Jaga Semangat Belajar Siswa, Satgas PRR Kebut Renovasi Fasdik Terdampak Bencana

0
49

Jakarta, restorasihukum.com – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir tahun lalu menyebabkan ribuan fasilitas pendidikan (fasdik) terdampak.

Berdasarkan data Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, tercatat sebanyak 4.922 unit fasdik mengalami kerusakan.

Aceh menjadi wilayah dengan jumlah fasdik terdampak terbanyak, yakni 3.120 unit. Disusul Sumatera Utara dengan 1.149 unit, serta Sumatera Barat sebanyak 653 unit. Meski sempat terganggu, proses belajar-mengajar di ketiga daerah kini telah kembali berjalan normal hingga mencapai 100 persen.

Satgas PRR terus menggenjot proses pemulihan, terutama bagi sekolah yang masih menjalankan pembelajaran di tenda darurat, ruang sementara, atau menumpang di sekolah lain. Ketua Satgas PRR Tito Karnavian mengakui bahwa kondisi pembelajaran di sejumlah lokasi masih belum sepenuhnya ideal.

Menurut Tito, upaya rehabilitasi terus dilakukan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Bahkan, lebih dari 1.000 fasilitas pendidikan telah masuk dalam perjanjian kerja sama untuk direnovasi dengan skala prioritas, terutama bagi bangunan yang mengalami kerusakan berat.

“Mendikdasmen menyampaikan lebih dari 1.000 fasilitas pendidikan sudah perjanjian kerja sama untuk melakukan perbaikan. Namun, dilakukan berdasarkan prioritas kerusakan,” ujar Tito.

Di tengah keterbatasan tersebut, semangat belajar para siswa tetap tinggi. Salah satunya ditunjukkan oleh Nuraiche, siswa SMA Negeri 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Meski sekolahnya masih terdampak bencana, ia tetap antusias mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Sebagai siswa kelas 12, Nuraiche bersama rekan-rekannya kini fokus mempersiapkan diri menghadapi Ujian Kelas Akhir (UKA) yang dijadwalkan berlangsung pada 13 April 2026.

“Kami tetap belajar seperti biasa, karena juga mau ujian,” ujarnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Hasanah, menjelaskan bahwa persiapan ujian tetap berjalan meskipun dalam kondisi darurat. Sebanyak 92 siswa kelas 12 akan mengikuti ujian yang mencakup 14 mata pelajaran.

Sekolah telah menyediakan kisi-kisi soal sebagai panduan belajar, serta menggelar pembahasan materi secara intensif melalui peran wali kelas dan program bimbingan belajar tambahan.

“Kami sudah mengadakan bimbingan belajar agar persiapan siswa lebih maksimal,” ujar Hasanah.

Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para siswa. Tekad untuk menyelesaikan pendidikan menjadi motivasi utama, menunjukkan bahwa semangat belajar tetap tumbuh meski di tengah kondisi bencana.(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here