Tito Karnavian: Pertarungan Dunia Kini di Bidang Ekonomi

0
105

Palembang, restorasihukum.com – Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sriwijaya (Unsri), Jenderal Polisi (Purn) Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D, menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam menghadapi tatanan dunia baru dan mendukung visi Indonesia Emas 2045. Hal itu disampaikannya dalam orasi ilmiah bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Indonesia Emas 2045” (3/11/2025).

Tito menjelaskan bahwa dunia kini tengah mengalami pergeseran paradigma global, di mana kekuatan suatu negara tidak lagi ditentukan oleh militer semata, tetapi oleh ekonomi, budaya, dan pengetahuan.

“Banyak hal kini diselesaikan bukan dengan kekuatan militer, tapi melalui ekonomi, perdagangan, sosial, dan budaya. Pertarungan yang paling menentukan saat ini adalah pertarungan ekonomi,” ujar Tito.

Menurut Tito, negara yang mampu memproduksi barang dan jasa secara masif, menguasai rantai pasok global, dan membanjiri pasar internasional akan menjadi pengendali ekonomi dunia.

Ia merujuk pada pemikiran Prof. Sait Yilmaz yang menyebut empat faktor penentu kekuatan produksi suatu negara: angkatan kerja besar, sumber daya alam melimpah, wilayah luas, dan letak geografis strategis.

Dengan modal tersebut, Tito menilai hanya sejumlah negara yang berpotensi menjadi kekuatan dominan dunia: China, India, Amerika Serikat, Rusia, dan Indonesia.

Ia optimistis, Indonesia memiliki peluang menjadi kekuatan ekonomi dunia keempat pada 2045, setelah China, India, dan AS. Namun, menurut Tito, keberhasilan ini tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam. Kunci utama adalah kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama di era bonus demografi, di mana 68,95% populasi Indonesia berada pada usia produktif.

“Negara maju bukan karena SDA, tapi karena SDM-nya. Bonus demografi harus diarahkan melalui pendidikan agar menjadi kekuatan produktif,” tegas Tito.

Tito mencontohkan keberhasilan Singapura di bawah Lee Kuan Yew, yang menjadi negara maju tanpa kekayaan sumber daya alam, berkat pendidikan unggul dan program beasiswa bagi generasi terbaik.

Ia menilai arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, melalui program pendidikan dan kesehatan rakyat seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan beasiswa kedokteran.

Tito menekankan bahwa perguruan tinggi harus lebih dari sekadar menara gading, melainkan menjadi penggerak inovasi dan transformasi nasional.

“Perguruan tinggi harus bertransformasi. Dunia berubah cepat, dan kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus jadi pemain utama dalam tatanan global baru,” kata Tito.

Dosen Hukum Internasional Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Triyana Yohanes, menilai pandangan Tito relevan dengan kondisi global saat ini dan bisa menjadi pijakan kebijakan luar negeri Indonesia. Ia menyebut, Tito berhasil menghadirkan narasi strategis berbasis paradigma konstruktivisme, yang menekankan penguatan ekonomi, pengetahuan, dan tata kelola bersih dibanding dominasi militer semata.

Triyana menekankan, Tito menyampaikan pesan moral penting yang menjadi kekuatan dominan dunia pada 2045.

“Pembangunan hukum dan tata kelola bersih harus menjadi fondasi. Tanpa itu, potensi besar yang disampaikan Tito akan sulit diwujudkan,” pungkas Triyana.(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here