Pidie Jaya, restorasihukum.com – Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera bergerak cepat merespons musibah banjir yang menerjang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pada Selasa (13/10/2026), tim Satgas PRR resmi menyalurkan paket bantuan kemanusiaan kepada 31 kepala keluarga (KK) yang terdampak musibah di Gampong Glumpang Tutong, Kecamatan Meureudu.
Eksekusi penyaluran bantuan ini dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Koordinator Wilayah (Wakakorwil) Aceh I Satgas PRR, Uus Rohimat. Ia menegaskan bahwa langkah tanggap darurat tersebut merupakan amanah sekaligus wujud empati mendalam dari Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, guna meringankan beban masyarakat di masa krisis.
“Kami menyampaikan amanah dan bentuk empati dari Bapak Tito Karnavian. Beliau berpesan agar masyarakat senantiasa menjaga semangat, tetap sehat dalam menjalani hidup, serta tidak putus ikhtiar,” tegas Uus saat menyerahkan bantuan kepada warga.
Uus berharap tali asih yang disalurkan dapat menjadi penguat moral bagi para korban banjir. Menurutnya, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat tidak boleh sekadar diukur dari nilai material, melainkan dari manfaat serta eratnya ikatan emosional yang terbangun antara negara dan warganya pascabencana.
Penyaluran logistik ini dieksekusi melalui mekanisme koordinasi ketat dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya guna memastikan validitas data penerima. Dalam pelaksanaannya, Satgas PRR mengucurkan dukungan dana taktis sebesar Rp25 juta kepada pemerintah daerah setempat untuk dikonversi menjadi paket kebutuhan pokok darurat.
Paket logistik yang didistribusikan mencakup sembilan instrumen kebutuhan dasar, yang terdiri atas beras, telur, gula, minyak goreng, mi instan, air mineral, biskuit, susu, dan teh celup, beserta sejumlah perlengkapan dapur.
Bantuan komprehensif ini merupakan respons atas meluapnya air pasca-hujan lebat yang merendam permukiman warga Gampong Glumpang Tutong pada Minggu (11/10/2026) lalu. Kehadiran Satgas PRR bersama Pemda diharapkan mampu menjadi katalis pemulihan kondisi sosial masyarakat, sekaligus mempertebal rasa kebersamaan dalam memulihkan roda kehidupan pascabencana. (Red)












