Mendagri Tito Minta Calon Pemimpin Polri Susun Kebijakan Berbasis Sains dan Data

0
3

Jakarta, restorasihukum.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta peserta Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri membiasakan diri menggunakan pendekatan berbasis sains dan data dalam mengambil keputusan serta menyusun kebijakan.

Hal tersebut disampaikan Tito saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan Sespim Lemdiklat Polri di Gedung Tribrata Convention Center Dharmawangsa, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Tito mengatakan, peserta Sespim merupakan calon pemimpin strategis yang nantinya akan menghadapi berbagai persoalan dan dituntut mengambil keputusan secara cepat serta tepat. Karena itu, setiap persoalan perlu dipahami melalui referensi, pengumpulan data, dan analisis menggunakan metodologi yang sesuai.

“Setiap pengambilan keputusan, saya minta rekan-rekan selalu mengambil keputusan berbasis science, berbasis data,” ujar Tito.

Menurutnya, pendidikan formal tidak hanya bertujuan memperoleh gelar, tetapi juga membentuk pola pikir ilmiah. Pada jenjang sarjana, seseorang dilatih mengubah kebiasaan mengambil keputusan berdasarkan perasaan menjadi pendekatan yang sistematis.

“Jadi, targetnya S1 itu hanya untuk mengubah cara berpikir, mengambil keputusan yang tadinya hanya feeling-feeling-an menjadi berbasis systematic science, ilmiah,” tegasnya.

Tito menjelaskan, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin kompleks kemampuan yang perlu dimiliki, mulai dari mencari referensi, menguasai metodologi, menganalisis data, hingga menarik kesimpulan. Kemampuan tersebut dinilai penting bagi pemimpin dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

Selain kemampuan akademik, Tito mengingatkan peserta Sespim mengenai pentingnya membangun kepemimpinan yang kuat. Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kewenangan atau kekuasaan, tetapi juga harus mampu menyusun konsep dan menentukan arah yang jelas bagi organisasi.

“Strong leader itulah leader yang tidak hanya memiliki power, kekuasaan. Kita nanti memiliki kekuasaan, kapolres, kapolda, kajati, kajari, [atau] mungkin menjadi komandan di TNI, tapi power is not enough,” tuturnya.

Ia menilai pengetahuan menjadi salah satu kunci dalam membentuk pemimpin yang mampu berpikir secara konseptual. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman, pembelajaran dari orang lain, serta membaca berbagai referensi.

“Makin rajin membaca, makin banyak membaca, makin banyak knowledge, maka ketika menghadapi problem, kita akan memiliki referensi yang banyak, tinggal menambah data, terus bisa mengambil keputusan. Itulah, pemimpin yang kuat, strong leader, dia harus memiliki konsep,” jelasnya.

Tito juga mendorong peserta untuk memperluas pengalaman pendidikan, termasuk dengan memanfaatkan kesempatan belajar di luar negeri. Menurutnya, pendidikan di negara maju dapat memberikan tambahan pengetahuan sekaligus memperkenalkan budaya dan membangun jejaring internasional.

“Kalau sekolahnya luar negeri, apalagi negara maju, negara yang disiplin, less corrupt, keunggulannya kita bisa mendapatkan budaya itu tertular ke kita,” pungkasnya.(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here