Jakarta, restorasihukum.com — Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap berada di kisaran 5 persen, para pengusaha perempuan di Indonesia didorong untuk memanfaatkan peluang dalam fenomena e-shaped economy yang mencerminkan pertumbuhan tidak merata. Hal tersebut mengemuka dalam forum Women Founders Indonesia by ELLE Magazine: Economic Outlook 2026.
Ketua Komite Tetap Kebijakan Ekonomi Kadin Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menegaskan bahwa kunci keberhasilan bisnis pada 2026 terletak pada ketangkasan membangun ekosistem berbasis kebutuhan konsumen atau pro-demand side.
“Kita punya modal sosial yang kuat. Ibu-ibu di Indonesia adalah manajer krisis terbaik sejak 1998 dan 2008. Pengalaman ini sangat berharga untuk menavigasi bisnis saat ini,” tuturnya.
Menurutnya, pelaku usaha perlu memperkuat efisiensi internal di tengah tekanan biaya produksi dan kompleksitas regulasi. Simplifikasi rantai pasok dan operasional dinilai menjadi langkah strategis agar bisnis tetap kompetitif di tengah fluktuasi harga bahan baku.
Pendekatan berbasis permintaan juga dinilai penting sebagai bentuk empati terhadap konsumen. Dalam kondisi daya beli yang masih beradaptasi, pelaku usaha yang mampu menghadirkan nilai tambah serta insentif menarik berpeluang memenangkan pasar.
Telisa juga menyoroti ketangguhan perempuan Indonesia dalam menghadapi krisis. Ia menyebut pengalaman perempuan, khususnya para ibu, dalam mengelola ekonomi rumah tangga saat krisis 1998 dan 2008 menjadi modal sosial yang kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.
Sementara itu, Sia Nawir mengingatkan adanya potensi tekanan baru bagi dunia usaha, seperti meningkatnya negosiasi harga dari konsumen hingga tren penundaan pembayaran yang dapat mengganggu arus kas perusahaan.
Dalam forum tersebut, Kuki Soejachmoen turut menekankan pentingnya kolaborasi antar pelaku usaha perempuan. Ia menilai penguatan literasi keuangan serta dukungan dalam ekosistem Women Founders menjadi kunci agar pelaku usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Dengan strategi adaptif dan kolaboratif, pengusaha perempuan diharapkan mampu memanfaatkan momentum ekonomi 2026 sekaligus mendorong pemerataan manfaat pertumbuhan di berbagai lapisan masyarakat.(Red)













