Habis Bencana Terbitlah Harapan, Masyarakat Tanah Datar Bangkit dengan UMKM

0
104

Tanah Datar, restorasihukum.com – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Kini, dua bulan setelah bencana, kehidupan masyarakat mulai pulih, khususnya di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Warga terdampak berusaha bangkit, memulihkan usaha, dan memanfaatkan potensi lokal demi kemandirian ekonomi.

Bangkit dari UMKM dan Perikanan

Basri, seorang pengepul sekaligus pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ikan bilih (Mystacoleucus Padangensis) di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, menjadi contoh kebangkitan ekonomi lokal.

Pada awal bencana, kualitas ikan bilih menurun karena sungai dan danau terdampak banjir bandang. Basri memutuskan sementara waktu untuk tidak menerima pasokan dari nelayan. Namun, beberapa minggu kemudian, produksi ikan meningkat pesat dari rata-rata 15 kilogram per hari menjadi 200 kilogram per hari. Lonjakan produksi ini memungkinkan Basri mempekerjakan 15 orang untuk mengolah ikan, dibanding sebelumnya hanya 3–4 orang.

Harga beli ikan dari nelayan bervariasi antara Rp50–60 ribu per kilogram saat pasokan banyak, dan bisa mencapai Rp100 ribu saat langka. Basri menjual ikan ke pasar lokal serta ke Depok, Jawa Barat, dan Dumai, Riau. Melalui usahanya, ia tidak hanya menyekolahkan anak, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Beberapa minggu setelah tidak menerima pasokan ikan, justru membawa keberkahan bagi kami. Produksi melonjak, dan banyak masyarakat bisa terbantu dengan pekerjaan tambahan,” ujar Basri.

Semangat Petani Manggis Tak Menyerah

Semangat kebangkitan juga terlihat dari Bustami, petani manggis di Nagari Malalo. Jalan utama menuju perkebunannya terputus akibat banjir, memaksa ia berjalan kaki sejauh dua kilometer melewati aliran sungai kering, bebatuan besar, dan jalan setapak terjal untuk membawa hasil panen.

Bustami memanen 100 kilogram manggis per hari dan harus menggendong 40 kilogram sekaligus dari kebun ke jalan utama. Hasil panen dijual ke pengepul dengan harga Rp 27 ribu per kilogram. Sebelumnya, panen rata-rata mencapai 200–300 kilogram, namun sebagian buah rusak atau dimakan monyet setelah bencana.

“Awal-awal bencana, kami sama sekali tidak memikirkan panen karena trauma dan khawatir banjir susulan. Tapi kini kami mulai bangkit,” ujar Bustami.

Selain manggis, Bustami tetap bekerja sebagai petani sawah dan buruh proyek di desanya untuk mendukung kehidupan keluarganya.

Pemulihan Ekonomi Melalui Pariwisata

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menyiapkan berbagai agenda pariwisata untuk memulihkan ekonomi pascabencana. Sebagai salah satu destinasi budaya internasional, Tanah Datar mengandalkan kesenian dan tradisi lokal sebagai daya tarik wisata.

Beberapa agenda yang disiapkan antara lain:

  1. Pacu Jawi: Tradisi balapan sapi di lintasan berlumpur, digelar setiap Sabtu.
  2. Pacu Kuda: Dijadwalkan pada 8–9 Februari 2026 di Lapangan Dang Tuanku Bukik Gombak, Kecamatan Lima Kaum.
  3. Manjalo Ikan Bilih: Atraksi menangkap ikan endemik Danau Singkarak, memadukan keterampilan dan tradisi lokal.

Bupati Tanah Datar, Eka Putra, optimistis agenda pariwisata ini dapat mempercepat pemulihan ekonomi dan membangkitkan semangat masyarakat.

“Kami harus bangkit dari bencana ini. Agenda wisata menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga tradisi lokal agar tetap hidup,” ujar Eka Putra.

Dua bulan pascabanjir, masyarakat Tanah Datar perlahan menata kembali kehidupan. Dari UMKM ikan bilih, pertanian manggis, hingga pelaksanaan agenda wisata, warga menunjukkan ketangguhan dan kreativitas untuk pulih.

Cerita Basri dan Bustami menjadi bukti nyata bahwa, meski bencana memporak-porandakan kehidupan, semangat untuk bangkit, bekerja keras, dan memanfaatkan potensi lokal tetap mengalir di nadi masyarakat Tanah Datar.

“Berbagai upaya ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak akan selamanya terjebak dalam bayang-bayang bencana. Kita mulai menatap masa depan dengan optimisme dan kerja keras,” pungkas Bupati Eka Putra.(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here