadirkan sejumlah agenda utama, mulai dari Friends of Creative Economy (FCE) Meeting, Ministerial Meeting, Plenary Session, Creative Session, Creativillage, hingga pertemuan bilateral dan jamuan resmi.

Kementerian Luar Negeri menyatakan kesiapan mendukung penguatan kerja sama tersebut, terutama dalam mendorong kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan perluasan jejaring global.

Kolaborasi Ekraf dan Kemlu sendiri telah terbangun dalam berbagai forum internasional, termasuk penyelenggaraan WCCE di Bali pada 2018 dan 2022, Dubai pada 2021, serta Tashkent pada 2024. Sinergi ini juga berperan dalam pengajuan resolusi PBB terkait ekonomi kreatif pada 2019 dan 2023, serta kerja sama dengan berbagai organisasi internasional seperti WIPO, OACPS, dan UN DESA.

Di tingkat kerja sama pembangunan, Indonesia juga menjalankan program peningkatan kapasitas bagi 79 negara anggota OACPS melalui skema Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST). Sementara secara bilateral, kerja sama aktif telah terjalin dengan sejumlah negara mitra strategis, termasuk Australia, Belanda, Denmark, Filipina, Thailand, Prancis, dan Inggris.

Kontribusi ekonomi kreatif Indonesia tercatat terus meningkat, dengan sumbangan terhadap PDB mencapai Rp1.611,15 triliun atau 7,28 persen pada 2024. Pada 2025, sektor ini juga mencatat nilai ekspor sebesar 31,94 miliar dolar AS, investasi Rp183,01 triliun, serta penyerapan tenaga kerja mencapai 27,4 juta orang.

Pemerintah menargetkan kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional meningkat menjadi 8,0–8,4 persen pada 2029.(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here