Pasuruan restorasihukum.com
Meski sampai saat ini masih belum diketahui motif yang mendasari Mukhlis melakukan bunuh diri dengan melompat dari tower setinggi 60 meter,namun, di lingkungan sekolahnya Mukhlis dikenal sebagai sosok yang baik dan taat beribadah.
Zainal Arifin ayah Mukhlis, mengatakan, bahwa sebelum kejadian korban sempat dilarang ibunya masuk sekolah.Menurut pengakuan Alifudin Ketua Kelas dari korban mengatakan bahwa sekitar dua minggu terakhir ini, Mukhlis mulai sering tidak masuk sekolah. Namun ketika masuk sekolah, Mukhlis lebih banyak tidur di dalam kelas saat pelajaran berlangsung.
“Sekitar dua bulan yang lalu, Mukhlis mengaku mendengar suara-suara seperti bisikan yang mengatakan dirinya kafir. Sejak itulah dia tampak seperti orang bingung. Sehingga dari situlah kami berusaha membawanya ke dokter,” ucap Zainal saat ditemui restorasihukum.com di rumahnya.
Ayah Muklis sudah berusaha mengobati Mukhlis dengan membawanya ke pengobatan alternatif. Namun, tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Sebab dari pengobatan itu Mukhlis justru berubah menjadi sering melamun dan diam.
Sementara itu, istrinya, Muffida menambahkan, kalau dirinya sempat melarang anaknya itu untuk masuk sekolah karena alasan kondisi Mukhlis yang belum baik. Akan tetapi, dikarenakan Mukhlis mengaku sudah tidak ada apa-apa, akhirnya Muffida mengizinkan. “Waktu itu dia bilang sudah tidak apa-apa, jadinya saya bolehkan dia masuk untuk ke sekolah,” jelasnya.
Di kethui Muhlis (17) seorang siswa SMP Muhammadiyah Bangil, Kabupaten Pasuruan yang tewas mengenaskan itu adalah sosok pendiam,santun dan taat beribadah.(red)








