Jakarta, restorasihukum.com – Pada 28 September 2025 Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengajak masyarakat untuk membangun pola hidup rendah emisi sebagai bagian dari upaya menanggulangi polusi udara dan pemanasan global.
Pesan ini disampaikan saat Bima menjadi pembicara dalam kegiatan “Jejak Langkah untuk Udara Bersih” di Twin House, Blok M, Jakarta, Minggu (28/9/2025).
“Kita tidak lagi bicara global warming, tapi sudah global boiling. Ini bukan isu masa depan—ini krisis hari ini,” tegas Bima, merujuk pada pernyataan Sekjen PBB tentang meningkatnya suhu global yang ekstrem.
Transportasi Jadi Perhatian Khusus
Bima memaparkan, sektor industri pengolahan, listrik dan gas, serta pertanian masih menjadi penyumbang emisi karbon terbesar. Namun, sektor transportasi, yang berada di urutan keempat secara nasional, dinilai paling dekat dengan kehidupan masyarakat dan perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah.
Sumber: restorasihukum.com 
“Transportasi publik yang ramah lingkungan itu bukan hanya soal emisi. Ini juga menyangkut kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pengeluaran masyarakat Indonesia untuk transportasi mencapai 12,46% dari total biaya hidup, melebihi batas aman yang direkomendasikan Bank Dunia sebesar 10%.
Belajar dari Kota Bogor
Bima turut membagikan pengalamannya saat menjabat Wali Kota Bogor, di mana ia menginisiasi kebijakan sehari tanpa kendaraan bermotor dan kampanye bersepeda ke kantor.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat terhadap transportasi harus dibangun melalui pendekatan sistemik yang melibatkan aktor (masyarakat), struktur (sistem transportasi), dan kultur (budaya).
“Saya percaya bahwa membangun budaya harus dimulai dari pembangunan infrastruktur,” ungkapnya.
Ia mencontohkan transformasi angkot di Bogor yang dilakukan melalui pengorganisasian badan hukum, pengaturan standar layanan, dan sistem operasi berbasis rute tetap, yang kemudian melahirkan layanan Trans Pakuan, versi TransJakarta untuk Bogor.
Transportasi Publik Bukan Sekadar Mobilitas
Di akhir pemaparannya, Bima menekankan bahwa transportasi umum memiliki dampak sosial yang luas. Selain membantu mengurangi emisi, moda transportasi ini menjadi ruang interaksi sosial yang penting.
“Transportasi publik menambah empati, memperluas jaringan, dan membangun kepekaan sosial,” tutupnya.(Red)













